PKS Bantul Beri Penghargaan Ibu Inspiratif di Hari Ibu 2025
PKS Bantul memberikan penghargaan kepada ibu-ibu inspiratif dan tangguh dalam rangka peringatan Hari Ibu 2025.
Tujono, peternak itik asal Jetis, Bantul (berdiri) berbagi cerita pada peserta bedah buku di Balai Desa Argomulyo, Sedayu, Bantul, Jumat (22/2/2019)./Harian Jogja-Ujang Hasanudin
Harianjogja.com, BANTUL—Peluang usaha ternak itik masih cukup besar di wilayah Bantul. Pasalnya saat ini permintaan pasar cukup tinggi, baik dari sisi dagingnya, telurnya, hingga usaha pemotongan itik.
Hal itu disampaikan oleh Tujono, salah satu peternak itik asal Kecamatan Jetis, Bantul, saat acara bedah buku berjudul Beternak Itik Tanpa Bau Tanpa Angon yang digelar di Balai Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Bantul, Jumat (22/2/2019).
Tujono mengaku memulai usaha ternak bebek sejak 2008 lalu. Saat ini dia sudah memiliki 15 rekanan yang meminta pasokan setiap harinya, mulai dari permintaan telur, penetasan, daging, hingga itik indukan. Dia mengelola ternak bersama sebanyak 20 orang yang tergabung dalam Koperasi Ngudi Mulyo.
Usaha ternak itik milik Tujono ini menjadi salah satu percontohan yang banyak dikunjungi dari petani dan pemerintah berbagai daerah untuk belajar. Menurut Tujono meski sudah banyak peternak itik di Bantul namun pasokan masih kurang, "Untuk telor itik saja masih harus mendatangkan dari luar daerah, karena suplai dari Bantul masih kurang," kata Tujono.
Norbertus Kaleka, penulis buku Beternak Itik Tanpa Bau Tanpa Angon mengatakan ternak itik memang mudah dilakukan oleh siapapun, bahkan oleh ibu rumah tangga. Peluang usahanya pun banyak sehingga bisa dikerjakan oleh perorangan maupun oleh kelompok. Namun persoalannya meman cara pengelolaannya yang kurang dipahami. "Jadi terkadang orang malas beternak itik karena polusi, bau, becek dan terkesan jorok. Padahal itu bisa diatasi," kata Norbertus.
Dalam menulis buku setebal 191 lembar itu ia telah mempelajari sejumlah peternakan itik yang dianggap sukses dari sejumlah wilayah. Menurut dia, yang membuat kandang itik bau karena memang cara memberikan pakan dan minum yang asal-asalan sehingga kotorannya menjadi basah dan bau. Padahal ada proses pengolahan pakan dan minum yang tidak menimbulkan bau, salah satunya pakan harus melalui proses permentasi.
Selain itu minuman juga bisa dicampur dengan rempah yang ada di sekitar masyarakat. "Bahan mudah didapat. Hanya masyarakat yang belum tahu," kata dia. Dalam bukunya Norbertus juga memberikan panduan pemula beternak itik, cara pembuatan kandang, pemilahan bibit itik unggul, hingga tata cara mengobati itik ketika sakit.
Selain Tujono, bedah buku yang digelar Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY tersebut juga menghadirkan pembicara dari Dinas Pertanian Pangan, Kelautan dan Perikanan (DP2KP) Bantul Joko Waluyo dan Anggota Komisi C Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DIY, Atmaji.
Kasi Pengembangan Minat dan Budaya Baca BPAD DIY, Aris Widiyanto mengatakan dalam bedah buku sebagai bagian dari kegiatan pemasyarakatan perpustakaan dan minat baca tersebut sengaja menghadirkan penulis buku dan praktisinya langsung, dengan harapan masyarakat dapat memahami isi buku sekaligus dapat mengaplikasikannya. "Dengan meningkatnya mianat baca akan berpengaruh pada peningkatan ekonomi masyarakat," kata Aris.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PKS Bantul memberikan penghargaan kepada ibu-ibu inspiratif dan tangguh dalam rangka peringatan Hari Ibu 2025.
Rupiah tembus Rp18.000 per dolar AS dan IHSG anjlok. DPR mendesak pemerintah dan BI segera konsolidasi fiskal dan moneter.
Target nol emisi Sumbu Filosofi Jogja belum realistis. Pemda fokus turunkan emisi mulai dari Malioboro secara bertahap.
Pemerintah segera menaikkan HET Minyakita. Kenaikan dipicu harga CPO dan biaya produksi yang terus meningkat.
IHSG turun lebih dari 4 persen, Menkeu Purbaya yakin fundamental ekonomi kuat cukup menopang pasar saham Indonesia.
Silmy Karim jadi tersangka KPK. Intip LHKPN terbaru, koleksi mobil mewah dan klasik hingga aset ratusan miliar.