Advertisement
Dinkes Kota Jogja Perketat Surveilans Cegah Masuk Virus Nipah
Ilustrasi gatal/gatal. / Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA— Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta meningkatkan kewaspadaan dengan menggencarkan surveilans di seluruh puskesmas dan kelurahan untuk mengantisipasi potensi masuknya virus Nipah.
Ketua Tim Kerja Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Kesehatan Dinkes Kota Yogyakarta, Solikhin Dwi Ramtana, menjelaskan penguatan pemantauan dilakukan melalui sistem pengawasan rutin di fasilitas layanan kesehatan serta laporan kejadian di masyarakat.
Advertisement
“Kami menggunakan dua pendekatan surveilans, yakni surveilans berbasis indikator atau indicators based surveillance (IBS) dan surveilans berbasis kejadian atau event based surveillance (EBS),” ujar Solikhin saat dihubungi di Yogyakarta, Kamis (5/2/2026)
Melalui IBS, Dinkes memantau data kunjungan pasien di puskesmas berdasarkan keluhan serta gejala klinis yang dicatat tenaga medis. Data tersebut dianalisis secara berkala untuk melihat tren penyakit, terutama yang berkaitan dengan gangguan pernapasan.
BACA JUGA
Selain itu, pemantauan harian juga difokuskan pada kasus influenza-like illness (ILI) serta infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang berpotensi menjadi indikator awal gangguan kesehatan serius.
Sementara melalui EBS, petugas surveilans di tingkat kelurahan aktif mengumpulkan informasi kejadian kesehatan di lingkungan masyarakat. Setiap temuan akan segera dilaporkan untuk ditindaklanjuti oleh Dinkes.
“Surveilans tidak hanya untuk identifikasi, tetapi juga sebagai langkah pencegahan dini agar penyakit tidak menyebar ke wilayah lain atau ke orang lain,” jelasnya.
Berdasarkan hasil pemantauan pekan ini, tercatat sebanyak 31 kasus pneumonia, satu kasus ILI, serta sekitar 200 kasus ISPA hingga 5 Februari 2026.
Di sisi lain, kewaspadaan di fasilitas layanan kesehatan juga diperkuat melalui penerapan alat pelindung diri (APD) sesuai standar risiko.
“Petugas kesehatan tetap menggunakan APD saat melakukan pemeriksaan, terutama ketika bersentuhan dengan cairan atau droplet pasien,” ujarnya.
Solikhin menambahkan, secara klinis virus Nipah biasanya diawali dengan demam tinggi akut. Dalam beberapa kasus, penyakit ini dapat berkembang menjadi gangguan saraf seperti penurunan kesadaran hingga kejang.
Virus tersebut diketahui dapat menyerang otak dengan tingkat fatalitas cukup tinggi, yakni berkisar antara 40 hingga 75 persen.
Meski hingga kini belum ditemukan kasus virus Nipah di Indonesia, masyarakat diimbau tetap waspada dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
“Masyarakat tidak perlu panik, tetapi tetap waspada. Faktor risiko memang ada, namun di Indonesia saat ini belum ditemukan kasus,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
India Deportasi 2 Turis Inggris yang Tempel Stiker Free Palestine
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement




