Harga Beras Indonesia Paling Mahal Se-Asean, Inefisiensi Jadi Penyebab

24 Februari 2016 13:55 WIB Kusnul Isti Qomah Jogja Share :

Harga beras di Indonesia tengah diupayakan lebih bersahabat.

Harianjogja.com, JOGJA—Inefisiensi dalam bidang pertanian disinyalir menjadi pemicu mahalnya beras di Indonesia. Bahkan, harga beras di Indonesia paling mahal di ASEAN.

Pengamat Ekonomi Pertanian Profesor Bustanul Arifin yang juga Dewan Pendiri dan Ekonom Senior INDEF serta Ketua Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia mengatakan, dari data yang dia punya, harga beras di Indonesia masih di angka Rp12.000 per kg. Sementara, untuk beras medium di kisaran Rp10.000. Harga tersebut jauh lebih mahal dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya yang menjadi produsen beras.

Bustanul menyebutkan, negara produsen dan pemasok beras di ASEAN antara lain Thailand, Vietnam, dan India. Harga beras di ketiga negara tersebut jauh lebih murah dibandingkan Indonesia.

“Harganya rata-rata US$350 hingga US$400 per ton. kalaupun dikalikan Rp14.000 dan ditmbah ongkos kirim, masih Rp6.000an per kg,” ungkap dia kepada wartawan ketika ditemui usai Seminar Nasional Desain Kebijakan Perberasan dalam Rangka Mendorong Peningkatan Produksi Padi, Daya Saing Usaha Tani Padi, dan Kesejahteraan Petani di Hotel Tentrem, Jogja, Selasa (23/2/2016).

Oleh karena itu, tidak heran jika beras dari ketiga negara itu mengalir deras ke Indonesia karena harga mereka jauh lebih rendah. Upaya menolak impor pun akan sia-sia karena Indonesia merupakan pasar yang menarik. Hal itu menyebabkan produk Indonesia tidak bisa bersaing.

“Kita enggak rela Indonesia yang sebesar ini cuma jadi pasar. Jadi, kita harus mampu penuhi kebutuhan sendiri dan kalau bisa ekspor,” kata dia.

Untuk mewujudkan hal tersebut, harus ada penataan di lapisan bawah sehingga ada efisiensi. Perlu juga ada pula peningkatan produktivitas sehingga kesejahteraan petani bisa terangkat. Penyebab mahalnya beras Indonesia dipicu karena ekonomi biaya tinggi atau sering disebut inefisiensi atau lebih lugasnya kebocoran.

“Subsidi untuk pupuk pada 2015 sebesar Rp39,5 triliun. Harusnya, ongkos produksi berkurang. Tetapi, nyatanya pupuk tetap mahal dan langka. Ada yang Rp2.200 per kg padahal seharusnya Rp1.950 per kg,” ungkap dia.

Hal serupa juga terjadi pada benih. Subsidi benih yang diberikan hampir Rp1 triliun, namun petani masih kesulitan mencari benih. Selain itu, ongkos upah pertanan juga mahal sehingga menjadikan ekonomi biaya tinggi.

Kepala Dinas Pertanian DIY Sasongko menyebutkan, untuk harga beras di daerah, tidak bisa berdiri sendiri. Kondisinya tetap dipengaruhi kondisi nasional karena diperdagangkan. Harga di daerah akan naik jika harga nasional naik.

“Untuk stok, di DIY aman. Dari hasil produksi 2015 [945.000 ton] cukup hingga panen pertama 2016 yang diperkirakan pada akhir Februari dan awal Maret,” ungkap dia.