Segera Dibuka, Kelok 23 Jadi Harapan Baru Ekonomi Sisi Barat Gunungkidul
Kelok 23 di Girijati, Gunungkidul, dinilai membuka peluang pertumbuhan ekonomi dan investasi setelah menghubungkan JJLS dengan Bantul.
Ilustrasi kekeringan (JIBI/Solopos/Dok.)
Kekeringan Gunungkidul masih jadi persoalan serius.
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Persoalan air bersih masih menjadi butuh perhatian serius. Pasalnya persoalan ini terus terulang setiap tahun, padahal dari sisi potensi Gunungkidul memiliki sumber air bawah tanah yang melimpah.
Ketua Pamaskarta Gunungkidul, Damanhuri mengakui masih banyak wilayah yang kekurangan air, meski potensi yang dimiliki sangat besar. Secara umum, sumber air di Gunungkidul terbagi dalam dua karaketeristik. Di bagian selatan, sumber air sulit ditemukan, namun hal itu bukan berarti tidak ada sumbernya. Sumber di sana kebanyakan berada di dalam gua-gua yang letaknya jauh di dalam tanah.
“Untuk bisa memanfaatkan sumber itu butuh biaya yang besar, sehingga untuk sekarang belum terkelola dengan baik,” ungkapnya.
Menurut dia, karakteristik berbeda terlihat di daerah utara. meski ada beberapa wilayah yang masih kesulitas air, namun secara umum air lebih mudah ditemukan karena banyak sumber yang muncul dan mengalir ke aliran sungai, seperti yang terlihat di Kali Oya.
“Awalnya saya tidak begitu paham karena pengalaman mengelola spamdes di Banyusoco, saya jadi tahu dan bisa belajar tentang masalah air di Gunungkidul,” katanya.
Sekretaris DPD PAN Gunungkidul Anwarudin menjelaskan adanya masalah ini maka partainya berencana menggelar diskusi publik berkaitan dengan masalah air di Gunungkidul. Rencananya diskusi ini digelar pada Minggu (4/9/2016 mendatang. Diharapkan dari diskusi itu bisa mengurai masalah air bersih yang selama ini terjadi.
“Kita harus ikut bertanggungjawab sehingga hasil diskusi ini akan kami serahkan ke pemkab untuk ditindaklanjuti sehingga masalah krisis air bisa dipecahkan,” kata dia.
Rencananya diskusi yang diselenggarakan di Gedung DPRD Gunungkidul akan menggundang narasumber dari jajaran pemkab, akademisi, Paguyuban Pengelola Air Minum Masyarakat Yogkarta (Pamaskarta) hingga pengelola smpadus atau spamdes yang ada di Gunungkidul. “Kita harap semua bisa datang karena ini demi kepentingan di Gunungkidul. Khususnya mengurai masalah tentang kekeringan, apalagi pusat telah menargetkan seluruh warga sudah mendapatkan pelayanan air bersih di 2019 mendatang,” imbuhnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kelok 23 di Girijati, Gunungkidul, dinilai membuka peluang pertumbuhan ekonomi dan investasi setelah menghubungkan JJLS dengan Bantul.
Witan Sulaeman mengungkap suasana ruang ganti Persija setelah menang 2-1 atas Persib dan optimistis memburu gelar juara Super League 2026/2027.
Keluarga penumpang Virgo Transport 8 masih menanti kabar setelah kapal kecelakaan di Laut Jawa. Sebanyak 103 orang telah dievakuasi.
Stasiun Lidah Tanah yang dibangun pada 1902 melayani 6.047 penumpang hingga Agustus 2026, naik 20% dari rata-rata bulanan 2025.
Prabowo menegaskan BRICS punya peran strategis memperkuat suara Global South dalam menentukan arah pembangunan dan masa depan dunia.
Asap kebakaran Gunung Bromo mulai terbatas dan api terkendali. Petugas gabungan tetap siaga karena masih ditemukan sisa bara.