TIONGHOA JOGJA : Mengenal Budaya China Dari Liong Barongsai

Penampilan Persaudaraan Naga Barongsai Putra Mataram Jogja di Hotel Jayakarta saat perayaan Imlek, Senin (8/2/2016). (JIBI/Harian Jogja - dok. Persaudaraan Naga Barongsai Putra Mataram Jogja)
11 Februari 2016 01:20 WIB Bernadheta Dian Saraswati Jogja Share :

Tionghoa Jogja masih memiliki banyak kebudayaan yang dilestarikan

Harianjogja.com, JOGJA-Imlek menjadi berkat peruntungan bagi kelompok kesenian liong dan barongsai. Pada momen Tahun Baru China seperti ini, mereka kebanjiran order karena banyak diminta mengisi acara. Tidak hanya di kelenteng, penampilan spektakuler mereka pun diperebutkan para pelaku hotel dan restoran.

Sebut saja Persaudaraan Naga Barongsai Putra Mataram. Hanya dalam dua hari tanggal 7-8 Februari, perkumpulan liong-barongsai yang bermarkas di Sosrodipuran GT 1/407 Jogja ini tampil di enam tempat yang sebagian besar adalah hotel.

"Ada empat tempat yang sampai kita tolak," kata Dwi Haryanto, 26, selaku ketua pengurus, Rabu (10/2/2016).

Mereka beratraksi sesuai tema yang diangkat. Seperti saat tampil di Hotel Jayakarta Jogja, mereka tampil lebih atraktif menyesuaikan shio monyet yang merupakan shio tahun ini.

Dalam momen Imlek seperti ini, Dwi dan 44 personel lainnya rutin melakukan latihan. Apalagi pada 21 Februari mendatang, Putra Mataram akan tampil dalam gelaran Dragon Festival di Jalan Malioboro.

Meski liong-barongsai merupakan kesenian dari Tiongkok namun 100% personel Putra Mataram merupakan keturunan Jawa. Bagi Dwi mengenal budaya orang lain tidak menjadi masalah.

"Justru kita bisa belajar banyak dari situ. Belajar kekompakan dan taat aturan," kata Dwi di rumahnya.

Putra Mataram lahir sejak 1997. Dari 45 personel, mereka memiliki spesialis masing-masing. 27 orang spesialis memainkan liong, empat orang musik, dan sisanya barongsai. Untuk barongsai mereka kerap tampil dengan barongsai warna pink, hijau dan hitam. Para pemain pun harus mengetahui karakter warna barongsai sebelum memainkannya.

"Kalau hitam lebih ganas dan cenderung agresif. Dia suka salto dan atraksinya paling menonjol," jelas Dwi.

Berbeda dengan barongsai pink atau merah yang lebih kalem dan feminin. Gerakannya pun terbilang lebih genit dibanding barongsai lainnya. Saat pertunjukan, barongsai pink akan banyak terlihat menggoda barongsai hitam dengan gerakan belaiannya.

Putra Mataram banyak dikenal masyarakat karena prestasinya. Pada tahun 2015 lalu, perkumpulan liong-barongsai ini meraih juara 1 Kompetisi Barongsai tingkat Kota Jogja di Kelenteng Poncowinatan dan juara 1 lomba barongsai se-DIY dan berhak maju tingkat nasional di Tangerang. Pada tahun 2009, Putra Mataram juga sudah duduk di peringkat 16 dari 35 peserta liong-barongsai se-Indonesia.