ABRASI SUNGAI : Ups, 15 Hektar Lahan Warga Amblas Ditelan Sungai Oya

JIBI/HARIAN JOGJA/DESI SURYANTOJIBI/HARIAN JOGJA/DESI SURYANTOTRADISI PADUSAN--Anak-anak warga Kwarasan Wetan melaksanakan tradisi Padusan (mandi sebelum menunaikan ibadah puasa) di aliran Kali Oya Dusun Kwarasan Wetan, Kedung Keris, Nglipar, Gunungkidul, Minggu (31 - 7). Sebagian besar warga Gunungkidul tetap mengandalkan aliran air sungai dan telaga dan bak tadah hujan sebagai sumber air untuk keperluan sehari/hari, tak terkecuali dalam melaksanakan tradisi padusan.
06 Desember 2016 01:20 WIB Arief Junianto Bantul Share :

Abrasi sungai terjadi di bantaran kali di Bantul

Harianjogja.com, BANTUL -- Kekhawatiran pemerintah kabupaten (Pemkab) Bantul terhadap kritisnya kondisi bantaran sungai-sungai besar di Bantul terbukti. Dalam dua pekan terakhir, abrasi sungai di sejumlah titik terjadi.

Setelah satu di antaranya mengamblaskan bangunan asrama di Markas Komando (Mako) Ditpolair Polda DIY, abrasi kini terjadi nyaris serempak di Desa Selopamioro. Tercatat, total lahan seluas 15 hektar yang didominasi lahan milik warga amblas ditelan abrasi Sungai Oya.

Disampaikan Kepala Desa Selopamioro Himawan Sadjati, total 15 hektar lahan yang amblas itu tersebar di belasan titik sepanjang Sungai Oya. Dari pantauannya, lahan yang amblas tersebut ada di 7 dusun, yakni Jetis, Lemahrubuh, Lanteng, Siluk I, Siluk II, Pelemantung, dan Putat.

“Status lahan, ada yang letter C [milik pribadi], dan ada juga yang tanah kas desa. Kebanyakan sih letter C,” katanya saat ditemui di salah satu titik lokasi amblas di Dusun Siluk I, Senin (5/12/2016) siang.

Dari sejumlah titik itu, setidaknya ada 4 rumah milik warganya yang terancam amblas. Bahkan satu dari 4 rumah itu kini kondisinya cukup kritis lantaran jarak bibir tebing dengan rumah tak lebih dari 1 saja.

Tak hanya itu, di Dusun Jetis, lebar tanah yang amblas pun mencapai lebih dari 25 meter. Akibatnya, makam Dusun Jetis yang berbatasan lokasi amblasnya tanah itu pun kini juga terancam keberadaannya.