Pendirian Sekolah Budi Pekerti Dibahas di Dewan

JIBI/Solopos/Ardiansyah Indra KumalaDalang cilik, Rakha Alfirdaus Hikmatyar memainkan wayang di SD Al Islam 2, Jamsaren, Solo, Kamis (19 - 12). Kegiatan wayang masuk sekolah tersebut untuk memberi pendidikan kepada siswa tentang budi pekerti.
17 Mei 2017 09:22 WIB Sunartono Jogja Share :

Sekolah Budi Pekerti terus dipersiapkan

Harianjogja.com, JOGJA- Pemda DIY dan DPRD DIY menanggapi rencana Yayasan Danurweda yang akan mendirikan sekolah budi pekerti. Sekolah dengan konsep nonformal mengajarkan nilai luhur kehidupan ini dibahas di Komisi D DPRD DIY, Selasa (16/5/2017).

Wakil Kepala Dinas Kebudayaan DIY Singgih Raharjo mengapresiasi Yayasan Danurweda yang memiliki ide mendirikan sekolah budi pekerti. Ia menilai, hal itu merupakan cita-cita yang luhur karena salahsatu tujuan pendidikannya membentuk generasi yang berbudaya. Apalagi saat ini, banyak masyarakat yang bertindak tidak mencerminkan budaya yang ada. "Kami mengapresiasi gagasan pendirian sekolah [budi pekerti]," ungkapnya dalam pertemuan itu kemarin.

Ketua Yayasan Danurweda Danu Handoko dalam kesempatan itu mengajukan sejumlah permohonan, seperti pemintaan pembebasan lahan menggunakan dana hibah dari dana keistimewaan. Selain itu ia berharap pula ada hibah bangunan hingga kemudahan perizinan baik dari Pemda DIY dan Pemkab Sleman.

"Sekolah budi pekerti ini nantinya merupakan nonformal dengan konsep di alam terbuka. Kami memberikan ajaran piwulang luhur, seperti cerita rakyat, agama, tembah dan nilai budaya lainnya seperti wayang juga batik," ungkap dia.

Menurutnya Yayasan Danurweda telah berdiri sejak dua tahun silam. Saat ini menempati lahan seluas satu hektare di Purwomartani, Kalasan, Sleman. Sekolahnya menyasar anak usia lima tahun hingga orangtua. "Saat ini nomenklatur masih sebagai taman budaya," ujarnya.