KLANGENAN JOGJA : JoKC Satukan Misi Jadikan Koi Terbaik Dalam Negeri

20 Mei 2017 16:22 WIB Jogja Share :

Klangenan Jogja kali ini dari komunitas Jogja Koi Club.

Harianjogja.com, JOGJA -- Menjaga eksistensi ikan KOI di Indonesia menjadi salah satu tujuan Jogja Koi Club (JoKC) selama ini. Tak hanya itu, upaya saling berbagi pengalaman antar penghobi, pembudidaya, dan juga pelaku usaha tentang budidaya ikan Koi telah dilakukan sejak 14 tahun yang lalu.

JoKC didirikan bersamaan dengan berdirinya Asosiasi Pencinta Koi Indonesia (APKI) pada 2003 lalu. APKI sendiri pada saat itu diprakasai oleh lima klub atau komunitas peinta KOI di Indonesia yakni Bandung, Jakarta, Semarang, Jogja, dan Blitar.

Ketua Umum JoKC, Eka Wiyandi mengatakan pada awal berdirinya JoKC justru saat eksistensi ikan KOI sedang ambruk total. Pada rentang tahun 2003-2005 komunitas Koi di Indonesia mengalami fase yang paling mengkhawatirkan. Pada saat tersebut tengah terjadi musibah nasional yakni adanya penyebaran virus pada Koi yang menyerang seluruh wilayah sebar Koi di Indonesia.

Semenjak peristiwa yang tak mengenakkan bagi komunitas Koi itu, akhirnya pemerintah Indonesia, saat itu mulai mengeluarkan standarisasi terkait perawatan ikan Koi yang baik dan benar. Selain itu, aturan lalu lintas Koi pun diperketat.

“Hingga akhirnya lepas tahun 2008 pergerakan pasar Ikan Koi kembali menggeliat dan dapat dikatakan memasuki fase aman,” kata Eka kepada Harianjogja.com, beberapa waktu lalu.

Sejak saat itulah sejumlah komunitas pencinta Koi mulai bermunculan. Jogja, saat itu yang didaulat menjadi leader diharapkan dapat memunculkan sebuah terobosan baru. Selain itu juga diupayakan dapat menciptakan tempat-tempat penghasil koi yang baru, khususnya di DIY.

Eka melanjutkan,sejak saat itu peran serta JoKC yakni untuk memfasilitasi petani ikan yang ada di DIY untuk dapat menjadi penghasil ikan KOI. Jogja menjadi salah satu kota yang memiliki peluang besar utnuk mengembangkan keberadaan ikan Koi selama ini. Dikatakannya, bahwa Jogja tidak kalah jauh terkait dengan sumber daya manusia yang mana sudah cukup unggul. Tak hanya itu, Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah pun dapat diandalkan dan berupaya untuk dioptimalkan.

“Hal tersebut menjadi tantangan sekaligus tugas utama JoKC sejak awal berdirinya,” kata dia.

Kerap kali Eka dan komunitas JoKC menggelar sejumlah kontes atau show yang diperuntukan menyatukan pencinta Ikan Koi di seluruh Indonesia. Salah satunya eperti event All Indonesia Young Koi Show 201 yang dilaksanakan di Hartono Mall pada 26 hingga 30 April lalu. Melalui event tersebut menjadi syiar atau pemecut bagi komunitas, masyarakat hingga petani untuk melihat langsung kualitas ikan Koi yang baik.

Menurutnya, event yang digelar tersebut membawa manfaat tersendiri. Diharapkan para petani akan menjadi bersemangat dalam membudidaya ikan Koi. Menurutnya, Koi adalah salah satu jenis ikan yang berkelas. Artinya apabila dilihat dari segi ekonomi dan bisnis, ikan mahal tersebut dapat memberikan keuntungan bahkan kesejahteraan bagi para pemeliharanya. Lebih jauh Eka mencontohkan, adanya perbandingan yang sangat terlihat antara pembudidaya ikan Koi dan para petani ikan tawar ataupun konsumsi. Perhitungannya, apabila memelihara ikan konsumsi atau air tawar dalam beberapa bulan hanya masuk dalam hitungan kiloan. Sementara penjualan ikan Koi hitungannya adalah satuan.

“Sehingga bila dibandingkan dengan koi kualitas yang bagus mungkin hampir sama income-nya dengan beberapa kilogram ikan air tawar,” ujarnya.

