KELANGKAAN ELPIJI : Tak Libatkan Pemkab, OP Kembali Digelar

Warga antre membeli elpiji tabung 3 kg saat operasi pasar (OP) di Balai Desa Ngringo, Karanganyar, Selasa (12/5/2015). Operasi pasar tersebut digelar pemerintah daerah bersama Himpunan Pengusaha Minyak dan Gas (Hiswana Migas) untuk mengatasi kelangkaan dan mengontrol harga elpiji kemasan tabung ini 3 kg. Setiap warga dalam operasi pasar itu bisa membeli elpiji 3 kg dengan harga Rp15.500/tabung. Meski demikian, setiap warga hanya diperbolehkan membeli sebanyak-banyaknya dua tabung. (Reza Fitriyanto/JIBI - Solo
18 Mei 2015 21:20 WIB Arief Junianto Bantul Share :

Kelangkaan elpiji, selama beberapa kali melakukan operasi pasar di Bantul, Pemkab belum sekali pun diajak koordinasi oleh PT Pertamina

Harianjogja.com, BANTUL—Setelah digelar di tiga titik di Kecamatan Banguntapan, operasi pasar (OP) gas elpiji 3 kg kembali akan digelar oleh PT. Pertamina di wilayah Kabupaten Bantul. Rencananya, PT. Pertamina akan melaksanakan OP gas bersubsidi itu di Kecamatan Dlingo dan Srandakan. Seperti sebelumnya, OP itu murni inisiatif dari PT. Pertamina tanpa melibatkan Pemkab Bantul.

Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian, Perdagangan Koperasi dan Penanaman Modal (Disperindagkop-PM) Kabupaten Bantul, Sahadi Suparjo mengungkapkan, pihaknya sudah mendapat pemberitahuan melalui Himpunan Pengusaha Swasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) yang
mengatakan Senin (18/5) ini PT. Pertamina kembali akan melaksanakan operasi pasar gas 3 kg di Kecamatan Dlingo dan Srandakan. Masing-masing kecamatan akan mendapatkan alokasi sekitar 560 tabung gas.

"Iya benar, akan ada operasi pasar lagi," katanya, Minggu (17/5/2015).

Ia mengatakan, selama beberapa kali melakukan operasi pasar di Bantul, Pemkab belum sekali pun diajak koordinasi oleh PT Pertamina. Pemkab hanya menerima informasi melalui pemberitahuan
yang dilakukan oleh Hiswana Migas saja.

"Harusnya ada koordinasi dengan kami [Disperindagkop-PM]," ujarnya.

Meski begitu, ia tetap berterima kasih dengan langkah yang diambil oleh PT Pertamina dengan melakukan operasi pasar tersebut. Hanya saja, ia berharap alokasi untuk operasi pasar tersebut merupakan murni kuota tambahan yang diberikan oleh PT. Pertamina kepada Kabupaten Bantul.
Dengan begitu, jatah OP itu tidak mengurangi kuota tabung untuk Kabupaten Bantul selama 2015 ini.

"Sampai sekarang kami belum tahu yang digunakan untuk operasi itu murni kuota tambahan atau diambilkan dari jatah kabupaten Bantul selama 2015,”ujarnya.

Dia khawatir, jika OP itu mengambil jatah kuota untuk Bantul, akan mengganggu ketersediaan gas melon di akhir 2015 nantinya. Pasalnya, di akhir tahun permintaan gas 3 kg akan mengalami
kenaikan. Terlebih akan banyak libur panjang serta masih ada dua hari raya Islam yaitu Idulfitri dan Iduladha.

"Biasanya pada hari raya itu terjadi lonjakan konsumsi gas 3 kg," katanya.

Sementara itu, pemilik pangkalan di Sidomulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Zahrowi mempertanyakan peran Disperindagkop yang tak mampu mengontrol kenaikan harga gas 3 kg di wilayahnya. Sebab, instansi tersebut memiliki kewenangan untuk mengendalikan harga gas 3
kg di pasaran dengan berbagai kebijakan.

"Disperindagkop harus dievaluasi. Bagaimana perannya saat ini dalam distribusi gas," katanya.

Meski mengklaim tidak ada kelangkaan, kenyataannya banyak masyarakat yang mengeluhkan susahnya mendapatkan gas 3 kg. Bahkan, gas 3 kg tersebut dijual dengan harga selangit meskipun ia mengklaim masih menjual sesuai dengan harga eceran tertinggi (HET) yang diberikan oleh pemerintah sebelumnya. Sehingga ia menuntut agar Disperindagkop berperan aktif dalam mengendalikan barang bersusbidi yang menguasai hajat hidup orang banyak tersebut.