BPAD DIY Sosialisasikan Anti-Napza lewat Bedah Pustaka

Anggota Komisi D DPRD DIY, Danang Wahyu Broto menyampaikan materi dalam bedah buku di Balai Desa Timbulharjo, Sewon, Bantul, Kamis (7/2/2019). - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
07 Februari 2019 20:20 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) DIY bersama Komisi D DPRD DIY mengajak masyarakat untuk mengenali ancaman dan bahaya narkoba, serta upaya penanggulangan bagi anak yang terkena narkoba.

Sosialisasi itu dilakukan dalam bentuk diskusi dan bedah buku berjudul Napza: Ancaman, Bahaya, Regulasi, dan Solusi Penanggulangannya yang digelar di Balai Desa Timbulharjo, Sewon, Bantul, Kamis (7/2/2019). Buku karya Aulia Fadhli itu mengupas soal jenis narkoba, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (napza).

Tak hanya itu, buku setebal 166 halaman tersebut juga membahas soal sejarah, undang-undang psikotropika dan narkoba, fenomena peredaran narkoba, penegakan hukum yang terjerat narkoba, hingga adanya proses rehabilitasi. "Saat ini penindakan narkoba lebih manusiawi selain penindakan ada langkah-langkah pembinaan melalui rehabilitasi. Tidak melulu masuk penjara," kata Aulia dalam diskusi tersebut.

Kepala Seksi Pengembangan Minat dan Budaya Baca BPAD DIY, Aris Widiyanto mengatakan diskusi dan bedah buku di Timbulharjo merupakan bagian dari upaya menggelorakan minat baca masyarakat. Sedangkan terkait dengan pemilihan materi napza, kata dia, karena berdasarkan usulan masyarakat, Kecamatan Sewon merupakan salah satu wilayah yang rawan peredaran narkoba. “Dari diskusi dan bedah buku ini masyarakat diharapkan memahami ancaman dan bahaya narkoba serta mengetahui cara menanggulaninya," kata Aris.

Tidak hanya buku soal napza, Aris mengajak masyarakat untuk gemar membaca buku lainnya yang bisa diakses di perpustakaan desa. Sejauh ini, pihaknya sudah menyuplai sebanyak 1.000 eksemplar buku di setiap perpustakaan desa, termasuk Desa Timbulharjo.

Angota Komisi D DPRD DIY, Danang Wahyu Broto menanggapi masih rendahnya minat baca masyarakat merupakan sebuah tantangan yang perlu dipecahkan, salah satunya melalui kampanye gemar membaca dan bedah buku di masyarakat. Dengan membaca, kata dia, wawasan masyarakat akan jauh lebih terbuka.

"Adanya perpustakaan dan gerakan gemar membaca, bedah buku menjadi pendukung menuju target kesejahteraan. Kami akan berupaya mengawal anggaran untuk melancarkan program-program BPAD [DIY]," ucap Danang.