Anggaran Pilur Serentak Gunungkidul 2027 Naik Jadi Rp4,6 Miliar, Ini Alasannya
Pilur serentak Gunungkidul 2027 direncanakan di 55 kalurahan dengan kebutuhan anggaran Rp4,6 miliar, naik dari Rp2,6 miliar pada 2025.
Kegiatan FGD tentang review perda RTRW di Rumah Makan Jodhang Jowo, Desa Karangrejek, Wonosari, Kamis (31/1/2019). /Harian Jogja-David Kurniawan.
Harianjogja.com, WONOSARI – Bupati Gunungkidul Badingah menyadari betul pentingnya melakukan review terhadap Perda No.6/2011 tentang Rencana Tata Ruang dan Wilayah 2010-2030. Hal ini disampaikan pada saat membuka focus group discussion (FGD) review tentang Perda RTRW di Rumah Makan Jodhang Jawa, di Desa Karangrejek, Wonosari, Kamis (31/1/2019).
Menurut dia, salah satu pokok bahasan yang harus diselesaikan adalah masalah bentang alam karst di Gunungkidul. Dari sisi luasan, 53% wilayah di Bumi Handayani masuk dalam kategori ini sehingga keberadaannya sangat berpengaruh terhadap rencana pembangunan yang dimiliki. “Ini jadi pekerjaan rumah [PR] yang harus diselesaikan karena menyangkut dengan masalah pembangunan yang akan dilakukan,” kata Badingah.
Ia mengatakan dengan luasan bentang alam karst yang lebih dari setengah wilayah di Gunungkidul membuat para investor bingung pada saat akan menanamkan modalnya. “Ya saya sudah sering mendapatkan keluhan karena di sisi lain dengan adanya bentang alam karst pemilik modal takut melanggar aturan. Padahal dari sisi modal mereka menyiapkan dan sudah memiliki tanah, tapi belum dibangun,” ungkapnya.
Badingah pun berharap dengan review RTRW dapat mengakomodasi sehingga pemodal tetap dapat berinvestasi dengan aman tanpa melanggar aturan. “Saya kira bisa diakomodasi karena bentang karst ada yang masuk ke zona lindung dan budidaya. Jadi kalau ada kejelasan terkait zonasi, maka akan baik dalam upaya invesatai di Gunungkidul karena adanya kejelasan dalam berusaha maupun perizinannya,” imbuhnya.
Kepala Bidang Pengaturan dan Pembinaan Tata Ruang, Dinas Pertanahan dan Tata Ruang Gunungkidul Jatmiko Sutopo mengatakan, instruksi dari bupati akan jadi bahan masukan dalam penyusunan review RTRW. Namun demikian, pada prosesnya harus tetap mengacu pada aturan di atasnya dan juga perda RTRW di tingkat provinsi maupun nasional. “Akan kita lihat. Yang jelas, untuk bentang karst ada zona lindung dan zona budidaya,” katanya.
Jatmiko mengatakan, untuk zona lindung masuk ke dalam kawasan konservasi sehingga keberadaannya tetap harus dilestarikan. Sedangkan untuk zona budidaya bisa dimanfaatkan sebagai lokasi peruntukan berusaha. “Nanti akan kita clear-kan sehingga jelas mana yang peruntukan budidaya dan dimana kawasan lindung,” ungkapnya.
Dijelaskannya, untuk review tidak hanya menyangkut masalah bentang alam karst. Namun juga membahas sektor lain seperti lahan pertanian abadi, pengembangan sektor wisata hingga kawasan perindustrian dan peternakan. “Saat ini masih dalam proses. Salah satunya dengan penyelenggaraan FGD pada hari ini [kemarin],” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pilur serentak Gunungkidul 2027 direncanakan di 55 kalurahan dengan kebutuhan anggaran Rp4,6 miliar, naik dari Rp2,6 miliar pada 2025.
Cek jadwal KRL Jogja-Solo, 15 waktu keberangkatan dari Jogja ke Palur, daftar stasiun pemberhentian, dan tarif tiket Rp8.000.
Aigner merilis koleksi Munich di Indonesia melalui Adtime. Simak 18 tipe jam tangan terbaru dan strategi pengembangan bisnis merek ini.
Indonesia dan Singapura berencana membentuk satgas bersama untuk menindak korporasi yang diduga terlibat karhutla melalui pertukaran informasi dan bukti lintas
Ditjen Imigrasi mendeportasi warga Tiongkok berinisial SS yang masuk red notice Interpol dan DPO terkait dugaan pencucian uang di negara asalnya.
Kia Carens EV membuka pemesanan awal di Indonesia mulai 26 Oktober 2026. Simak empat varian, estimasi harga, dan fitur unggulannya.