MITIGASI BENCANA : Hadapi Bencana, Kendalikan Rasa Panikmu, Ini Caranya

Para mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) IKIP PGRI Wates berlatih memberikan pertolongan pertama pada korban bencana alam di halaman kampusnya, Sabtu (30/1/2016) kemarin. (Rima Sekarani I.N/JIBI - Harian Jogja)
01 Februari 2016 07:21 WIB Rima Sekarani Kulonprogo Share :

Mitigasi bencana salah satunya dilakukan dengan mengendalikan rasa panik

Harianjogja.com, KULONPROGO-Sikap panik saat terjadi bencana alam cenderung hanya memperbesar rasa takut dan membuat seseorang tidak mampu berpikir jernih. Kepanikan berlebihan sebaiknya dihindari agar seseorang mampu menghadapi dan menanggulangi dampak bencana tersebut.

Kepanikan dalam diri bisa dikendalikan jika telah memiliki pengetahuan dan wawasan yang cukup mengenai berbagai bencana alam dan cara penanggulanannya. Hal itu, salah satunya bisa dibentuk melalui pelatihan dan simulasi mitigasi bencana.

“Tantangan terbesarnya memang mengatasi rasa panik. Kalau panik, rasanya kita jadi tidak bisa apa-apa selain bingung dan takut,” ungkap mahasiswa IKIP PGRI Wates, Dini Arlinda, usai mengikuti kursus mahir dasar Pramuka di halaman kampusnya, Sabtu (30/1/2016).

Bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Kulonprogo, peserta kursus diajari tentang keterampilan memberikan pertolongan pertama kepada korban bencana alam. Dini mengakui dilatih cara mengobati berbagai macam luka, termasuk luka bakar.

Dini berharap bisa benar-benar menerapkannya jika terjadi bencana maupun memberikan pertolongan pertama kepada korban kecelakaan lainnya. “Jadi kalau benar-benar ada bencana, kita bisa siap siaga dan tidak panik karena tahu cara menanganinya,” kata Dini.

Perwakilan PMI Kulonprogo, Indrati Sayito mengungkapkan, peserta pelatihan hari itu adalah para mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) dari IKIP PGRI Wates yang merupakan calon pembina pramuka di sekolah.

Menurutnya, salah satu kompetensi yang wajib dimiliki adalah keterampilan memberikan pertolongan pertama pada kondisi darurat. Hal itu karena mereka harus mengajarkannya kepada peserta didik yang akan dibina nanti.

Indrati memaparkan, para peserta sebelumnya sudah diberikan materi seputar pengetahunan tentang pertolongan pertama pada kondisi darurat. Mereka dilatih cara mengobati luka terbuka dan tertutup, baik yang disertai pendarahan maupun tidak, hingga menangani patah tulang. “Kami juga membekali dengan cara menangani orang pingsan dan kedaruratan medis lain,” ujar Indrati.