Membakar Energi Negatif lewat Ogoh-Ogoh

11 Maret 2018 16:20 WIB I Ketut Sawitra Mustika Jogja Share :

Dalam pawai itu juga disertakan kesenian lokal dengan harapan persaudaraan dan kerukunan bisa terwujud

Harianjogja.com, JOGJA-Ogoh-ogoh yang diarak sepanjang Malioboro berhasil memukau wisatawan dan masyarakat Jogja, Sabtu (10/3). Dalam pawai itu juga disertakan kesenian lokal dengan harapan persaudaraan dan kerukunan bisa terwujud, karena bersama tak perlu sama.

Pawai Budaya dan Ogoh-Ogoh 2018 yang dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Raya Nyepi 1940 Caka dibuka dengan iring-iringan bergada yang merupakan utusan dari Pemerintah Kabupaten Bantul. Di belakangnya, menyusul ogoh-ogoh beraneka rupa.

Dengan dipandu gamelan baleganjur, satu persatu ogoh-ogoh melintas di aspal panas Jalan Malioboro. Masing-masing rombongan punya waktu dua menit untuk menari-nari di depan panggung utama yang berlokasi di Titik Nol KM.

Ada 15 ogoh-ogoh yang memeriahkan pawai. Bentuknya bermacam-macam. Tapi beberapa di antaranya mempunyai kesamaan: menampilkan persona raksasa atau yang disebut dengan buta kala oleh masyarakat Hindu Bali.

Peserta yang sebagian besar adalah mahasiswa asal Bali yang menuntut ilmu di DIY, membuat ogoh-ogoh dengan mengambil bentuk-bentuk klasik, seperti celuluk, buta ijo, buta kuning dan parakasura. Ada pula yang mengangkat kisah duo bersaudara, Subali Sugriwa yang harus saling tikam karena adanya kesalahan paham. Ukuran ogoh-ogoh dalam pawai ini tak sebesar ogoh-ogoh yang ada di Bali sana.

Namun, hal itu tidak mengurangi kemeriahan pawai. Ogoh-ogoh seakan digerakkan oleh lantunan nada gamelan yang melantun cepat. Setiap kali ogoh-ogoh berada di depan Benteng Vredeburg, tempo gamelan dipercepat dan sejurus kemudian para pengarak berlari sambil berteriak-teriak. Di depan panggung utama, ogoh-ogoh bergerak seperti kesetanan. Bergoyang ke depan dan ke belakang. Memutar-mutar mengikuti nada.

Setiap kali adegan itu muncul, setiap itu pula penonton sibuk mengarahkan telepon pintarnya demi mendapatkan gambar yang apik. Supaya adegan tidak monoton, para pemuda-pemuda itu kadang berimprovisasi.

Skenarionya seperti ini: ogoh-ogoh buta ijo datang dari arah utara dengan kecepatan tinggi. Dari arah sebaliknya ogoh-ogoh buta kuning pun berlari cepat menyongsong. Penonton suka adegan ini.

Perlu diketahui, ogoh-ogoh adalah karya seni patung yang identik dengan perayaan Nyepi. Medio 1980-an adalah awal dari berkembangnya seni ini. Ogoh-ogoh dibuat sebagai simbol energi negatif yang senantiasa melingkupi dunia, karena itu sosok yang ditampilkan kebanyakan yang seram-seram. Mereka-mereka yang dianggap sebagai penghuni dunia bawah dan selalu ingin menghancurkan dunia entah kenapa.

Dalam ritualnya, ogoh-ogoh akan diarak di simpang-simpang desa pada saat Tawur Agunh Kesanga atau sehari menjelang Hari Raya Nyepi. Setelah itu mereka akan dibakar habis. Pembakaran adalah simbol dari pelenyapan energi-energi negatif. Sehingga esoknya, umat Hindu bisa menjalani Catur Brata Penyepian dengan khidmat.

Ogoh-ogoh yang ditampilkan pada Pawai Budaya kemarin dari sisi kualitas dan ukuran memang kalah dibanding dengan yang ada di Pulau Dewata. Tapi, harus diakui, beberapa di antaranya patut diapresiasi. Salah satunya adalah ogoh-ogoh Wanara Murka yang dibuat oleh Keluarga Mahasiswa Hindu Darma (KMHD) Institute Seni Indonesia (ISI) Jogja.

Karya yang mereka buat sangat memperhatikan detail. Bulu-bulunya sekilas nampak seperti asli. Aura kemarahan dan kedengkian si wanara murka sangat terasa. Dengan dada bidang dan kuku panjang yang tajam, seakan-akan wanara ini siap membumihanguskan sebuah kerajaan seorang diri.

Entah karena memang yang paling terbaik atau bagaimana, Wanara Murka sengaja ditampilkan sebagai penutup Pawai Budaya dan Ogoh-Ogoh. Tentu, ogoh-ogoh tangan yang memegang gelas kuning bertuliskan Extra Joss, yang tampil setelahnya bisa dikesampingkan sejenak. Hari sudah sore, para pemuda yang berseragam udeng, kain dan sepatu itu pun pulang ke tempatnya masing-masing.

Ketua Umum Panitia Nyepi DIY Tahun Caka 1940 I Komang Kesuma mengatakan, Nyepi tahun ini mengangkat tema Dengan Semangat Brata Penyepian Tahun Caka 1940, Umat Hindu DIY Memantapkan Kerukunan Persaudaraan Sejati. Pawai budaya pun berusaha untuk meneguhkan semangat yang diusung.

Ia menyatakan, meskipun titelnya adalah Pawai Budaya dan Ogoh-Ogoh, tapi pesertanya tak semua adalah masyarakat Hindu Bali yang merantau ke Bumi Mataram. Peserta, menurut dia, juga berasal dari lintas agama. Kesenian DIY juga turut dipentaskan. Hal ini dilakukan untuk semakin memperteguh kerukunan dan persaduaraan yang sudah terjalin.

Pada 16 Maret 2018 nanti atau saat Tawur Agung Kesanga, ogoh-ogoh akan diarak kembali di tiga pura di DIY, yakni Pura Padma Bhuana Baciro, Pura Jagatnata Banguntapan, dan Pura Widya Dharma. Setelah diarak, ogoh-ogoh akan dibakar habis

"Ogoh-ogoh adalah wujud dari buta kala. Dengan dibakarnya ogoh-ogoh maka energi-energi negatif akan sirna. Sehingga tidak hanya bisa memberikan efek positif bagi diri sendiri saja, tapi bagi Indonesia dan seluruh alam semesta," ujarnya.