Sempat Tertunda, Bulog Janji Akan Serap Gabah Petani

Aktivitas bongkar muat beras di Gudang Perum Bulog Divisi Regional DIY, Purwomartani, Kalasan, Sleman, Selasa (18/4). (JIBI/Harian Jogja - Gigih M. Hanafi)
04 Mei 2017 17:55 WIB Irwan A Syambudi Gunungkidul Share :

Perusahaan Umum Milik Negara Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) Divisi Regional (Divre) DIY berjanji akan tetap akan melakukan serapan terhadap gabah petani di Kabupaten Gunungkidul

 

 

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Setelah sebelumnya serapan gabah petani pada Maret hingga April lalu tertuda.

Baca juga :http://m.harianjogja.com/?p=813169">Penyerapan Gabah oleh Bulog Dihentikan, Petani Gunungkidul Jual ke Tengkulak

Perusahaan Umum Milik Negara Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) Divisi Regional (Divre) DIY berjanji akan tetap akan melakukan serapan terhadap gabah petani di Kabupaten Gunungkidul.

Pejabat Humas Bulog Divre DIY, Yudha Aji, mengatakan, tertundanya serapan gabah pada Maret hingga April 2017 di Desa Kampung, Kecamatan Ngawen, dikarenakan kualitas gabah belum memenuhi standar. Menurutnya gabah yang dihasilkan merupakan Gabah Kering Panen (GKP) yang masih basah dan memiliki kadar air hingga 25%.

Padahal Bulog meminta kadar air kurang dari 25%, Sehingga pihaknya tidak harus melakukan pengolahan lebih lanjut untuk menurunkan kadar air dalam beras.

Namun kata dia di Desa Kampung, petani beranggapan dengan menjemur GKP dapat meningkatkan kualitasnya menjadi Gabah Kering Giling (GKG). “Padahal mesti dilakukan uji kadar air terlebih dahulu," ujarnya, Rabu (3/5/2017).

Meski demikian, pihaknya berjanji akan tetap melakukan penyerapan gabah dari petani. Hal itu dengan melihat kualitas gabah serta menyesuaikan dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah dan beras, yang telah ditetapkan pada Instruksi Presiden Nomor 5/2015 tentang Kebijakan Pengadaan Gabah/Beras dan Penyaluran Beras Oleh Pemerintah.

Oleh sebab itu, pihaknya meminta kepada petani untuk tidak menjual gabah hasil panen kepada tengkulak. Hal ini untuk menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen dan produsen menjelang ramadan.

"Menjual ke tengkulak dapat merugikan bagi petani sendiri, oleh karena itu kami imbau tidak usah menjual ke tengkulak, kami akan tetap melakukan penyerapan, sampai saat ini sudah terserap 60 ton," kata Yudha.

Lanjutnya lagi, agar  petani tidak menjual ke tengkulak pihaka memfasilitasi petani dengan tiga saluran penyerapan Bulog, yakni GKP, GKG. dan juga beras. Untuk GKG  kadar air gabah tidak lebih dari 14%, sementara untuk GKP kadar air maksimal adalah 25%.

Demi memberikan pengetahuan petani terhadap setiap syarat pada saluran masing-masing itu, pihaknya gencar melakukan sosialialisai. ”Ada tim satuan kerja khusus yang memberikan edukasi terhadap petani terkait pengolahan gabah,” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Desa Kampung, Kecamatan Ngawen, Gunungkidul, Suparna, mengeluhkan macetnya serapan gabah petani oleh Bulog. Sehingga beberapa petani sempat menjual gabahnya ke tengkulak.

Padahal kata dia, kepada sejumlah petani, Bulog berjanji akan menyerap gabah dari petani. Terlebih menurutnya, sejak dilakukan sosialisasi di awal tahun lalu, koperasi petani telah menampung 22 ton gabah milik petani dan baru dibeli sekitar 10 ton oleh Bulog.

“Berdasarkan SK dari kementerian penyerapan hanya dilakukan sampai Agustus. Tapi dalam sebulan terakhir [April], Bulog tidak membeli lagi sehingga stok di koperasi menumpuk,” tutur dia.