Begini Persiapan NYIA Hadapi Potensi Tsunami 12 Meter

Ilustrasi Kepala Pusat Seismologi BMKG, Jaya Murjaya menyampaikan materi dalam workshop Potensi Bahaya Gempa Bumi & Tsunami di Bandara Kulonprogo (NYIA) dan Metode Mitigasinya di gedung University Club (UC) UGM, Yogyakarta, Selasa (29/08/2017). - Harian Jogja/Desi Suryanto.
11 Februari 2019 16:57 WIB Kusnul Isti Qomah Jogja Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-- Pembangunan bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kulonprogo terus berjalan. Ada tiga persoalan yang membayanginya, mulai dari ancaman gempa, tsunami, serta cross wind. Guna mengantisipasi potensi bencana alam itu, upaya mitigasi pun dilakukan dengan maksimal sehingga masyarakat tidak perlu merasa khawatir.

Project Manager Proyek Pembangunan Internasional – Yogyakarta Taochid Purnomo Hadi mengungkapkan terdapat potensi gempa di area bandara dengan mengacu Peta Zonasi Gempa Indonesia (2018) Periode Ulang 1.000 Tahun, sehingga ditetapkan magnitudo sebesar 7,5 Mw dan nilai PSA 0,4 g. Selain itu, ada potensi terjadi likuefaksi di area bandara. Apabila terjadi gempa desain, diperkirakan akan terjadi likuefaksi dengan kedalaman 0 sampai 6 m dari permukaan tanah existing

Ia menyebutkan untuk kajian tsunami dilakukan dengan banyak melibatkan akademisi dan tenaga ahli dari Indonesia serta tenaga ahli tsunami dari Jepang yaitu Prof Seigo Nasu. Beberapa kali diskusi telah dihelat yang melibatkan banyak pihak terkait pembangunan bandara, termasuk BMKG untuk melakukan simulasi gempa dan tsunami. "Nilai gempa yang disepakati untuk simulasi menggunakan magnitudo 8,5 dan 8,8 [Mmax] mengacu Peta Zonasi Gempa Indonesia [2018]," ujar dia kepada Harian Jogja ketika ditemui di Royal Ambarrukmo, Sleman, Jumat (8/2/2019) malam usai rapat koordinasi pembangunan NYIA.

Ia mengungkapkan mitigasi bencana dalam pembangunan bandara sudah dilakukan semua. Menurutnya pembangunan NYIA sudah disesuaikan dengan langkah mitigasi jika terjadi gempa atau tsunami hingga setinggi 12 meter mencapai terminal.

"Ketika [tsunami] 12 meter dan gempa magnitudo 8,8 itu bagaimana struktur gedungnya. Kami mitigasinya begini, ketika [tsunami] 12 meter itu terminal di posisi 9,5 meter lantai satu. Lantai dua naik enam meter jadi 15,5 meter. Lantai dua bisa untuk tempat evakuasi sementara," jelas dia.

Adapun jarak terminal dari bibir pantai 1,1 km sehingga ada waktu untuk evakuasi jika ada tsunami.  Ia menyebutkan di sisi kanan kiri bandara terdapat dua sungai yakni Serang dan Bogowonto yang bisa menjadi jalan tol ketika tsunami terjadi sehingga diperlukan pula mitigasi untuk area sekitar sungai. Namun, mitigasi tersebut merupakan kewenangan pemerintah setempat karena berada di luar area bandara.

Selain itu, diperlukan juga penyerap energi tsunami berupa kawasan vegetasi tertentu sehingga area bandara tidak terlalu terbuka. Pihaknya telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk menanam pohon bakau di barat bandara dan cemara udang di tepi pantai. "Kalau itu kepedulian kami juga. Artinya sama-sama menghijaukan kawasan penyangga bandara," ujar dia.

Sementara, General Manager Bandara Internasional Adisutjipto Yogyakarta selaku Juru Bicara Proyek Pembangunan Bandara Baru Internasional Yogyakarta (NYIA) Agus Pandu Purnama mengungkapkan pemerintah meminta Gubernur DIY, Bupati Kulonprogo, Bupati Purworejo sesuai dengan kewenangannya supaya membangun mitigasi bencana khususnya tsunami.

"Artinya, ini juga menjadi kewenangannya pemerintah untuk sosialisasi mitigasi bencana dan meminimalkan dampak," kata dia.

Ia menyebutkan hal itu sesuai dengan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 98 Tahun 2017 tentang Percepatan Pembangunan dan Pengoperasian Bandara di Kab Kulonprogo. 

Progres Pembangunan

Sementara, untuk progres pembangunan, Taochid menjelaskan untuk operasional minimum pada April mendatang, saat ini proses pembangunan sudah mencapai 67,8%. Rapat intensif terus dilakukan setiap pekan dengan unit terkait terutama dari sisi penunjang operasional.

"Detail pembahasannya. Siapa berbuat apa, kapan, dan apa targetnya. Tiap minggu kita monitor," katanya.

Taochid menyebutkan kekurangan sekitar 32,2% termasuk penyempurnaan airside dan sisi darat. "Kami ingin enggak cuma jalan, tetapi juga ada vegetasi. Operation internasional itu bukannya disiapkan seadaya, tetapi benar-benar terminal yang sudah layak digunakan sesuai dengan standar. April insyaallah siap. Ini kita kejar-kejaran untuk menyiapkan itu," ungkap dia.

Adapun latar belakang pembangunan NYIA lantaran kapasitas terminal di Bandara Internasional Adisutjipto dirancang untuk menampung 1,5 juta penumpang per tahun. Pada akhir tahun 2017, jumlah penumpang sudah mencapai 7,3 juta.

Kapasitas area parkir pesawat (apron) hanya mampu menampung delapan pesawat, sehingga terjadi antrean dan keterlambatan (delayed) pesawat mendarat dan mengudara. Kapasitas landas pacu tidak mampu menampung pesawat berbadan lebar untuk penerbangan internasional jarak jauh.

Bandara Adisutjipto tidak dapat dikembangkan lagi karena keterbatasan lahan dan kendala alam (obstacle) berupa gunung dan sungai.  Serta diperkirakan penumpang pada tahun 2046 adalah 25 juta penumpang per tahun.