Kekeringan Landa 17 Kapanewon di Gunungkidul, 14 Juta Liter Air Bersih Disalurkan
Kekeringan melanda 17 kapanewon di Gunungkidul. Sebanyak 2.811 tangki atau 14,05 juta liter air bersih telah disalurkan.
Sejumlah warga Legundi, Desa Planjan, Kecamatan Saptosari, mengambil air dari bocoran pipa PDAM, Senin (20/8). /Harian Jogja-Herlambang Jati Kusumo
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL– Kekeringan di wilayah Gunungkidul terus meluas dan menyasar 15 kecamatan. Hal ini terlihat data dari BPBD, dari 18 kecamatan, yang benar-benar bebas dari masalah krisis air hanya di Wonosari, Playen dan Karangmojo.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul Edy Basuki mengatakan, memasuki akhir tahun jumlah kekeringan di Gunungkidul makin meluas. Kondisi ini terjadi karena kondisi cuaca yang menunjukan akan datang musim hujan. Hal ini ini pun berakibat pada jumlah kecamatan yang mengalami kekeringan.
“Dari 18 kecamatan yang benar-benar tidak terjadi kekeringan ada di tiga kecamatan, yakni WOnosari, Playen dan Karangmojo. Selebihnya di 15 kecamatan ada masalah dengan pasokan kebutuhan air bersih,” kata Edy, Kamis (18/10/2018).
Dijelaskannya, kekeringan yang makin meluas ini memberikan dampak ke 122.104 jiwa mengalami krisis air bersih. Total selama kekeringan terjadi sebanyak 4.930 rit air bersih telah disalurkan ke masyarakat. Jumlah ini merupakan total dari droping yang disalurkan oleh BPBD, kecamatan maupun bantuan dari pihak ketiga.
“Besok [hari ini] kami akan lakukan koordinasi untuk update data kekeringan terkini dan apakah perlu menetapkan status tanggap darurat kekeringan,” ungkap mantan Sekretaris Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah ini.
Kepala Dusun Kalangan, Desa Kalitekuk, kecamatan Semin, Surayah mengatakan, sebagian besar wilayahnya sudah sangat krisis air. Menurutnya, warganya kesulitan memperoleh air bersih karena debit air di spamdus yang dimiliki menurun drastis sejak dua bulan lalu. “Debitnya kecil karena dari 120 Kepala Keluarga, instalasi air yang dimiliki [jaringan spamdus] hanya mencukupi untuk tujuh KK,” katanya.
Dia mengungkapkan kondisi ini membuat warga pasrah dan harus mencari sumber air yang terdekat. “Kalau mampu bisa menyambung saluran spamdus dari dusun lain. Tapi yang tidak mampu harus mencukupi dengan mencari air ke dusun atau desa yang lain,” katanya.
Hal tak jauh berbeda diungkapkan oleh Kepala Seksi Kesejahteraan Sosial, Kecamatan Girisubo, Arif Yahya. Menurut dia, penyaluran air bersih yang dilakukan pemerintah belum mencukupi kebutuhan masyarakat. Untuk pemenuhan tersebut, selain masyarakat membeli swadaya, juga terus berkoordinasi dengan pihak ketiga agar ikut memberikan bantuan.
“Salah satu kekeringan terparah terjadi di Desa Songbanyu. Harga satu tangki air di sana mencapai Rp200.000,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kekeringan melanda 17 kapanewon di Gunungkidul. Sebanyak 2.811 tangki atau 14,05 juta liter air bersih telah disalurkan.
Mobil yang sering terpapar matahari berisiko mengalami kerusakan pada interior, cat, ban, baterai, dan elektronik. Simak dampak serta cara menguranginya.
Rapat paripurna dibuka dan terbuka untuk umum, agenda paripurna kemudian dilanjutkan dengan penyampaian laporan Badan Anggaran (Banggar) DPRD Kabupaten Magelang
PSS Sleman kalah 1-2 dari Dewa United. Pieter Huistra menilai timnya kurang beruntung, sedangkan Fachruddin menyoroti hilangnya fokus.
Veda Ega Pratama kecewa gagal finis empat besar setelah terkena long lap penalty di Moto3 Austria 2026. Ia tetap membawa pulang tiga poin.
PSIM Jogja meliburkan skuad hingga 26 September saat jeda FIFA Matchday. Manajemen mengevaluasi hasil tiga laga sebelum menghadapi Persija pada 10 Oktober.