Advertisement
Total 12 Orang Jadi Tersangka Ricuh di Pertigaan UIN Sunan Kalijaga Jogja

Advertisement
Harianjogja.com, SLEMAN- Polda DIY kembali menetapkan tersangka baru pascademonstrasi berujung ricuh di Pertigaan UIN Sunan Kalijaga Jogja, Selasa (1/5/2018) lalu.
Direktur Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda DIY, Kombes Pol Hadi Utomo mengatakan dari hasil penyidikan dan keterangan saksi yang telah diperiksa telah ada delapan tersangka baru dalam kasus demo yang berujung pembakaran pos polisi itu.
Advertisement
Sehingga total ada 12 tersangka setelah sebelumnya telah ditetapkan tiga orang tersangka kasus kericuhan, serta satu orang tersangka dari masa aksi yang positif menggunakan narkoba dan belakangan juga diketahui terlibat kericuhan.
"Kami menetapkan 12 orang sebagai tersangka dengan berbagai peran masing-masing sesuai dengan apa yang dilakukan saat peristiwa itu terjadi," katanya saat jumpa pers di Polda DIY, Kamis (3/5/2018).
Ke depan tersangka tersebut ditahan atas tuduhan pelanggaran pasal yang berbeda- beda dan lebih dari satu pasal. Di antaranya adalah pasal 187, 170, dan 406 KUHP dengan ancaman hukuman di atas lima tahun penjara. "Penahanan dilakukan dengan alasan takut mengulangi perbuatan, mempersulit penyelidikan, dan lain sebagainya," kata dia.
Koalisi mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Aksi Satu Mei (Geram) membantah terlibat dalam aksi pembakaran pos polisi di pertigaan UIN Sunan Kalijaga, Jogja pada peringatan hari buruh, Selasa (1/5/2018).
Geram menilai aksi mahasiswa disusupi orang tak dikenal berpakaian hitam dan mengenakan penutup wajah.
Faizi Zain, Ketua PC PMII yang merupakan salah satu elemen Geram saat dikonfirmasi Harianjogja.com menceritakan saat massa aksi diwakili Kordum hendak melakukan pernyataan sikap (bertanda akan berakhirnya aksi), tanpa sepengetahuan Kordum, masuk sekolelompok orang dengan ciri-ciri berpakaian gelap (hitam), memakai jaket, penutup kepala serta penutup wajah, mereka tiba-tiba merusak dan membakar pos polisi menggunakan bom molotov, melakukan vandalisme serta tindakan-tindakan anarkis lainnya yang memancing keributan dan merugikan.
Ia juga menegaskan massa aksi tak pernah membuat tulisan provokasi soal "Bunuh Sultan" yang kini viral di media sosial. "Tulisan bunuh Sultan dan lainnya itu bukan dari massa aksi yang resmi. Tulisan itu ada di pertengahan aksi," tegas Faizi Zain, Rabu (2/5/2018).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement

Polres Wonogiri Tangkap Guru Silat yang Cabuli 7 Murid Perempuan
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Talut Ambrol di Jalur Clongop Gedangsari Diperbaiki dengan Anggaran Rp15 Miliar
- Kendaraan Keluar DIY Via Entry Tol Tamanmartani Meningkat, Sempat Dekati 1.000 Kendaraan Per Jam
- Jalur Wisata Pantai di Gunungkidul Ramai Lancar
- H+3 Lebaran, Arus Lalu Lintas Kawasan Malioboro Padat Merayap
- H+3 Lebaran 2025, Pantai Parangtritis Dikunjungi 14.000 Wisatawan
Advertisement
Advertisement