Belum Genap Tiga Tahun, Amfiteater di Bantul Mangkrak

01 Februari 2018 05:40 WIB Rheisnayu Cyntara Bantul Share :

Amfiteater Sono Seneng terbengkalai setelah terdampak Badai Cempaka.

Harianjogja.com, BANTUL--Kondisi amfiteater Sono Seneng di kaki bukit Pedukuhan Wunut, Dusun Kedungmiri, Desa Sriharjo, Kecamatan Imogiri makin memperihatinkan pascabanjir pada akhir November lalu. Pasalnya pelataran panggung kini dipenuhi lumpur dan ditumbuhi ilalang yang lebat. Nyaris tidak ada lagi aktivitas kesenian yang dilakukan di panggung terbuka tersebut.

Pantauan Harianjogja.com di lapangan, kondisi amfiteater tersebut tak jauh beda terlihat seperti sawah di sekitarnya. Rerumputan dan ilalang tumbuh subur di sela-sela kursi panggung terbuka yang dibuat secara permanen oleh Dinas Pariwisata DIY itu. Sedangkan pelataran amfiteater yang berbentuk lingkaran di tengah dan lebih rendah dari sekitarnya, penuh dengan lumpur.

Kepala Dusun Wunut, Sugiyanto membenarkan amfiteater tersebut dibangun dengan dana sebesar Rp400 juta pada 2015 lalu. Kala itu, amfiteater sempat dimanfaatkan untuk lokasi Festival Sewu Kitiran dengan pendampingan dari UGM. Namun menurutnya pendampingan tersebut sudah berakhir pada 2017 dan hingga kini ia belum dapat menjamin keberlangsungan salah satu daya tarik wisata tersebut. Sehingga otomatis amfiteater Sono Seneng pun nyaris tak pernah dimanfaatkan kembali. “Kami ada pendampingan lagi dari Trisakti, inginnya ya menghidupkan [festival] lagi. Tapi kondisinya setelah banjir tidak memungkinkan,” katanya, Rabu (31/1/2018). Ia menjelaskan, sebenarnya sejumlah pentas kesenian akan digelar di amfiteater Sono Seneng. Namun karena kondisinya tidak layak, serangkaian pentas tersebut akhirnya dibatalkan.

Sugiyanto mengakui kondisi amfiteater makin parah pascabanjir akhir November lalu. Material lumpur dari luapan Sungai Oya masuk ke pelataran panggung. Sedangkan untuk membersihkannya, warga cukup kesulitan. Itu diperparah dengan genangan air yang masuk ke pelataran panggung yang berasal dari lahan pertanian di sekitarnya. Untuk membuat pelataran panggung kering, menurutnya perlu dibuat jaringan drainase. Sementara itu, sisi barat amfiteater juga terus digerus aliran air sungai di sampingnya.  Apalagi saat musim penghujan seperti ini, kikisan air makin mendekati punggung. "Harusnya dipasang talut, tetapi dari mana sumber dananya?," ucapnya.

Kepala Dispar DIY, Aris Riyanta sempat menyatakan kekecewannya dengan tak terurusnya aset tersebut. Ia mengaku, saat membangun aset tersebut, Pemerintah DIY berharap banyak akan bergeliatnya potensi wisata di kawasan Desa Wisata Srikeminut. Menurutnya persoalan ini seharusnya menjadi perhatian Pemkab Bantul, Dispar Bantul sebagai instansi teknis juga seharusnya bisa melakukan pendampingan. “Kami membangun aset itu bukan tanpa alasan. Sebelumnya, kami juga sudah berdiskusi dengan masyarakat,” ujarnya kala itu.