BANGUNAN CAGAR BUDAYA : Karena Air, Candi Kalasan Lapuk

Petugas laboran Balai Pelestarian Cagar Budaya (PBCB) Yogyakarta mengamati atas Candi Kalasan yang hanya ditutupi dengan lapisan polikarbonat, Rabu (27/5/2015). (JIBI/Harian Jogja - Bernadheta Dian Saraswati)
29 Mei 2015 09:20 WIB Bernadheta Dian Saraswati Sleman Share :

Bangunan cagar budaya berupa Candi Prambanan lapuk karena terkena air hujan atau air tanah.

Harianjogja.com, SLEMAN-Proses pengkajian pada konstruksi Candi Kalasan yang terus mengalami pelapukan sedang dilakukan. Hasil kajian sementara, proses pelapukan itu disebabkan terpaan air baik air hujan maupun air tanah.

Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Yogyakarta, Tri Hartono menjelaskan konstruksi Candi Kalasan berbeda dengan Candi Prambanan dan candi lainnya.

"Dahulu orang Belanda menggunakan perekat semen untuk menyatukan batu yang satu dengan lainnya. Padahal semen itu mengandung kapur," jelas Tri di ruangannya, Rabu (27/5/2015) pagi.

Karena Candi Kalasan tidak memiliki stupa dan lubang bagian atas hanya ditutup dengan lapisan polikarbonat, maka air hujan bebas masuk ke candi hingga bagian bawah. Ada yang merembes melalui sela-sela batu adapula yang masuk melalui ruang antara polikarbonat dengan batu bagian atas.

"Karena ada kandungan kapur di bebatuannya lalu kena air hujan yang menyebabkan jadi senyawa atau penggaraman maka batu mengelupas dan melapuk," jelas Tri.

Kondisi itu semakin diperparah dengan air tanah yang saat musim hujan kerap menggenangi kawasan candi. "Ternyata tidak hanya air dari atas [air hujan] tetapi juga [air tanah] dari bawah itu naik," tegasnya.

Kepala Kelompok Kerja (Kapokja) Pemeliharaan BPCB, Harry Trisatya Wahyu menjelaskan bahwa posisi Candi Kalasan yang terletak di bawah permukaan jalan raya dan tanah penduduk memudahkan air masuk ke areal candi. "Kalau musim hujan, candi terendam sekitar 40 centimeter," kata Harry. Hal itu diperparah dengan saluran irigasi di sekitar candi yang tak mampu menampung air sehingga menyebabkan air meluap masuk ke candi.

Harry menuturkan, banyak batu mengalami rekahan, utamanya pada bagian atas. Rekahan dan pergeseran batu itu terjadi mulai gempa Jogja 2006. Akibatnya posisi candi saat ini miring 1 derajat terutama pada bilik barat dan timur candi.

Untuk memperbaiki, Harry yang dalam proses pengkajian ini bertindak sebagai koordinator Tim Kajian Konservasi Pelestarian Candi Kalasan akan memilih alat perekat yang sesuai dengan sifat bebatuan Candi Kalasan.

Ia mengatakan, saat Candi Prambanan mengalami perekahan akibat gempa, teknis pengisian sela-sela batu (nat) menggunakan salah satu perekat yang memiliki daya perekat kuat. "Akibatnya  ketika mengalami getaran, alat perekatnya masih utuh sedangkan batunya malah pecah. Maka untuk Candi Kalasan ini akan dipilih alat perekat yang ramah dengan candi," katanya.

Proses pengkajian akan dilakukan hingga 15 Juni. Sementara penanganannya baru akan dilaksanakan tahun depan. Harry mengatakan, jika Candi Kalasan tetap dibiarkan maka dalam waktu lima tahun ke depan masih bisa dipastikan aman. Namun akumulasi kerusakan baru bisa dirasakan 50-an tahun ke depan. "Secara gaya gravitasi kuat tapi gaya samping tidak kuat karena dua bilik candi di barat dan timur tidak kuat. Lama-lama akan motrok [turun]," jelasnya.

Candi Kalasan yang merupakan candi Budha tertua di DIY-Jateng ini memiliki ketinggian 35 meter dari permukaan tanah. Salah satu keunikan yang membedakan Candi Kalasan dengan candi lainnya terletak pada struktur relief yang dilapisi brajalepa. Lapisan ini membuat relief menjadi mengkilat terutama jika terkena paparan sinar bulan purnama.