MANUSIA PURBA DI GUNUNGKIDUL : Balai Arkeologi Telusuri Jejak Manusia Purba di Kali Oya, Ini Hasilnya

Sejumlah peneliti menyusuri Sungai Oya yang melintasi wilayah Gunungkidul beberapa waktu lalu untuk mencari bukti/bukti peradaban manusia zaman purba. (Foto istimewa dokumen Indah Asikin Nurani, Balai Arkeologi DIY)
17 November 2016 14:20 WIB Bhekti Suryani Gunungkidul Share :

Manusia purba di Gunungkidul ditelusuri

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL- Sepuluh peneliti dari Balai Arkeologi DIY menelusuri jejak manusia purba yang pernah hidup di sepanjang Sungai Oya Kabupaten Gunungkidul. Puluhan artefak ditemukan, misteri peradaban masa lalu mulai terkuak.

Bongkahan batu seberat 1,6 kilogram itu terbungkus plastik bening. Wujudnya tak bulat dan mulus. Ada cekungan di sebagian batu berwarna coklat tua itu. Di bagian pinggirnya, ada jejak mirip hasil sentuhan tangan manusia.

“Ini batu bekas pangkasan, hasil tangan manusia jelas sekali. Seperti terbacok sehingga bentuknya seperti ini,” Indah Asikin Nurani, Ketua Tim Peneliti Sungai Oya dari Balai Arkeologi DIY memperlihatkan bongkahan batu yang ditemukan di Sungai Oya di Desa Ngleri, Playen, Gunungkidul itu, Rabu (16/11/2016) siang.

Indah sudah terbiasa memebedakan mana batu yang terpotong akibat ulah manusia dengan batu yang tergerus akibat proses alam. Gerusan akibat proses alam akan menghasilkan bentuk yang lebih alami. Artefak paleolitikum atau zaman batu tua itu dinamai alat penetak, karena bentuknya menyerupai kepala kapak.

“Alat penetak ini bisa digunakan untuk menghancurkan daging atau makanan pada zaman manusia pra sejarah,” ungkap perempuan paruh baya itu.

Selama sekitar dua pekan, Indah dan sembilan rekannya dari Balai Arkeologi menyusuri Sungai Oya yang melintasi Kecamatan Semin, Ngawen, Nglipar, Karangmojo, Wonosari, Gedangsari, Patuk hingga Playen Gunungkidul. Periode turun ke lapangan itu dimulai 19 Oktober lalu dan berakhir 1 November.

Perburuan selama dua pekan itu berhasil menemukan lebih dari 60 artefak yang diduga kuat peninggalan manusia purba zaman batu tua atau sekitar 1,8 juta tahun lalu. Mulai dari alat penetak, kapak perimbas dan pahat. Seluruhnya diduga kuat adalah benda hasil kebudayaan manusia pra sejarah. Puluhan artefak itu diperoleh setelah para peneliti menyambangi lebih dari 20 titik lekukan sungai.

Lekukan sungai dari berbagai pengalaman arkeolog kerap menjadi tempat tinggal manusia purba. Manusia purba zaman batu tua diyakini tak hidup di dalam goa seperti pada zaman batu tengah atau mesolitikum. Tempat berteduh seperti cekungan-cekungan tebing di dekat sungai atau gua terbuka lebih disenangi sebagai tempat tinggal.

“Lekukan sungai atau meander itu biasanya lebih rata enak untuk ditempati serta kerap tersedia bahan makanan. Binatang juga kerap mencari makanan di sekitar lekukan,” perempuan 52 tahun itu menuturkan.