UMKM BANTUL : Keren, Kerajinan Ini Terbuat Dari Sampah Laut

Redaksi Solopos
Redaksi Solopos Minggu, 06 Maret 2016 22:20 WIB
UMKM BANTUL : Keren, Kerajinan Ini Terbuat Dari Sampah Laut

Ratusan pelajar bersama tentara, polisi, pegawai negeri sipil (PNS), serta karyawan Harian Jogja membersihkan sampah di Pantai Trisik, Banaran, Galur, Kulonprogo, Sabtu (16/5/2015). Kegiatan bersih pantai dan penyerahan batuan tanaman di pantai tersebut merupakan rangkaian peringatan HUT ke-7 Harian Jogja sekaligus wujud nyata kepedulian Harian Jogja bersama pihak-pihak terkait untuk mewujudkan tempat tujuan wisata yang bersih dan nyaman untuk dikunjungi. (Desi Suryanto/JIBI/Harian Jogja)

UMKM Bantul memiliki varian jenis kerajinan.

Harianjogja.com, BANTUL - Warga Dukuh Pandes, Desa Panggungharjo, Kabupaten Bantul, mengolah sampah laut berupa batang kayu maupun ranting pohon menjadi produk kerajinan bernilai ekonomis.

"Sampah laut ini saya olah menjadi meja, kursi, wadah lampu seni, dan hiasan dinding lainnya yang dikombinasikan dengan bahan lain untuk menambah nilai seni," kata pengrajin sampah laut Desa Panggungharjo, Nur Arifin di Bantul,seperti dikutip dari Antara, Sabtu (5/3/2016).

Menurut dia, untuk membuat kursi dirinya mengkombinasikan dengan kulit binatang maupun bulu domba, sedangkan meja dikombinasikan dengan kaca, sementara wadah lampu dikombinasikan dengan bahan lain sesuai kebutuhan.

Usaha memanfaatkan limbah laut menjadi produk kerajinan tersebut sudah digeluti pria 40 tahun ini sejak setahun lebih, berbagai kerajinan itu kemudian dipasarkan ke konsumen melalui situs online.

"Awalnya hanya mencoba-coba membuat dan ternyata ada peminatnya, sehingga saya terus mengembangkan dan berinovasi dalam membuat produk. Saat ini saya sudah memiliki empat orang tenaga," katanya.

Ia mengatakan, dengan jumlah tenaga kerja tersebut pihaknya mampu memproduksi puluhan berbagai kerajinan sampah laut per bulan, yang dijual dengan harga Rp200.000 sampai Rp350.000 per buah tergantung tingkat kesulitan membuatnya.

"Pendapatan per bulan rata-rata Rp15 juta sampai Rp20 juta, namun kalau setiap ordernya nilainya sampai Rp40 juta, tetapi dikerjakan selama dua sampai tiga bulan. Tergantung jumlah itemnya," katanya.

Nur Arifin mengatakan, ide awal memanfaatkan limbah laut itu karena rasa keprihatinan lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini terhadap sampah laut yang berserakan di tepi pantai terutama kayu dan ranting yang terbawa arus sungai.

Dengan demikian, dirinya berinisiatif mengolah menjadi barang bermanfaat, bahkan selain bisa mengurangi sampah laut, kegiatan ini bisa memberikan pekerjaan kepada masayarat sekitar pantai yaitu mengumpulkan kayu untuk dijual ke pengepul kayu.

"Untuk bahan baku saya membeli dari sejumlah pengepul per 'bagor' Rp40.000. Mereka dari Pantai Samas (Bantul), Pantai Glagah dan Congot (Kulonprogo). Memang tidak semua pantai ada, karena harus ada pertemuan antara sungai dan pantai," katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online