TRANSPORTASI DIY : Soal Park and Ride Senilai Rp 1 Miliar, Ini Argumentasi Kepala Dishub

Ilustrasi bersepeda bersama (Burhan Aris Nugraha/JIBI - Solopos)
15 November 2016 06:20 WIB Sunartono Jogja Share :

Transportasi DIY untuk pembangunan Park and Ride masih dibahas.

Harianjogja.com, JOGJA -- Pemerintah Daerah (Pemda) DIY menganggarkan sebesar Rp1,1 miliar untuk pembangunan Park and Ride di Jalan Wates, Ambarketawang, Gamping, Sleman. DPRD DIY berharap pembangunan fasilitas transportasi itu bisa dioperasikan secara maksimal dan tidak sia-sia.

(Baca Juga :http://www.solopos.com/2016/11/14/transportasi-diy-telan-rp11-miliar-park-and-ride-diharapkan-tak-sia-sia-768930"> TRANSPORTASI DIY : Telan Rp1,1 Miliar, Park and Ride Diharapkan Tak Sia-sia)

Mendapat kritikan dari anggota Komisi C, Totok Hedi Santoso mengenai lahan yang sempit dan jumlah motor yang banyak, Kepala Dinas Perhubungan DIY Sigit Haryanta berpendapat berbeda. Dalam kajiannya, ia memprediksi akan lebih banyak para pengguna sepeda yang akan memanfaatkan fasilitas tersebut. Terutama warga yang tinggal tak jauh dari lokasi park and ride.

"Orang yang menggunakan motor kalau [dia memarkir ke park and ride] lalu berpindah ke Trans Jogja itu kecil kemungkinannya. Tetapi kalau naik sepeda bisa memarkir dan ganti dengan Trans Jogja," jelas Sigit.

"Lalu sepeda itu darimana pak?" tanya Totok lagi.

Sigit mengatakan, bahwa sesuai hasil kajian di kawasan Jalan Wates banyak pengguna sepeda. Mulai dari anak sekolah yang biasa menggunakan Trans Jogja hingga pegawai toko yang akan bekerja di Kota Jogja.

"Seperti yang di Prambanan itu banyak yang sepeda, parkir di sana [park and ride Prambanan, lalu ke dalam [kota] naik Trans Jogja," ucap Sigit.

Sayangnya, argumentasi Sigit tidak sepenuhnya bisa diterima Totok. Politisi PDIP ini berharap pembangunan park and ride itu tidak sia-sia ke depannya, jika hanya menyasar pengguna sepeda. Karena, kata dia, sekarang masyarakat semakin mendapat kemudahan untuk membeli motor. Ia lebih mengarahkan pada wacana beralihnya pengguna sepeda motor ke Trans Jogja.

"Saya khawatir pekerjaan ini sia-sia. Maksudnya realitas sekarang sepeda motor begitu banyak. Nah bagaimana membuat transportasi orang bersepeda motor itu merasa nyaman untuk berpindah naik Trans [Jogja], karena sekarang mudah sekali mendapatkan motor dengan kredit," ungkapnya.

Sigit menegaskan, konsep perpindahan pada park and ride itu sejatinya hanya sebagai gambaran. Terpenting, kata dia, sebagai transfer poin, dari Trans Jogja dengan Angkutan Kota Dalam Provinsi (AKDP). Akantetapi akan mengakomodasi warga sekitar dalam hal ini pengguna sepeda. Karena sebagian besar pengguna Trans Jogja adalah anak sekolah, karyawan toko, tukang yang masuk ke kota. Selain itu, park and ride akan menjadi tempat berhentinya Bus AKDP, Bus AKAP (antar kota antar provinsi), Trans Jogja dan angkutan interkoneksi di area ringroad.

Meski mendapatkan kritikan, namun Sigit optimistis, perencanaan itu akan berjalan dengan baik karena telah melalui berbagai kajian.

"Anggarannya Rp1,1 miliar untuk pembangunan gedung. Kalau penataan tanah sudah selesai. [Soal tergolong sempit] Itu tanah kita yang tersedia, hanya itu saja, nanti kalau butuh penambangan, kita lihat perkembangan," kata Sigit.