KAMPUS JOGJA : Ratusan Anak Petani Sawit Kuliah di Instiper

Mahasiswa baru mengikuti pembukaan kuliah di Graha Instiper, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Senin (14/8/2017). (Sunartono/JIBI - Harian Jogja)
16 Agustus 2017 04:22 WIB Sunartono Sleman Share :

Kampus Jogja, Instiper memiliki beragam beasiswa

Harianjogja.com, SLEMAN - Ratusan anak petani perkebunan rakyat kelapa sawit memilih kuliah di Instiper Jogja. Provinsi Sumatera Utara yang memiliki banyak perkebunan sawit menjadi penyumbang mahasiswa terbesar bagi di kampus tersebut.

Rektor Instiper Purwadi menyatakan, mahasiswa baru di 2017 mencapai 858 orang. Dari jumlah itu, ada 134 mahasiswa penerima beasiswa, terdiri atas 10 penerima bidik misi dan 124 penerima beasiswa ikatan dinas dari perusahaan dan pemerintah daerah. Beasiswa ikatan dinas dari Pemda itu berasal dari Kabupaten Bungo sebanyak 15 mahasiswa. Beasiswa ikatan dinas merupakan program baru di 2017, yang mahasiswanya dididik untuk menjadi Sarjana Perkebunan Kelapa Sawit.

"Ini merupakan terobosan pertamakalinya [beasiswa ikatan dinas]. Ini upaya pengalihan pasar dari branding kami dari beasiswa ke perusahaan ke beasiswa Pemda," ungkapnya, Senin (14/8/2017)

Ia mengakui, tahun ini sebanyak 59% mahasiswa baru masuk dalam minat berbasis kelapa sawit. Pihaknya juga mendapat kepercayaan untuk mendidik 200 mahasiswa jenjang diploma satu dengan beasiswa penuh dari Badan Pengelola Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS). Calon mahasiswa ini berasal dari anak petani perkebunan rakyat kelapa sawit.

"Program ini sejatinya sudah berlangsung lima tahun dan telah meluluskan 22 kelas, baik untuk calon mandor kebun maupun operator pabrik di perkebunan sawit," tegasnya.

Ia menambahkan, jumlah mahasiswa baru tercatat 858 orang terbagi dalam 604 mahasiswa di Fakultas Pertanian dengan rincian Prodi Agroteknologi, 424 di Agribisnis 180 mahasiswa. Kemudian Fakultas Teknologi Pertanian menerima 148 mahasiswa terdiri atas 15 orang di Prodi Teknik Pertanian dan 97 orang di Teknologi Hasil Pertanian. Sedangkan Fakultas Kehutanan pada prodi Kehutanan sebanyak 106 mahasiswa.

Sumatera Utara, lanjut dia, menjadi penyumbang mahasiswa terbesar dengan komposisi mencapai 29% dari 858 mahasiswa yang diterima. Kemudian disusul Riau dengan persentase 20%, Kalimantan Tengah 7%, Jawa Tengah 6%, Jambi ada 5% dan siswa dari 23 provinsi lainnya di Indonesia. "Dalam konteks kepulauan 65% dari Pulau Sumatera, 15% Kalimantan dan 14% Jawa, sisanya kepulauan lainnya," terangnya.

Koordinator Kopertis Wilayah V Bambang Supriyadi menjelaskan, Instiper termasuk PTS yang memang banyak diincar masyarakat berlatarbelakang perkebunan seperti sawit. Karena itu tak heran, ketika Sumatera paling mendominasi sebagai maba di kampus ini. Apalagi saat ini ada sekitar 24 juta perkebunan nasional, sehingga lulusan bisa berkontribusi terhadap perkebunan tersebut. Sejalan dengan itu, ia mengingatkan kepada seluruh mahasiswa baru di Instiper harus menyelesaikan perkuliahan hingga memperoleh ijazah.

"Maksud saya anda [mahasiswa] serius belajar, benar-benar memanfaatkan kesempatan, jangan disia-siakan, sebagian besar dari sumatera, juga datang berbagai daerah, propinsi. Karena itu pandai-pandailah dalam bergaul," ucapnya.

Bambang mengatakan, Instiper berada di wilayah Depok, Sleman. Berdasarkan informasi yang ia dapatkan dari BNNP, bahwa kecamatan Depok memiliki tingkat peredaran narkoba yang besar daripada kecamatan lain di DIY. Karena itu, mahasiswa harus mewaspadainya dengan lebih arif dan pandai memilih teman dalam bergaul agar tidak terjerumus ke narkoba. "Jangan sampai pulang tidak membawa ijazan, tetapi malah ditangkap polisi karena narkoba," ujar dia.