Hari Santri, PCNU Kota Serukan Perang Terhadap Paham Radikal

Foto Ilustrasi membaca Alquran. (JIBI/Harian Jogja - Antara)
25 Oktober 2016 09:20 WIB Ujang Hasanudin Jogja Share :

Hari Santri menjadi momentum untuk menjaga ketentraman

Harianjogja.com, JOGJA -- Peringatan Hari Santri ke-2 bagi Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Jogja dimaknai sebagai doa untuk keamanan dan ketentraman dalam bermasyarakat di Kota Jogja khususnya, dan Indonesia pada umumnya.

“Kita harus bangkit memerangi musuh besar Islam radikal agar Islam radikal tidak hidup di Indonesia, tidak memecah belah persatuan yang sudah lama dibina,” kata Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Jogja, Ahmad Yubaidi, Senin (24/10/2016).

Yubaidi mengatakan Indonesia bukanlah negara agama tapi negara Pancasila yang mengakomodir banyak agama sehingga tidak bisa memaksakan satu paham dan mengenyampingkan paham yang lain. Karena itu, kata dia, peran santri dibutuhkan untuk menjaga keutuhan NKRI dari berbagai ancaman perpecahan.

Memperingati Hari Santri, PCNU Kota Jogja telah melakukan berbagai kegiatan di antaranya pembacaan salawat Nariyah sebanyak 1,22 juta yang dibagi di beberapa pondok pesantren dan masjid-masjid pada Jumat (21/10/2016) malam. Pembacaan salat Nariyah ini serentak dilakukan di sejumlah pesantren se-Indonesia sebanyak satu miliar sehingga mendapat masuk rekor atau MURI sebagai pemcacaan salawat terbanyak.

Selain itu juga kegiatan sunatan massal dan santunan anak yati serta janda. Yubaidi berharap dengan dibacakannya salawat Nariyah secara serentak menggemakan kembali kebangkitan santri untuk berjihad melawan paham radikalisme, kemiskinan, dan jihad melawan peredaran narkoba.