KETAHANAN PANGAN : 20 Desa di DIY Masih Rawan Pangan

Ilustrasi bahan pangan (Google - deptan.go.id)
16 Februari 2016 09:20 WIB Jogja Share :

Ketahanan pangan di DIY dialami puluhan desa.

Harianjogja.com, JOGJA -- 20 Desa di DIY berada dalam kondisi rawan pangan. Rendahnya daya beli masyarakat serta akses yang belum terdukung dengan baik diperkirakan menjadi faktor penyebab kondisi itu.

Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKPP) DIY Arofa Noor Indriani Senin (15/2/2016) mengatakan berdasarkan data yang mereka himpun Kulonprogo menjadi daerah dengan jumlah desa rawan pangan tertinggi di DIY dengan sembilan desa rawan kekurangan pangan. Jumlah itu diikuti Gunungkidul dengan tujuh desa, tiga desa di Bantul dan satu desa di Kota Jogja.

"Sleman tidak ada satupun desa yang tergolong rawan kekurangan pangan," ungkapnya.

Arofa mengatakan pihaknya menggunakan tiga indikator dalam menentukan desa rawan pangan. Ketiganya adalah ketersediaan pangan, daya beli masyarakat terhadap komoditas pangan pokok serta kemampuan mengakses bahan pangan yang baik.

Ketiga indikator itu sekaligus menjadi faktor penyebab suatu daerah berada dalam kondisi rawan kekurangan pangan. Baik karena daya beli masyarakat yang rendah karena faktor kemiskinan, kesulitan akses untuk mendapatkan bahan pangan berkualitas maupun tidak ada sumber pangan lokal yang bisa menunjang kebutuhan warga setempat.

Untuk mengatasi hal itu, Arofa menjelaskan BKPP DIY sudah menyiapkan cadangan pangan berupa beras sebanyak 191 ton yang dititipkan di Bulog. Cadangan itu akan didistribusikan dalam kondisi darurat terhadap desa yang mengalami kekurangan pangan.

Sebagai tambahan, pihaknya juga masih memiliki cadangan lumbung masyarakat sebanyak 17 ribu ton. Berbeda dengan cadangan di Bulog, cadangan di lumbung masyarakat adalah cadangan makanan yang bisa diperjualbelikan dan berada baik di pedagang, masyarakat maupun Pemda DIY.

"Kami juga mengembangkan LAPM (Lembaga Akses Pangan Masyarakat) agar harga komoditas pangan pokok di pelosok sama dengan di sentra. Itu terobosan kami untuk mengentaskan desa rawan pangan di DIY," tambah Arofa.

Terpisah, Kepala Biro Pusat Statistik (BPS) DIY Bambang Kristianto mengatakan komoditi pangan sejauh ini jauh lebih berperan terhadap garis kemiskinan ketimbang komoditas non pangan. Sampai September 2015, angka garis kemiskinan makanan DIY turun menjadi 70,87% ketimbang 2014 sebesar 71,42%.

Menurunnya garis kemiskinan makanan itu berpengaruh terhadap berkurangnya desa rawan pangan yang ditetapkan BKPP DIY. 2014 lalu DKPP DIY menetapkan 26 desa rawan pangan. Jumlah itu jauh berkurang ketimbang data 2013 dimana terdapat 62 desa rawan pangan di DIY.