Hoaks Menjadi Tantangan Pemuda Saat Ini

Budiman Sujdatmiko dalam diskusi memperingati sumpah pemuda, bertema Sumpah Pemuda 4.0: Pemuda di Era Big Data, di Gedung Fisipol UGM, Minggu (28/10/2018)./Harian Jogja - /Herlambang Jati Kusumo
29 Oktober 2018 11:10 WIB Herlambang Jati Kusumo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Berita bohong atau hoaks masih menjadi tantangan utama di era milineal ini. Pemuda dituntut dapat berpikir kritis agar tidak mudah termakan isu hoaks.

Hal ini disampaikan Ketua Inovator 4.0 Indonesia Budiman Sudjatmiko dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Youth Studies Centre (YouSure), Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol), UGM, yang memperingati sumpah pemuda bertema Sumpah Pemuda 4.0: Pemuda di Era Big Data, di Gedung Fisipol UGM, Minggu (28/10/2018).

"Di tahun politik tantangan melawan hoaks semakin banyak. Saat ini propaganda Firehose of Falsehoods seperti sedang dimainkan. Tujuannya agar masyarakat tidak percaya terhadap suatu informasi," ujar Budiman.

Budiman menjelaskan bagaimana mengenali metode propaganda tersebut. Ciri utama model propaganda itu, pertama, berusaha mendapatkan perhatian media meskipun dengan cara konyol. Kedua, melemparkan pernyataan-pernyataan yang bentuknya partial truth atau bahkan bohong. Ketiga, melakukan semua itu secara berulang-ulang dan terus menurus.

Ketika diverifikasi dengan Fact Checking dengan mudah mengakui kesalahannya. Kemudian bagian paling penting adalah menuduh jika lawan politiknya juga melakukan kebohongan atau semua orang berbohong, dan membangun kebencian dan ketakutan.

Untuk menyamgkal false claim propaganda forehose ini, Budiman mengatakan jangan pernah menyangkal langsung, karena secara psikologi penyangkalan hanya akan memperkuat klaim sebelumnya. Kedua, jangan menjawab dengan menjejali berbagai data-data yang rumit. Ketiga, memberikan alternatif cerita. Karena model propaganda tersebut akan dilakukan secara terus menerus maka cara terbaik adalah tidak terjebak untuk menjawab semua tuduhan satu persatu

Peneliti YouSure dan dosen Fisipol UGM, Novi Kurnia mengungkapkan tantangan informasi saat ini berbeda dengan tantangan di masa lalu. "Problem dahulu mencari informasi masih sulit. Namun saat ini problem bukan lagi mencari informasi, namun memilih mana yang akurat sesuai kebutuhan. Hoaks adalah satu problem masyarakat digital yang paling kuat," ujarnya.

Hoaks paling banyak pada perihal atau tema politik. Meski ada tantangan tersebut, ada beberapa hal yang menurut dia dapat mencegah hoaks. Yakni, menguasai cara akses informasi melalui media digital, seleksi informasi, memastikan sumber terpercaya, tidak mudah terkecoh informasi foto atau video provokatif. Lalu pahami informasi, bersikap terbuka atas informasi lain, bertanya pada ahlinya.

Selanjutnya analisis informasi, perhatikan konteks sosial yang relevan. Verifikasi informasi,lihat informasi lain dari sumber berbeda, manfaatkan fact-checker. Evaluasi informasi secara kritis, mempertimbangkan risiko jika informasi itu dibagikan. Hanya bagikan informasi jika akurat dan bermanfaat bagi orang lain. Mengupayakan produksi sendiri informasi yang akurat. Berpartisipasi mengajak orang lain berpikir sebelum berbagi informasi. Terakhir berkolaborasi dengan orang lain dalam forum atau komunitas untuk melawan hoaks.