LALU LINTAS GUNUNGKIDUL : Jalur Alternatif Rawan Kecelakaan

JIBI/Harian Jogja/Desi SuryantoPekerja membersihkan rumput yang tumbuh pada pembatas jalan di sepanjang Jalan Lingkar Selatan, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Senin (29/06 - 2015). Perawatan pembatas jalan juga meliputi pengecatan agar lebih terlihat pada malam hari. Jalur Lingkar Selatan Yogyakarta menjadi jalur alternatif yang cukup nyaman bagi pemudik dari arah barat yang akan menuju sejumlah kota seperti Solo, Wonogiri dan Pacitan semetara untuk ke arah barat menuju Purworejo, Kebumen, Purwokerto.
29 Juli 2015 03:20 WIB Uli Febriarni Gunungkidul Share :

Lalu lintas Gunungkidul selama operasi ketupat memiliki sejumlah jalur alternatif.

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-Selama masa Operasi Ketupat Progo Lebaran 2015 yang diselenggarakan oleh Kepolisian Resor (Polres Gunungkidul) mulai 10 Juli hingga 25 Juli 2015, sejumlah jalur alternatif di Kabupaten Gunungkidul dinilai rawan kecelakaan.

Hal tersebut disampaikan oleh Kapolres Gunungkidul, AKBP Hariyanto, pada Senin (27/7/2015). Ia mengatakan, secara umum jumlah kecelakaan yang terjadi selama libur mengalami penurunan. Hanya saja, diketahui kecelakaan terjadi mayoritas bukan di jalur utama yang digunakan para pemudik atau akses utama para pengguna jalan, melainkan di jalur alternatif.

Padahal, pihaknya sudah melakukan antisipasi seperti pemasangan rambu-rambu, petunjuk jalan dan penempatan personel kepolisian Satuan Lalu Lintas di tiap penggal jalan. Untuk rambu, bukan hanya diupayakan oleh Satlantas Polres Gunungkidul, namun juga telah berkoordinasi dengan instansi lain terkait, misalnya Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika. Untuk infrastruktur jalan juga telah berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum.

AKBP Hariyanto menduga, terjadinya kecelakaan di jalur alternatif lebih disebabkan sikap pengendara yang terburu-buru, sehingga kurang mengutamakan kehati-hatian, sehingga kecelakaan terjadi.

"Seluruh upaya telah kita lakukan, jadi tinggal dari pihak pengendara, apakah bisa mengatur diri untuk mematuhi rambu lalu lintas, mengatur emosi, dan mengendalikan kendaraan," paparnya.

Untuk ke depan, sambungnya, kondisi yang ada selama Ops Ketupat Progo 2015 menjadi evaluasi bagi Polres Gunungkidul. Meski angka kecelakaan menurun, pihaknya harus tetap melakukan sejumlah antisipasi yang lebih kuat lagi pada gelaran Ops Ketupat Progo 2016.

Kepala Urusan Humas Polres Gunungkidul, Iptu Ngadino menyebutkan, dibandingkan 2014, jumlah angka kecelakaan mengalami penurunan. Apabila pada 2014 terdapat 23 kecelakaan, dengan korban Meninggal Dunia (MD) sebanyak satu orang, luka berat tiga orang, luka ringan 30 orang, dengan total kerugian material Rp10.750.000, Pada 2015 ada 22 kecelakaan, dengan korban MD satu orang, luka ringan sebanyak 31 orang dan tidak ada korban dengan luka berat.

"Dari 22 kejadian kecelakaan lalu lintas, 16 di antaranya terjadi di jalur non mudik (alternatif), enam lainnya di jalur mudik (utama). Faktor 'human error', misalnya kurang hati-hati," ungkapnya.

Di samping kasus kecelakaan lalu lintas, Iptu Ngadino menerangkan ada sejumlah kejadian kriminal menonjol selama Ops Ketupat Progo 2015. Yakni pembunuhan kepada korban bernama Supartilah oleh tersangka Ngadiman pada Jumat,17 Juli 2015, di Ladang Cingkrang, Tepus. Motif pembunuhan, karena korban meminta dinikahi oleh tersangka, namun tersangka menolak. Selain itu pencurian kendaraan motor, dengan korban warga Trimulyo II, Kepek, Wonosari. Disebabkan motor yang ditinggal tidur oleh pemilik, dalam posisi kunci ada di dashboard motor. Kondisi pintu belum memiliki daun pintu.