Laboartorium Obah #3 dan Cara Menjadi Manusia di Tengah Riuhnya Dunia
Alih-alih mandek sepeninggal Sang Maestro Jemek Supardi empat tahun silam, pantomim di Jogja terus dipertunjukkan, dengan segala kreativitas dan inovasinya.
Salah satu peserta Lomba Jemparingan Mataraman III Tingkat Nasional tengah beraksi, Minggu (3/3/2019)./Istimewa-Dinas Pariwisata DIY
Harianjogja.com, JOGJA—Kadipaten Pura Pakualaman bersama Dinas Pariwisata DIY menggelar Lomba Jemparingan Mataraman III Tingkat Nasional, Minggu (3/3/2019). Lomba yang digelar di Lapangan Panahan DIY, Jalan Kenari, Jogja itu diikuti 680 peserta yang berasal dari 43 klub panahan di DIY, Jawa Tengah, Jawa Barat, Bali, Madura, dan Banten.
Lomba Jemparingan Mataraman III Tingkat Nasional dibuka secara resmi oleh GKBRAA Paku Alam. Selain itu dilakukan pula penyerahan trofi KGPAA Paku Alam X dari Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) DIY, Singgih Rahardjo kepada panitia pelaksana lomba. GKBRAA Paku Alam mengatakan pelaksanaan Lomba Jemparingan Mataraman III Tingkat Nasional digelar dalam rangka Hadeging Kadipaten Pakualaman ke-213 tahun (Jawa). Lomba ini digelar agar masyarakat mengetahui bahwa Jemparingan Mataraman adalah olahraga panahan tradisional yang harus dikembangkan dan dilestarikan.
“Mengingat tingginya animo masyarakat terhadap panahan maka Kadipaten Pura Pakualaman memfasilitasi kembali Lomba Jemparingan Mataraman, di samping juga sebagai ajang latihan para atlet olahraga jemparingan,” ucap permaisuri KGPAA Paku Alam X itu melalui rilis yang diterima Harianjogja.com, Selasa (5/3)/2019.
Saat berlomba, para peserta memakai pakaian adat tradisional Jawa dengan posisi duduk bersila. Diperlukan konsentrasi penuh sebelum membidik sasaran. Sesuai aba-aba, mereka bersama-sama melesatkan anak panah pada sasaran.
Jemparingan Mataraman berlangsung sebanyak 20 rambahan. Dalam setiap rambahan, peserta memiliki kesempatan memanah empat kali. Kepala Dispar DIY, Singgih Rahardjo pada kesempatan itu turut mencoba membidik sasaran menggunakan busur panah. “Kami mendukung penuh penyelenggaraan lomba jemparingan yang diikuti oleh klub-klub panahan dari beberapa daerah,” ucap dia.
Lomba jemparingan, kata dia, merupakan kolaborasi wisata budaya dan wisata olahraga yang perlu dilestarikan dan bisa dikembangkan ke tingkat internasional. “Kita harapkan pula lomba panahan tingkat nasional ini dapat meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara ke DIY,” ujar Singgih.
Pada kategori laki-laki juara pertama diraih Sabam dari Langenastra Yogyakarta; pemenang kedua adalah Opik dari JCC; dan pemenang ketiga adalah Ahmad Nur dari Kridosenopati Klaten, Jawa Tengah. Sedangkan untuk kategori perempuan, juara pertama diraih Heni Widyastuti dari Krido Warastro Bantul.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Alih-alih mandek sepeninggal Sang Maestro Jemek Supardi empat tahun silam, pantomim di Jogja terus dipertunjukkan, dengan segala kreativitas dan inovasinya.
Sebanyak 28 orang tewas dan dua lainnya hilang akibat longsor tambang emas ilegal di Angola barat laut, termasuk 13 korban dari satu keluarga.
Bareskrim memastikan blackout di Sumatra bukan sabotase, melainkan dampak cuaca ekstrem yang merusak jaringan transmisi listrik di Jambi.
JAECOO telah mengirimkan 16.000 unit J5 EV ke konsumen Indonesia. SUV listrik ini dibanderol mulai Rp279,9 juta.
Daftar mobil listrik murah 2026 di Jogja mulai Rp100 jutaan, cocok untuk mobilitas harian dan hemat biaya BBM
Lima pendaki tersambar petir di puncak Gunung Monrolo, Maros. Satu orang meninggal dunia dan empat lainnya selamat.