Teknologi Harus Membawa Kebahagiaan

25 Mei 2017 19:21 WIB Jogja Share :

Teknologi untuk kebahagiaan umat manusia menjadi pesan inti yang disampaikan Institute Sains dan Teknologi (IST) Akprind

Harianjogja.com, JOGJA - Teknologi untuk kebahagiaan umat manusia menjadi pesan inti yang disampaikan Institute Sains dan Teknologi (IST) Akprind saat pelepasan para wisudawan, Rabu (23/5/2017).

Rektor IST Akprind Amir Hamzah dalam sambutannya menegaskan, perkembangan sains dan teknologi telah mendorong perubahan dunia yang sangat cepat. Manusia terus memproduksi ilmu pengetahuan dan teknologi dengan kecepatan tinggi.

"Namun teknologi yang dikembangkan untuk memudahkan hidup dan meningkatkan kesejahteraan manusia ternyata belum memberikan kebahagiaan. Kita justru masih banyak merasakan dampak buruk dari produk teknologi," ujar Amir sebagaimana sambutan tertulis yang diterima Harianjogja.com, Rabu sore.

Sebagai contoh, jelas Amir, di Indonesia teknologi transportasi yang bertumpu pada produk luar negeri dengan kebijakaan impor kendaraan memberikan transportasi  yang sangat ruwet di hampir seluruh kota besar di Indonesia.

Amir menjabarkan, menurut WHO, pada tahun 2015 angka kecelakaan lalu lintas tertinggi di Asia terjadi di Indonesia (38.279 kematian di tahun 2015 atau 105 orang per hari mati karena kecelakaan).

Teknologi komunikasi  dan informasi, papar dia, juga telah mendorong munculnya kebebasan informasi yang juga mendorong penyebaran konten pornografi, perjudian, fitnah, dan penipuan.

Kemajuan sains dan teknologi juga belum menyumbangkan pada indeks kebahagiaan manusia. Menurut Word Happines Report 2017 (www.worldhappiness.report) yang dibuat PBB sejak 2012 untuk mengukur kebahagiaan manusia di muka bumi dengan membuat ranking kebahagiaan negara-negara di dunia yang menggunakan enam  parameter (pendapatan per kapita, sosial support, kesehatan dan harapan hidup, kebebasan membuat pilihan hidup, toleransi, dan persepsi korupsi). Dari hal itu Indonesia menduduki ranking 81 dari 155 negara.

Negara yang maju teknologi dan ekonominya ternyata bukanlah negara yang paling bahagia, seperti Jepang (urutan 51) dan Tiongkok (urutan 79). Negara yang dicatat sebagai paling bahagia adalah Norwegia Pada ranking pertama dan Denmark pada ranking kedua.

"Tentu kita boleh tidak setuju dengan hasil survei tersebut, tetapi setidaknya ada gambaran bahwa kemajuan sains dan Teknologi di satu negara tidak otomatis menjadikan penduduknya bahagia," papar dia.

Semuanya, menurut Amir, tentu berharap realisasi pengembangan IPTEK berbasis nilai-nilai agama akan dapat mengantar perkembangan IPTEK lebih mendukung kepada kebahagiaan manusia Indonesia.

"Sebagai seorang sarjana dan ahli madya yang akan segera terjun ke masyarakat, kita mestinya menyadari ada banyak persoalan kompleks di luar sains dan teknologi di negeri kita," katanya.

Adapun dalam kegiatan wisuda itu diikuti  203 orang lulusan yang terdiri dari 185 orang lulusan program sarjana dan 18 orang lulusan program diploma III. Lulusan tersebut meliputi 155 wisudawan dari Fakultas Teknologi Industri, 22 wisudawan dari Fakultas Sains Terapan, dan 26 wisudawan dari Fakultas Teknologi Mineral.

Pada wisuda kali ini, sebanyak  delapan wisudawan berhasil lulus dengan predikat cumlaude, dengan rata-rata IPK  3,67  dan masa studi  delapan semester. Lulusan terbaik pertama program sarjana diraih oleh saudara Rudi Nurbiantoro, dari program studi Teknik Industri, dengan IPK yaitu 3,91 dan masa studi tujuh semester; sedangkan untuk program Diploma 3 lulusan terbaik pertama diraih oleh saudara Arman Nur Erfian,  juga dari program studi Teknik Industri, dengan IPK 3,74 dan masa studi tujuh  semester.