NELAYAN GUNUNGKIDUL : Menjadi Istri Nelayan, Mental Justru Lebih Diuji (2/3)

Marini, istri nelayan Gunungkidul Mayang Nova Lestari/JIBI - Harian Jogja
08 Februari 2016 22:20 WIB Gunungkidul Share :

Nelayan Gunungkidul memiliki kisah tersendiri.

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-- Awalnya, Marini (34th) tak membayangkan akan menjadi istri seorang Nelayan, saat itu ia masih tinggal bersama kedua orang tuanya jauh dari kehidupan orang pantai, yakni di Gunung Tidar, Magelang, Jawa Tengah. Sugino, suaminya, dahulu ialah seorang pegawai serabutan, merantau dari satu kota ke kota lainnya. Saat akhirnya menikah dan memutuskan untuk menyambung hidup dengan berprofesi sebagai nelayan, Marini tak dapat berbuat banyak dan pasrah.

Ketika diboyong ke Tanjungsari, Marini hanya mengandalkan suaminya saja. Sampai akhirnya ia sadar penghasilan Sugino tak dapat terus diandalkan, terlebih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Apalagi kebutuhan pokok semakin mahal, untuk bayar listrik dan air yang terus naik biayanya. Belum lagi sekolah anak," katanya, Jumat (5/2/2016). (Baca Juga : http://www.harianjogja.com/baca/2016/02/08/nelayan-gunungkidul-baca-bahasa-alam-lewat-gadget-13-688999">NELAYAN GUNUNGKIDUL : Baca Bahasa Alam Lewat Gadget (1/3))

Akhirnya ia berpikir keras untuk meningkatkan kondisi ekonomi keluarga. Ide awal datang dari Tumini, adik iparnya. Tumini sudah sejak kecil menjadi penjual rempeyek udang dan undur-undur. Dari situlah ia terpikirkan untuk membuat rempeyek, bermodalkan resep warisan turun-temurun dari orangtua Tumini akhirnya dimulailah pembuatan rempeyek udang di tahun 2006.

Berjualan rempeyek hanya ia lakukan di hari Sabtu dan Minggu saja di Pantai Baron. Sebab kecuali hari itu sepi pengunjng yang datang, ia tak mau rugi. Kegiatan menggoreng rempeyek dimulai sejak hari Jumat, pukul 08.00 WIB. Ia dan Tumini sudah bergegas menyiapkan bahan-bahan membuat rempeyek.

"Kalau beli bahan-bahannya sejak hari kamis, jadi Jumat tinggal menggoreng, lalu Sabtu dan Minggu jualan di Pantai," ujarnya.

Baginya, menjual rempeyek susah-susah gampang. Gampang membuatnya, sulit untuk menjualnya. Saingan pedagang di Pantai Baron sudah sangat banyak. Tak jarang ia justru merugi, atau istilah orang Jawa yakni tombok. Sedangkan peluang untuk menjual di luar Objek wisata Pantai Baron sangatlah kecil. Ia pernah menawarkan rempeyeknya ke Wonosari hingga ke Jogja. Namun belum ada yang ingin memborong dagangannya.

Marini hanya mempertahankan kualitas nomor satu untuk rempeyeknya. Ia membuat tanpa bahan pengawet, bahan pewarna makanan dan bahan berbahaya lainnya. Tepung yang ia gunakan juga merupakan merk cukup ternama di pasaran.

"Saya buat rempeyek ini tebal-tebal dan besar. Tidak berani pakai pengawet," katanya pada Harianjogja.com.

Selain rempeyek udang, ia juga membuat rempeyek undur-undur dan rumput laut. Semua hasil laut ia coba kombinasikan dengan tepung untuk menjadi rempeyek. Alhasil selama hampir 10 tahun ia masih sanggup mempertahankan kreatifitasnya membuat rempeyek tersebut. Ia mengungkapkan hasilnya lumayan untuk menambah penghasilan suaminya. Saat cuaca dan kondisi laut buruk dan tak memungkinkan suaminya pergi melaut, rempeyeknya bisa diandalkan.

Ia mengatakan bahwa menjadi istri nelayan itu harus lebih kuat mentalnya. Sugino pun membenarkan, dalam melaut yang dibutuhkan nomor satu adalah ketahanan fisik, sedangkan mental nomor dua. Bagi Marini, melihat kenyataan bahwa suami harus pergi bertarung nyawa di tengah laut lepas untuk mencari nafkah butuh keyakinan dan hati yang sekuat baja.

"Saya sadar semua pekerjaan pasti beresiko. Ini namanya nasib, saya hanya bisa berdoa dan pasrah saja," katanya.

Beberapa kali ia menyampaikan rasa khawatirnya tersebut kepada Sugino. Namun jika tidak melaut tidak akan ada penghasilan yang masuk.

"Pernah dibawa ke tengah laut waktu ada upacara Nglarung, saya nggak sangka ombaknya ternyata besar sekali. Saya kira cari ikan itu perahunya lurus-lurus saja, ternyata kalau nggak kuat bisa bikin mabuk laut. Suami saya bilang ya ini rasanya suamimu cari uang," kata Marini sambil terkekeh.

Marini dan Sugino dikaruniai seorang putri, Rahajeng Ardaninggar (16th). Bersekolah di SMK N 1 Tanjungsari yang menjurus pada sekolah Pelayaran. Setiap pagi hari putri mereka tersebut harus menjalani latihan fisik untuk membangun kekuatan raga. Awalnya Marini dan Sugino tak begitu rela putrinya masuk ke SMK Pelayaran tersebut. Bagi mereka putri satu-satunya tersebut sangat berharga dan khawatir akan kelelahan dengan pelajaran yang mengandalkan kekuatan fisik tersebut. Namun tekad Ajeng yang besar, begitu panggilannya, membulatkan keyakinan dan kepercayaan bagi Marini dan Sugino.

Marini semakin yakin bahwa Tuhan punya rencana yang indah, ketika Tuhan menitipkan suami dan seorang putri yang dalam aktivitasnya membutuhkan kekuatan fisik. Sedang dirinya, terus berdoa semoga mentalnya terus dikuatkan dan bertahan dalam menghadapi getirnya hidup.