Advertisement

Karena 'Galau', Pemkab Bantul Belajar ke Sumatera Selatan

Gigih M Hanafi
Kamis, 14 Februari 2019 - 10:17 WIB
Bernadheta Dian Saraswati
Karena 'Galau', Pemkab Bantul Belajar ke Sumatera Selatan Penampilan nyata rumah limas di Museum Balaputra Dewa, Palembang seperti yang tertuang dalam uang kertas pecahan Rp10.000. - Harian Jogja/Gigih M Hanafi

Advertisement

Harianjogja.com, PALEMBANG--Angka kemiskinan di Kabupaten Bantul masih tinggi yakni pada angka 14%. Angka ini lebih tinggi dari angka kemiskinan nasional yakni 10,64%. Namun menurut penelitian, angka harapan hidup di Bantul, termasuk DIY, tinggi. Begitu pula dengan angka kebahagiaan warganya.

"Itu yang membuat kami 'galau', kok bahagia tapi kemiskinan tinggi. Sehingga kami memutuskan studi tiru, bukan studi banding, karena belum ada yang bisa kami bandingkan. Dan dari informasi yang kami dapat, Pemprov Sumatera Selatan adalah salah satu daerah yang berhasil menekan angka kemiskinan sehingga kami belajar kemari," kata Asisten III Pemkab Bantul, Totok Sudarto saat menyampaikan sambutan pada kunjungan ke Pemrov Sumatera Selatan di Jalan A Rivai, Kota Palembang, Rabu (13/2/2019).

Advertisement

Turut mendampingi dalam kunjungan adalah staf Humas dan Protokol Pemkab Bantul serta puluhan wartawan yang tergabung dalam Forum Pewarta Bantul. Sedangkan penerima rombongan adalah Assisten III Pemrov Sumsel, Edwar Juniarta, Plh Karo Humas Iwan Budiman dan juga jajaran terkait.

"Saya berharap dari hasil belajar ini akan ada ilmu dan juga strategi yang kita dapat. Dan akan kita aplikasikan di Kabupaten Bantul tentu dengan prinsip 'niru, niteni, nambahi' disesuaikan dengan kondisi wilayah dan potensi yang kami miliki," kata Totok.

Sementara Edwar menjelaskan sebelum tahun 2000, orang yang berkunjung ke Palembang atau Sumatera Selatan paling lama sehari atau dua hari karena tidak banyak tempat yang bisa dikunjungi. Waktu itu Plaza juga belum ada, sementara hotel bintang juga hanya ada satu. Begitu pula dengan destinasi wisata yang masih kurang.

"Sehingga waktu itu Gubernur Sumsel Bapak Alex Nurdin membuat kebijakan 'politisasi olahraga'. Dari sana pembangunan di Palembang dan Sumsel terus mengalami peningkatan. Bukan hanya dana dari Pemrov Sumsel yang masuk dan digunakan untuk pembangunan namun juga dana dari pemerintah pusat dan program CSR [Corporate Social Responsibility]perusahaan-perusahaan," terang Edward. Dengan APBD kisaran Rp8-9 Triliun mereka mampu melakukan pembangunan puluhan kali lipat dari APBD tersebut.

Sehingga dari 'politisasi olahraga' itu pula Pemrov Sumsel berhasil membangun komplek olahraha berkelas internasional bernama Jakabaring Sport City (JSC) yang dalam perkembangannya dikelola BUMD yang telah berbentuk PT.

JSC, lanjut Edwar berdiri di lahan 1.000 hektar dan sudah dibangun vanue dan sarana olahraga seluas 356 hektar. Sarana di JSC sudah bertaraf internasional bahkan banyak yang menjadi salah satu yang terbaik di dunia seperti sarana bowling , menembak, olahraga air, dan cabang olahraga lain. "Yang berkelas internasional ada lima sampai enam venue dan setiap tahun kita ada 42 event olahraga berkelas. Salah satu yang sukses digelar beberapa waktu lalu adalah Asean Games," katanya.

Dan dari pengembangan olahraga tadi, sarana prasarana lain akhirnya mengikuti. Ditambah lagi tingkat kunjungan dan lama tinggal mereka yang ke Palembang dan Sumsel juga meningkat. Hal yang terlihat adalah pembangunan LRT, hotel bintang menjadi 10 ditambah kelas lain total ada 42 hotel, mal dan pusat perbelanjaan banyak berdiri, sentra ekonomi, dan hiburan berkembang serta akses jalan yang bagus. Salah satunya adalah pembangunan jalan tol.

"Mungkin bagi tempat lain jalan tol biasa, namun bagi kami itu kemajuan luar biasa yang sangat membantu aksebilitas di wilayah Sumatera Selatan dan sekitarnya," katanya.

Dampak lain adalah harga tanah di wilayah tersebut turut naik. Jika dulu semeter Rp300.000 sebelum tahun 2000, maka kini sudah mencapai angka Rp1,5 juta tiap meternya.

Masyarakat juga dilibatkan dan berperan serta dalam pembangunan JSC termasuk kini saat event olahraga dihelat. Pemprov juga mendukung pengembangan ekonomi lain seperti setra ekonomi produktif, termasuk oleh-okeh kas Palembang berupa empek-empek sehingga ekonomi rakyat juga terangkat.

Selain itu juga ada pembangunan kawasan pedestrian, seperti di Malioboro Jogja.Letaknya di jalan Jenderal Sudirman. Selain untuk kegiatan kunjungan dan aktivitas masyarakat dengan jalan kaki, di tempat itu dimanfaatkan masyarakat untuk berjualan macam-macam makanan dan suvenir. "Dengan demikian masyarakat turut merasakan manfaat dari pesatnya pembangunan di sini,"kata Edwar.

Semua itu,bisa berjalan karena di Sumsel orang guyub rukun, nyaris tanpa konflik bahkan bisa dikatakan zero konflik. Itulah modal sosial yang mereka miliki. "Karena kami berprinsip bagaimana kami bisa membangun seperti tempat lain," katanya.

Dan semangat itu kemudian diteruskan oleb Gubernur sekarang Heman Deru dengan slogan Sumsel Bersatu untuk Maju. Targetnya 'etalase'yang sudah mampu dibangun tadi, dampaknya bisa dikembangkan dan dirasakan oleh 17 kabupaten/kota se Sumsel dengan pengembangan potensi masing-masing.

Usai kunjungan ke Kantor Pemprov, rombongan Bantul melanjutkan perjalanan ke Museum Bala Putra Dewa sebagai saksi sejarah perjalanan Bumi Sriwijaya yang juga menarik banyak wisatawan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Advertisement

Harian Jogja

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Dukung Penerapan Teknologi Hijau dan Solusi Berkelanjutan, Telkom Hadirkan Data Center Berkelanjutan.

News
| Kamis, 18 Juli 2024, 12:07 WIB

Advertisement

alt

Mengenal Shoulder Season, Periode Berwisata Antiribet

Wisata
| Minggu, 14 Juli 2024, 22:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement