Muda Mudi Hakka Rayakan Festival Ronde

Para muda mudi Paguyuban Hakka Jogja merayakan Festival Ronde dengan membuat ronde bersama-sama. - Ist
27 Desember 2018 09:33 WIB Rheisnayu Cyntara Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Masyarakat Tionghoa memiliki festival unik yang beragam, salah satunya festival musim dingin atau Dong Zhi Jie atau dikenal juga sebagai Festival Ronde yang diadakan pada 22 Desember berdasarkan kalender Masehi atau bertepatan dengan Hari Ibu. Salah satu yang turut merayakannya adalah Ako Amoi Hakka Jogja bersama para Muda Mudi Paguyuban Hakka Jogja.

Mereka merayakan festival ini dengan membuat ronde bersama-sama di Rumah Hakka Jogja. Ronde ini dibuat dari tepung beras tanpa isi, melambangkan eratnya ikatan persaudaraan dan air gula dan jahe manis melambangkan hubungan antarkeluarga yang manis. Namun pada perkembanganya ronde kini dibuat dari berbagai bahan. Tak hanya tepung beras, bisa juga kentang tumbuk. Selain itu isiannya juga semakin beragam, bisa berupa kacang tanah atau bahkan cokelat.

Tokoh Tionghoa Jogja, Jimmy Sutanto mengatakan wedang ronde ini sebenarnya memang kuliner asal Tiongkok yang kemudian diterima dengan baik dalam khazanah kuliner Nusantara. Namun menurutnya, ada perbedaan penyajian antara wedang ronde ala Tiongkok dengan Indonesia. Di Tiongkok, wedang ronde cukup disajikan dengan kuah jahe. Sedangkan di Indonesia kuah jahe yang hangat tersebut masih ditambah dengan kolang-kaling dan kacang tanah. “Itu menjadi bukti kuliner asal Tiongkok diterima dengan baik di sini,” katanya kepada Harian Jogja, Rabu (26/12).

Namun Jimmy menyayangkan Festival Ronde ini makin jarang dilakukan oleh generasi sekarang. Padahal festival ini sudah berumur cukup lama karena mulai dirayakan sejak masa dinasti Han (206-220 SM). Pada zaman Dinasti Song (1127-1152 M) festival ini dilaksanakan dengan sembahyang arwah leluhur dan lima unsur di bumi yang terdiri dari logam, air, api, tanah, dan kayu. Sedangkan pada zaman Dinasti Qing (1644-1911 M) perayaan Ronde menjadi salah satu perayan penting di China dan daerah migrasi, tak terkecuali Indonesia.

Jimmy menyebut salah satu penyebab makin jarangnya festival ini diadakan karena tidak ada musim dingin di Indonesia sehingga masyarakat Tionghoa yang tinggal di Indonesia merasa terpisah dengan akar budayanya yang ada di Tiongkok. Mereka merasa kesulitan untuk menemukan atmosfer musim dingin karena Indonesia hanya memiliki dua musim yakni kemarau dan penghujan. Hal itu terus terjadi hingga era para generasi muda Tiongkok. Padahal festival ini punya beragam makna dan mempunyai berbagai kepercayaan yang menarik. Di antaranya saat makan ronde seseorang akan menyesuaikan dengan usia kemudian menambahkan satu sebagai lambang pengharapan agar usia bertambah lagi. Kepercayaan lainnya, jika ada anggota keluarga yang hamil membakar ronde, jika pecah maka bayinya berjenis kelamin perempuan namun kalau tetap utuh berjenis kelamin laki-laki.

"Beda dengan Imlek yang menjadi ajang silaturahmi, perayaan ronde hanya dirayakan oleh keluarga. Mereka berkumpul, membuat ronde, menikmatinya, dan berdoa bersama. Ronde yang berbentuk bulat melambangkan keutuhan, persatuan, harmoni keluarga, dan juga lambang keseimbangan alam atau Yin Yang," ujar Jimmy.