BPBD DIY Mengecek Tingkat Ketangguhan Warga Kulonprogo terhadap Resiko Bencana

Para korban mendapatkan penanganan medis dalam simulasi penanggulangan bencana longsor di Lapangan Desa Purwoharjo, Kecamatan Samigaluh, Kulonprogo, Rabu (26/4/2017). (Rima Sekarani I.N./JIBI - Harian Jogja)
27 April 2017 20:55 WIB Rima Sekarani Kulonprogo Share :

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY melakukan pembinaan dan pendampingan terhadap 29 desa tangguh bencana (destana) di seluruh DIY

 
Harianjogja.com, KULONPROGO-Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY melakukan pembinaan dan pendampingan terhadap 29http://m.harianjogja.com/?p=790828"> desa tangguh bencana (destana) di seluruh DIY. Masyarakat dibekali dengan pemahaman dan keterampilan seputar mitigasi bencana untuk meminimalkan jatuhnya korban.

Kepala Pelaksana BPBD DIY, Krido Suprayitno mengatakan, 10 dari 29 destana berada di Kulonprogo. Kesepuluh destana tersebut antara lain Desa Purwoharjo, Banjarsari, Ngargosari, dan Kebonharjo di Kecamatan Samigaluh, Desa Hargotirto, Hargowilis, Hargorejo, dan Hargomulyo di Kokap, Banjararum di Kalibawang, serta Giripurwo di wilayah Girimulyo.

Sebanyak enam diantaranya sudah diresmikan melalui kegiatan simulasi. Kegiatan launching untuk empat desa yang tersisa akan menyusul dilakukan tahun ini.

“Simulasi bertujuan mengecek sejauh mana tingkat ketangguhan masyarakat terhadap resiko bencana,” kata Krido usai http://m.harianjogja.com/?p=812610">simulasi penanggulangan bencana longsor di Lapangan Desa Purwoharjo, Kecamatan Samigaluh, Kulonprogo, Rabu (26/4/2017).

Menurut Krido, masyarakat tidak cukup hanya responsif dalam menghadapi bencana tetapi juga harus partisipatif. Mereka sudah semestinya terlibat secara aktif dalam upaya mitigasi maupun penanggulangan bencana.

Dengan demikian, mereka diharapkan memahami tanda-tanda bencana serta apa yang harus dilakukan dalam situasi darurat. “Masyarakat tidak boleh gugup saat menghadapi bencana,” ujar Krido.

Pemahaman seputar pencegahan dan penanganan bencana bukan cuma perlu diberikan kepala masyarakat di wilayah rawan bencana. Krido lalu mengungkapkan, upaya mitigasi dan penanggulangan bencana juga membutuhkan dukungan dari seluruh elemen masyarakat, mulai dari unsur pemerintah, legislatif, hingga kalangan akademisi.

“Ada beberapa peran yang kita dorong biar tidak terjadi tumpang tindih di dalam penanganan bencana,” ucap dia kemudian.

Krido menambahkan, simulasi pagi itu bukan hanya bagian dari peresmian empat desa di Samigaluh sebagai destana. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi Pencanangan Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional DIY 2017. Dia berharap masyarakat selalu siap dan siaga mengingat banyaknya potensi bencana yang mengancam wilayah DIY.

Sementara itu, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kulonprogo, Arif Sudarmanto memaparkan, 21 desa di wilayah perbukitan menoreh dinyatakan rawan bencana longor.

Sebanyak lima desa berada di Kecamatan Kokap, tujuh desa di Samigaluh, empat desa di Girimulyo, empat desa di Kalibawang, dan satu desa lainnya di Pengasih.

“Bencana bisa terjadi kapan saja sehingga kita butuh waspada dan siaga. Simulasi seperti ini tentu sangat penting untuk bekal warga menghadapi setiap kemungkinan yang tidak diinginkan,” ungkap Arif.