Rendah Hati, Probosutedjo Suka Bangun Pagar
Mbah Kiyat, pemilik sekaligus pengrajin batik shibori menjemur batik yang telah dicelup di halaman rumahnya, Bekelan, Minggir pada Minggu (7/5/2017). (Harian Jogja/Sekar Langit Nariswari)
Batik shibori merupakan produk asal Minggir yang menawarkan keunikan pola motif sebagai daya tarik utamanya
Harianjogja.com, SLEMAN-Batik shibori merupakan produk asal Minggir yang menawarkan keunikan pola motif sebagai daya tarik utamanya. Pasalnya, motif batik ini dijamin tak akan sama persis karena tercipta dari ketelatenan pola lipatan dalam proses pembuatannya.
Shiborid diartikan sebagai mengikat, persis bagaimana proses penciptaan batik ini dilakukan. Frederikus Sukiyatman, karib disapa Mbah Kiyat, pengrajin batik ini menjelaskan jika produknya diciptakan dengan kain yang dilipat dengan pola sedemikian rupa yang diikat erat dengan karet lalu dicelup pewarna. Setelah itu barulan dijemur di bawah panas matahari hingga dirasa cukup.
“Karena itu motifnya tidak bisa ditentukan di awal, setelah dicelup baru tahu seperti apa rupanya,” terangnya pada Minggu (7/5/2017).
Menurutnya, ada banyak faktor yang menciptakan pola sebagai hasil pencelupan batik itu, Salah satunya yakni model ikatan, jenis kain, kekencangan ikatan, dan waktu pencelupan. Karena itu, sejak awal dia sudah menyampikan pada pembelinya jika akan sulir mencari motif yang sama persis.
Untuk bahan baku, ia memilik kain katun karena dirasa menyerap pewarna paling baik dan nyama dikenakan. Kain itu dicelup dengan pewarna sintetis yang aman bagi kulit. Mbah Kiyat menyebutkan jika pewarna sintetis lebih praktis dibandingkan pewarna alam.
Dengan pewarna alam, ia harus mencelupkan kain paling tidak 10 kali. Sementara dengan pewarna buatan, pencelupan hanya perlu dilakukan sekali saja. Namun, ia menjamin jika warna batiknya tidak akan luntur akibat proses pencucian.
Proses produksi batik ini dilakukannya sejak Agustus 2016 silam. Awalnya ia diajari salah satu keponakannya sampai kemudian tertarik mengembangkannya sendiri.
Ia mengerjakan semua prosesnya di kediamannya di Bekelan, Sendangagung, Minggir, Sleman dengan tekun sendirian. Per lembar batik dihargai Rp100.000 sampai Rp120.000 tergantung motif dan kesulitan.
Hasil kerjanya ini dipasarkan secara online dengan bantuan sosial media serta beberapa kali mengikuti pameran dari pemerintah. Hasilnya positf, pembelinya datang dari berbagai daerah hingga Malaysia.
Karena prosesnya yang termasuk sulit dan dikerjakan sendirian, ia hanya mampu membuat 20 lembar batik per bulannya. Semuanya juga masih dijual berupa kain dan belum sampai pada pakaian siap pakai.
Mbah Kiyat menjelaskan jika sulit mencari penjahit yang tepat untuk mengembangkan produknya dan membuat pakaian yang sesuai dengan minat pasar. Selama ini hanya segelintir yang dijahitnya untuk kemudian dipajang di rumah atau dikenakan sendiri.
Dari segi penjualan, ia juga masih sangat terbatas karena tak bisa memasarkan secara lokal. Harga jual kainnya dianggap terlalu mahal oleh warga setempat sehingga minim peminat.
Karena itulah, ia lebih mengandalkan sosial media yang pembelinya dianggap lebih memahami kesulitan, proses dan keunikan produknya.
“Kalau orang kampung kan maunya Rp50.000 sudah jadi pakaian siap pakai,”ujarnya sembari tertawa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Ratusan anak muda gelar konser di Titik Nol Jogja, suarakan perlawanan dan solidaritas di tengah isu kriminalisasi aktivis.
PAD pariwisata Sleman terus naik, tapi pertumbuhannya melambat. Ini penyebab dan data lengkapnya.
Penyalahgunaan obat-obatan tertentu di Jogja meningkat dan mengancam generasi muda. BPOM ungkap dampak serius hingga risiko kematian.
Buku Kampus Pergerakan diluncurkan saat 28 tahun Reformasi, mengulas sejarah panjang perjuangan mahasiswa sejak 1986.
Tiga calon Sekda Sleman sudah dikantongi Bupati. Tinggal tunggu restu Sri Sultan sebelum pelantikan.