PT AMI Berencana Buka Trayek ke Bandara Kulonprogo, Dengan Nama Trans Jogja?

Ilustrasi bus Damri (JIBI/Solopos - Dok.)
06 Mei 2017 06:22 WIB Sunartono Jogja Share :

PT AMI tengah mengembangkan kajian kebutuhan Bandara Kulonprogo

Harianjogja.com, JOGJA -- PT Anindya Mitra Internasional (AMI) selaku BUMD milik Pemda DIY berencana mengembangkan bisnis di bidang transportasi dengan membuka trayek dari Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) Kulonprogo menuju ke daerah strategis dan tempat wisata. Perencanaan yang ditarget bisa beroperasi pada 2019 itu mendapat sinyal lampu hijau dari DPRD DIY dalam pembahasan di Komisi B, Kamis (4/5/2017).

Direktur PT AMI Dyah Puspitasari menjelaskan, selain ingin berperan dalam pengembangan transportasi bandara, pihaknya berupaya menangkap peluang bisnis dengan beroperasinya NYIA 2019 mendatang. Konkretnya, PT AMI berencana membuka trayek baru di kawasan Bandara Kulonprogo sejenis Trans Jogja Grup. Ia meminta kepada Pemda DIY untuk membuat regulasi yang dapat mendukung rencana tersebut.

"Kami inginnya Trans Jogja, tetapi jika regulasi tidak memungkinkan itu kita bikin dua jenis. Bisa pakai nama lain, itu langsung dari bandara ke tempat strategis langsung, seperti damri. Alternatif kedua ada feeder [pengumpan] khusus sampai mana, lalu ditangkap Trans Jogja. Inginnya juga membuat dari bandara sampai ke Borobudur," terangnya seusai rapat di Komisi B DPRD DIY, Kamis (4/5/2017).

Dyah menambahkan, PT AMI merencanakan dua jenis angkutan bandara. Pertama, bus pariwisata, yang digadang menjadi murni bisnis sehingga perhitungan untung rugi. Tanpa didukung shelter, angkutan ini diharapkan dapat memanfaatkan peluang yang dapat menguntungkan secara ekonomi dalam mengangkut penumpang dari NYIA ke kawasan wisata.

Kedua, lanjutnya, transportasi publik yang bisa menjangkau daerah pariwisata dari bandara. Angkutan ini hampir menyerupai Trans Jogja dengan menggunakan shelter. Semangat transportasi ini adalah memberikan pelayanan publik terbaik bagi masyarakat. Dari kedua perencanaan itu, menurut Dyah, opsi kedua dinilai harus bisa terealisasi lebih awal.

"Untuk opsi pertama ketersediaan armada tidak perlu cepat, kita lihat kebutuhannya dulu. Tapi kalau yang kedua itu hubungannya dengan murni pelayanan, bahwa kemudian kita dapat keuntungan dari sana itu otomatis saja," ungkap dia.

Dyah memahami, rencana tersebut tentu harus dikomunikasikan utamanya dengan kru angkutan kota dalam provinsi (AKDP). Apalagi, saat ini banyak armada yang butuh peremajaan karena tidak layak jalan. Ia berharap ke depan ada kerjasama yang jelas dengan AKDP.

Karena kondisi pengelolaan transportasi saat ini di PT AMI hanya sebatas unit, kata Dyah, pihaknya akan membuat anak perusahaan yang bergerak di bidang transportasi. Sehingga saat memberikan layanan bandara semua sudah bisa berjalan dengan baik.

"Nanti akan bikin anak perusahaan biar lebih fokus. Kalau kami tidak mulai dari sekarang, sampai lima tahun ke depan saya nggak yakin akan berjalan optimal. Tetap akan kita fokuskan di masing sektor dengan cara alternatifnya," ujarnya.

Kabid Lalu Lintas Dinas Perhubungan DIY Ana Rina Hebranti mengatakan, prinsipnya saat ini Trans Jogja merupakan angkutan perkotaan. Sehingga terbatas ruang operasinya, seperti ke timur hingga Prambanan dan ke barat sampai park and ride Gamping. Karena itu, jika PT AMI akan membuat angkutan bandara tentu harus dengan unit lain yang berbeda dengan Trans Jogja. "Tetapi harus dengan kajian, kalau PT AMI [memiliki rencana] monggo saja, ada kajian dari berbagai sektor," ucapnya.

Dyah mengatakan, terkait kajian, ia menarget tahun 2017 telah selesai dilakukan dengan melibatkan ahli. Hasil kajian akan menjadi dasar terkait kebutuhan transportasi di kawasan bandara Kulonprogo ke depan.

Ketua Komisi B DPRD DIY Janu Ismadi menanggapi positif rencana PT AMI. Bahkan, secepatnya harus dipersiapkan, sehingga selaku BUMD, PT AMI bisa turut ambil bagian dan tidak ketinggalan oleh pihak swasta. Terutama bisa menghubungkan transportasi dengan kawasan objek wisata. Menurutnya harus ada pendekatan dengan Kementrian Perhubungan terkait rencana tersebut dengan harapan ada bantuan bus. Namun jika tidak ada bantuan bus dari pusat, PT AMI baiknya melakukan pengadaan sendiri untuk mendukung rencana itu.

"Tetapi tidak bisa dengan Trans Jogja karena perkotaan, harus bentuk lain, nama baru. Kami mendukung rencana itu, justru jangan sampai keduluan swasta, karena kita punya BUMD yang menangani transportasi," tegasnya.