Ribuan Umat Hindu Ikuti Prosesi Tawur Agung di Candi Prambanan

Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin (paling kanan) saat menghadiri prosesi Tawur Agung Kesanga di Candi Prambanan, Sleman, Rabu (06/03). - Harian Jogja/Yogi Anugrah
06 Maret 2019 14:16 WIB Yogi Anugrah Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Ribuan umat Hindu di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melakukan prosesi Tawur Agung Kesanga di Candi Prambanan, Sleman, Rabu (6/3/2019). Tawur agung kesanga dilakukan sehari sebelum pelaksanaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1941.

Sebelum upacara dimulai, sejumlah umat bersama para resi dan wasi atau pimpinan umat Hindu melakukan prosesi Pradaksina. Prosesi ini dilakukan dengan mengitari candi Brahma, Wisnu dan Syiwa yang ada di kompleks Candi Prambanan.

Ketua Umum Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat Mayjen (Purn) Wisnu Bawa Tenaya mengatakan tujuan utama tawur agung kesanga ini adalah untuk membangun harmoni dengan unsur unsur alam, yaitu air, udara, tanah, api, dan angkasa.

"Dalam kondisi disharmoni, kelima unsur tersebut dapat menimbulkan bencana bagi semua makhluk. Oleh karenanya, unsur tersebut diharmoniskan demi tercapainya kebahagian alam semesta dan semua makhluk," ujar dia, Rabu.

Lebih lanjut, Wisnu Bawa Tenaya mengatakan, dengan mengusung tema "Melalui Catur Berata Penyepian Kita Sukseskan Pemilu 2019', ia berharap, agar di tahun pesta demokrasi ini, para pemimpin bisa menjadi lokomotif yang menarik gerbong di atas rel, konstitusi, aturan. Sehingga rakyat tidak jatuh ke jurang dan selamat untuk mencapai tujuan nasional.

"Saya ingin mengajak semuanya, terutama generasi millenial sekarang agar kita semua memiliki cita-cita, namun cita-cita perorangan, organisasi tidak lepas dari cita-cita berbangsa dan negara. Cita-cita negara Republik Indonesia adalah merdeka, bersatu adil dan makmur. Tujuan kita bernegara adalah melindungi tumpah darah, mencerdaskan kehidupan bangsa kemudian memajukan kesejahteraan dan menjaga ketertiban," jelasnya.

Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin yang hadir pada upacara tersebut juga turut mengajak umat Hindu untuk mewujudkan Pemilu 2019 yang aman dan damai.

"Terima kasih karena umat Hindu melalui refleksi mendalam, sangat peka dengan situasi dan kondisi bangsa yang mengalami banyak ujian di tahun politik. Kepekaan itu digaungkan secara masif dalam perayaan Hari Suci Nyepi bertema sentral Melalui Catur Berata Penyepian Kita Sukseskan Pemilu 2019," kata Lukman.

Lukman menjelaskan, dalam perspektif Kementerian Agama yang dituangkan dalam salah satu misinya yaitu memperkokoh kebersamaan umat beragama, tema sentral itu juga mengandung pesan agar masyarakat Indonesia tidak lelah menjaga kerukunan, sebagai bangsa besar dengan kultur keanekaragaman yang telah hidup berabad-abad.

"Tawur Agung Kesanga satu hari menjelang Hari Suci Nyepi merupakan momentum untuk introspeksi dan mawas diri agar kita mengenal kepada Sang Pencipta kita dalam menjalani aktivitas ke depannya. Dalam momentum menghadapi pesta demokrasi 17 April nanti, harapannya, meski kita memiliki perbedaan pilihan karena opsi-opsi yang ada, baik capres, cawapres, calon anggota legislatif, tapi kita harus diikat kesamaan pandangan bahwa hakikatnya kita ini satu keluarga besar satu bangsa," ujar dia.

Setelah selesai melaksanakan Upacara Tawur Agung Kesanga, pada sore harinya dilanjutkan dengan prosesi pengerupukan atau mengarak ogoh-ogoh di pura masing-masing yaitu di Pura Jagadnatha, Pura Widya Darma dan Pura Padma Buana.

Ogoh-ogoh atau Bhutakala adalah simbol dari hal-hal negatif, sehingga pada malam pengerupukan ogoh-ogoh itu harus dinetralisir agar tidak menganggu umat hindu yang akan melakukan brata penyepian pada pagi harinya.

Pada Kamis (7/3) merupakan pergantian tahun baru saka. Pada saat itu, Umat Hindu akan melaksanakan brata penyepian di rumah masing-masing.

Ada empat brata yang harus dilakukan pada saat nyepi yakni amati karya (tidak bekerja), amati geni (tidak menyalakan api,dalam hal ini mematikan hawa nafsu), amati lunga (tidak bepergian), amati lelanguan (tidak menikmati hiburan).

Dengan brata penyepian, diharapkan manusia akan terlahir kembali suci, sehingga mampu menjaga hubungan harmonis antar sesama, dengan Tuhan dan dengan lingkungan.