Festival Budaya Menoreh 2016 Jadi Ajang Silaturahmi Budaya Antardaerah

Bregada Serang Boyo dari Desa Purwoharjo, Kecamatan Samigaluh, Kulonprogo menjadi kontingen pertama yang menghibur tamu undangan dan penonton Festival Bedah Menoreh 2016, Minggu (16/10/2016). (Rima Sekarani I.N./JIBI - Harian Jogja)
16 Oktober 2016 20:20 WIB Rima Sekarani Kulonprogo Share :

Festival Budaya Menoreh 2016 menjadi ajang silaturahmi budaya antardaerah

Harianjogja.com, KULONPROGO- Sebanyak 20 kontingen dari berbagai daerah memeriahkan Festival Budaya Menoreh 2016 yang dimulai dari kawasan Alun-alun Wates, Kulonprogo, Minggu (16/10/2016). Mereka melakukan unjuk gigi dengan menampilkan potensi budaya masing-masing.

Bregada Serang Boyo dari Desa Purwoharjo, Kecamatan Samigaluh, Kulonprogo menjadi kontingen pertama yang menghibur tamu undangan dan penonton Festival Budaya Menoreh 2016. Mereka menyajikan sebuah pertunjukan singkat yang menggambarkan suasana latihan suami dari pahlawan Kulonprogo bernama Nyi Ageng Serang, Raden Mas Kusuma Wijaya.

Belasan kontingen dari daerah lain kemudian tampil secara bergiliran dengan ciri khas masing-masing. Ada perwakilan Kabupaten Kebumen yang datang dengan mempertunjukkan kesenian jaran begger, Laskar Gunung Weron dari Temanggung, seni kentungan dari Banyumas, hingga tari batik walang dari Gunungkidul. Pengujung juga bisa melihat penampilan dari daerah lain, seperti Sleman, Wonogiri, Magelang, Purworejo, dan Banten.

Kabupaten Pandeglang, Banten, bisa dibilang menjadi peserta yang mendapatkan ruang lebih luas dibanding kontingen lain. Sebelum ambil bagian dalam karnaval Festival Budaya Menoreh 2016, mereka memiliki waktu khusus untuk menghibur pengunjung beberapa saat setelah acara itu dibuka oleh Penjabat Bupati Kulonprogo, Budi Antono.

Saat itu, rombongan dari Pandeglang menampilkan dua kesenian andalan mereka, yaitu lage pengalasan dan rampak bedug. Lage pengalasan merupakan sebuah tarian yang mengisahkan perjuangan petani melinjo yang tetap memegang teguh tradisi di tengah gempuran budaya asing.

Sementara rampak bedug ditampilkan secara meriah dengan menggunakan empat bedug yang terbuat dari batang pohon kelapa dan kulit kerbau.

Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Kulonprogo, Untung Waluyo mengatakan, Festival Budaya Menoreh 2016 menjadi salah satu bagian dari perayaan hari ulang tahun Kulonprogo ke-65.

Selain seluruh kabupaten/kota di DIY, Pemkab Kulonprogo juga mengundang belasan daerah dari provinsi lain untuk berpartipasipasi. Kegiatan itu sekaligus menjadi ajang edukasi bagi warga Kulonprogo agar tidak hanya mengenal kebudayaannya sendiri, melainkan juga luar daerah.

“Ini tahun kedua untuk Festival Budaya Menoreh. Salah satu tujuannya adalah membangun silaturahmi budaya antar daerah,” ujar Untung.