Ukuran Koi yang terbilang kecil pun sudah dapat memberikan peruntungan bagi pemeliharanya. Bahkan, Koi anakan pun dapat terjual dengan harga yang fantastis, yakni hingga Rp10juta-Rp15 juta per ekor dengan ukuran kecil di bawah 40 cm. Berbagai varietas unggul yang dikembangkan misalnya Kohaku (Koi dua warna- Orange-Putih), Showa Sanshoku (tiga warna, Orang- Putih- Hitam) pun memiliki nilai hingga ratusan juta rupiah setiap ekornya.

Misi Sebarkan Sosialisasi Standar Hidup Koi

 

Anggota JoKC yang kini berjumlah 54 anggota yang terdiri dari berbagai latar belakang seperti petani, pedagang, importir, serta penghobi tersebut berkomitmen untuk berusaha saling memberikan fasilitas berupa bantuan kepada petani yang ingin memelihara atau masyarakat yang akan berbisnis ikan Koi. Dengan begitu, ia berharap agar petani terus maju dalam hal ilmu pengetahuan memelihara ikan, dapat meningkatkan cara berpikir, serta pendapatannya.

Sebelum menyasar petani dan masyarakat, JoKC menyasar sejumlah wilayah di DIY yang memiliki sumber air bagus dan melimpah. Ikan Koi membutuhkan sumber air yang bagus, sehingga suatu daerah dengan potensi air yang bagus akan dirangkul baik petani maupun masyarakat untuk mau mengembangkan ikan KOI di daerah-nya. Sejauh ini, sejumlah wilayah yang menjadi fokus penyebaran ikan Koi yakni DIY bagian utara dan barat salah satunya yang sudah bergerak di wilayah Berbah, Sleman. Sementara target wilayah dalam waktu dekat yakni Bantul.

Tak dipungkiri, seperti ikan jenis lainnya, dalam keberlangsungan hidup Ikan Koi juga memperhatikan sejumlah kiat khusus agar pertumbuhannya mencapai hasil yang terbaik. Dari sejumlah hal, satu yang perlu diperhatikan yakni Kolam.

Kondisi Kolam untuk memelihara Ikan Koi mesti menjadi perhatian serius. Melalui poin tersebut, menurut Eka menjadi kunci bagi kehidupan Koi. Kola mikan mesti memiliki filter. Setiap hari pemelihara memberi makan ikan secara rutin, sehingga sisa makanan yang ada harus ditampung.

“Jika tidak ditampung maka sisa makanan akan membuat air menjadi keruh. Itu akan menjadi sumber penyakit dan racun yang ujungnya menyebabkan kematian Koi,” kata Eka.

Hingga kini, dunia masih mengarah pada negara Jepang sebagai kiblat Koi dunia. Jenis-jenis baru ikan Koi, hingga standar ikan koi terbaik masih terpaku dari negara matahari terbit tersebut. Tak perlu jauh lintas negara untuk mengetahui cara-cara terbaik pemeliharaan ikan Koi. Melalui JoKC, berupaya memberikan sosialisasi kepada para penghobi maupun petani. Komunitasnya memiliki kegiatan khusus yang disebut dengan ‘Visit Pond’ yakni giat kunjungan dari satu kola mikan Koi ke kolam lainnya di Jogja. Melalui kegiatan tersebut sekaligus memberikan pelatihan kepada petani secara gratis, memberikan informasi, sosialisasi budidaya ikan KOI yang baik dan benar, menyelesaikan permasalahan pada saat upaya budidaya ikan.

Diakuinya, anggota komunitasnya tersebut merupakan kumpulan penghobi yang memiliki ilmu terkait pemeliharaan ikan Koi. Berdasarkan pengalaman, selama ini para petani biasanya masih menggunakan ilmu warisan dalam merawat ikan Koi. Padahal, kenyataannya Ilmu dapat berubah setiap waktu juga semakin berkembang.

“Sebabnya ilmu pengetahuan tentang budidaya koi juga akan memengaruhi mutu atau kualitas dari ikan KOI tersebut,” katanya.

Ia berharap komunitas yang telah berjalan lebih dari 10 tahun tersebut dapat menjadi pintu gerbang bagi masyarakat yang ingin serius memulai menjadi penghobi Ikan Koi ataupun terjun di dunia bisnisnya. Eka sendiri mulai menjadi penghobi yakni sejak 2007 lalu. Awalnya ia hanya mencari tahu tentang KOI melalui browsing internet dan menemukan info terkait JoKC dan tertartik mengikuti program kegiatan komunitas. Hingga kini, komunitasnya tersebut tidak pernah membatasi setiap orang yang ingin bergabung dengan JoKC. Satu keinginan terbesar dari tujuan yang ingin dicapai JoKC yakni menjadikan Jogja sebagai kota penghasil Koi terbaik dalam negeri.