DEMAM BERDARAH BANTUL : Siswa SD Target Utama DBD

Seorang petugas melakukan pengasapan (fogging) untuk membasmi nyamuk Aedes aegypti di Desa Bantengan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur (Jatim), Kamis (21/1/2016). Dinas Kesehatan Kabupaten Madiun melakukan fogging di sejumlah titik untuk mengantisipasi kasus demam berdarah akibat gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terus meningkat. (JIBI/Solopos/Antara - Fikri Yusuf)
24 Februari 2016 16:20 WIB Arief Junianto Bantul Share :

Demam berdarah Bantul banyak dialami anak-anak.

Harianjogja.com, BANTUL-Siswa SD di Bantul menjadi sasaran terbesar penyebaran penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Dari data Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul tahun 2015, jumlah pasien DBD dari rentang usia siswa SD itu mencapai 446 dari total 1.317 penderita sepanjang tahun.

Kepala Bidang Penanggulangan Masalah Kesehatan (PMK) Dinkes Bantul Pramudi Dharmawan mengatakan, berbeda dengan kasus DBD yang dialami oleh usia produktif, tingginya angka pasien DBD dari usia siswa SD itu mutlak disebabkan buruknya kualitas kebersihan di lingkungan keseharian mereka.

Dijelaskan Pramudi, lantaran nyamuk Aedes Aegypti banyak beredar antara jam 08.00-16.00, maka bisa dipastikan, para penderita DBD usia siswa SD terkena gigitan nyamuk tersebut saat berada di sekolah. Oleh karena itulah, salah satu upaya pencegahan yang dilakukannya adalah dengan cara menggalakkan sosialisasi di semua SD yang ada di Bantul untuk menerapkan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

“Karena percuma, siswa menerapkan PSN di rumah mereka masing-masing tapi justru di sekolah mereka tidak,” ucapnya.

Dikatakannya, sepanjang bulan Februari ini, jumlah pasien DBD yang ada di Bantul mencapai 34 orang. Sedangkan di bulan Januari, jumlah pasien DBD di Bantul mencapai 188 orang.

Jika dibandingkan tahun 2015, Pramudi mengklaim jumlah penderita DBD di bulan yang sama memang tak banyak mengalami lonjakan. Di bulan Februari 2015 lalu, jumlah penderita DBD mencapai 216 orang, sedangkan di bulan Januari mencapai 198 orang.

“Cara kami membandingkan adalah dengan membandingkan angka penderita di bulan yang sama tahun yang berbeda,” kata Pramudi.

Sementara terkait dengan titik yang paling rawan kasus DBD, tiga kecamatan masih menjadi lokasi dengan jumlah kasus terbanyak. Ketiga kecamatan itu masing-masing adalah Sewon, Banguntapan, dan Kasihan.

Seperti diketahui, di awal Februari lalu, pihak rumah sakit di Bantul sempat mengeluhkan lonjakan pasien penderita DBD. Di Rumah Sakit (RS) PKU Muhamadiyah Bantul misalnya, tercatat pasien demam berdarah sebanyak 68 orang selama sebulan terakhir. Terdiri dari pasien rawat inap sebanyak 27 orang dan pasien rawat jalan 41 orang.

Di rumah sakit ini, pasien rawan inap, jumlah penderita DBD dari kalangan anak-anak mendominasi sebanyak tujuh orang, sisanya lima orang pasien demam berdarah dewasa. Beruntung sepanjang tahun ini tidak terjadi kasus kematian akibat demam berdarah di RS PKU Muhamadiyah Bantul.