PERTANIAN KULONPROGO : Ini Alasan Riau "Impor" Cabai dari Kulonprogo

Seorang pedagang mengaku menjual cabai rawit seharga Rp60.000 per kilogram di Pasar Glaeng, Desa Jangkaran, Kecamatan Temon, Kulonprogo, Jumat (11/11/2016). (Rima Sekarani I.N/JIBI - Harian Jogja)
10 Desember 2016 04:20 WIB Sekar Langit Nariswari Kulonprogo Share :

Pertanian kulonprogo berupa cabai dikirim ke Riau.

Harianjogja.com, KULONPROGO -- Cabai produksi petani Kulonprogo akan dipasarkan hingga ke pasar di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Saat ini, potensi produksi cabai di Kulonprogo mencapai 18.000 ton per tahun dan baru dipasarkan terbatas.

Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kulonprogo, Bambang Tri Budi mengatakan volume dan harga cabai yang akan dikirim akan menjadi kesepakatan antara BUMD Tanjung Pinang dengan Asosiasi Pasar Tani (Aspartan) Cabai. Nantinya, petani akan menjual cabainya ke Aspartan yang kemudian akan memasarkannya kembali. Adapun, Aspartan sendiri merupakan gabungan dari sekitar 21 unit pasar lelang yang ada di Kulonprogo.

(Baca Juga : http://www.solopos.com/2016/12/09/pertanian-kulonprogo-cabai-kulonprogo-terbang-ke-riau-775586">PERTANIAN KULONPROGO : Cabai Kulonprogo Terbang ke Riau)

Bambang juga menerangkan jika sebelumnya sudah ada pengiriman cabai merah Kulonprogo ke Tanjung Pinang. Sedikitnya sudah dilakukan 20 kali pengiriman dengan jumlah masing-masing 2 kuintal. Menakar jarak serta jumlah pengiriman, cabai tersebut dikirim dengan menggunakan pesawat kargo.

Menurut Walikota Tanjung Pinang,  Lis Darmansyah, komoditas cabai memang terlihat sepele namun mempengaruhi inflasi daerah. Dalam kondisi normal, harga cabai di Tanjung Pinang bisa mencapai sekitar Rp70.000 per kilogram (kg), sedangkan saat menjelang Lebaran bisa mencapai sekitar Rp100.000 per kg.

Walikota Tanjung Pinang, Lis Darmansyah mengatakan harga cabai merah di daerahnya mencapai Rp70.000 per kilogram di waktu-waktu biasa. Harga tersebut akan melambung hingga Rp100.000 per kilogram menjelang hari raya. Oleh karena itu, kerjasama ini bermaksud menjaga harga komoditas ini di wilayahnya.

Menurut dia, panjangnya tahapan dan transportasi yang harus dilewati membuat harga cabai Kulonprogo tetap tinggi begitu sampai di pasar Tanjung Pinang. Paling tidak, cabai tersebut sudah melewati tangan keenak atau ketujuh sehingga selisih harganya bisa mencapai Rp50.000 per kilogram.

Namun, tingginya harga tersebut lebih banyak dinikmati oleh tengkulak dibandingkan petani cabai Kulonprogo. "Utamanya menjaga stabilitas dan mempersingkat jalur pemasaran,"ujarnya.