TIONGHOA JOGJA : Kunjungi Makam Tua, Koko Cici Jogja Rayakan Cheng Beng

13 April 2017 16:20 WIB Holy Kartika Nurwigati Bantul Share :

Tionghoa Jogja memiliki tradisi di antaranya Cheng Beng atau Qing Mingyang

 

Harianjogja.com, JOGJA-Cheng Beng atau Qing Mingyang merupakan salah satu salah satu tradisi ritual masyarakat Tionghoa. Melestarikan ritual ini, untuk kali pertamanya Ikatan Koko Cici Jogja berpartisipasi dalam ritual ini dengan melakukan ziarah ke Makam Gunung Sempu, Bantul.

Jika dalam masyarakat Jawa tradisi semacam ini dikenal dengan Nyadran, ritual Cheng Beng juga tak jauh berbeda. Ketua IKCJ, Monica mengatakan kegiatan ini merupakan salah satu upaya paguyuban Koko Cici Jogja dalam melestarikan budaya dan tradisi Tionghoa.

"Biasanya, kegiatan ziarah tersebut dilakukan setiap tanggal 4 April atau 5 April. Tetapi bisa juga dilakukan sepuluh hari maupun sesudah tanggal tersebut," ungkap Monica, Rabu (12/4/2017).

Monica mengatakan kegiatan ini diikuti oleh beberapa Koko dan Cici Jogja. Dalam kegiatan ini, para Koko dan Cici Jogja melakukan tabur bunga dan mendoakan sejumlah nisan.

"Kami melakukan bersih-bersih makam atau nisan yang tampak tidak terawat. Lalu melakukan tabur bunga dan mendoakan bersama-sama," ungkap Monica.

Cheng Beng dalam bahasa Hokkian merupakan tradisi untuk memeringati dan menghormati leluhur. Di Tiongkok, ritual ini biasanya dilakukan pada hari ke 104 setelah titik balik Matahari di musim dingin.

Tradisi ini diketahui berasal dari Dinasti Tang. Di mana pada masa Kaisar Xuanzong, ritual ini diperingati sebagai pengganti upacara pemujaan terhadap nenek moyang yang dinilai terlalu mahal dan rumit. Maka sebagai gantinya, Kaisar Xuanzong mengumumkan ritual ini diperingati dengan melakukan ziarah kubur sebagai penghormatan kepada leluhur pada hari Qingming.

Humas IKCJ, Valeria Pebelan berharap kegiatan ini dapat terus dilakukan paguyuban ini. Tidak hanya menjadi salah satu program kerja Koko dan Cici Jogja, tetapi juga sebagai wujud kepedulian terhadap pelestarian budaya Tionghoa.

"Kegiatan ini juga memberi dampak sosial budaya untuk masyarakat sekitarnya. Selain itu, ini merupakan wujud penghormatan bagi arwah-arwah leluhur," imbuh Valeria.