AKULTURASI BUDAYA: Melestarikan Wayang Cina Jawa

Pengunjung Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) 2019 berfoto bersama Wayang Cina Jawa (wacinwa) beberapa waktu lalu./ Ist. - Anggota Hoo Hap Hwee, Ratana Liem
14 Maret 2019 22:47 WIB Salsabila Annisa Azmi Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Akulturasi budaya Jawa dengan Tiongkok di Jogja salah satunya diwujudkan dengan seni Wayang Cina Jawa (wacinwa). Kesenian ciptaan seorang peranakan Jawa Tionghoa bernama Gan Thawn Sing ini masih dilestarikan dengan baik melalui berbagai pameran oleh Museum Sonobudoyo dan Jogja Chinese Art and Culture Center (JCACC). Meskipun begitu, pementasan diakui masih sulit dilakukan karena menghabiskan banyak biaya. 

Anggota Hoo Hap Hwee, Ratana Liem alias Wawan mengatakan pelestarian Wacinwa yang digagas oleh Museum Sonobudoyo dan JCACC masih dilakukan dengan pameran. Contohnya pameran di Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) pada 2016 dan 2018. "Dipindahkan dari Museum Sonobudoyo, kemudian dipamerkan di PBTY. Meski begitu, tidak semua wayangnya asli. Wayang asli hanya ada dua, sisanya replika. Mungkin karena wacinwa termasuk aset negara yang sangat dirawat," kata Wawan, Rabu (13/3).

Terkait dengan pementasan, pameran pada 2016 juga disertai dengan pementasan. Namun setelahnya tak ada lagi, sebab biaya pementasan terlalu mahal. Wawan mengatakan biaya pementasan berkisar hingga Rp25 Juta. Meskipun begitu, kiprah Wacinwa di luar negeri tetap dikibarkan oleh Dosen ISI Jogja, Aneng Kiswantoro yang kerap mengadakan pentas Wacinwa di Singapura. Satu set wacinwa juga masih dirawat dengan baik di Museum Sonobudoyo.

Wawan mengatakan cerita wacinwa sama dengan cerita-cerita yang dipentaskan wayang potehi. Isinya tentang cerita klasik Tiongkok dengan sebutan Piyingxi, dan di masa dinasti Song (960-1278M) hingga mencapai puncak kejayaan di masa dinasti Qing (1644-1911). Pertunjukan Piyingxi berangsur surut ketika revolusi bergema di Tiongkok.

Teknis pertunjukan wacinwa tak jauh berbeda dengan wayang kulit Jawa. Durasi pertunjukan berkisar hingga dua Jam. Wacinwa menggunakan bahasa Jawa, lebih banyak ragam ngoko, serta penarasian tetap menggunakan suluk, kandha, dan carita.

Perbedaan terletak pada lakon. Wacinwa menggunakan lakon cerita klasik kepahlawanan (wiracarita) Tiongkok, Sie Jin Kwie, nan kondang pada masa pemerintahan Dinasti Tang (618-907M). Kini terdapat dua varian cerita Sie Jin Kwie. Yaitu Ceng Tang atau menyerbu ke timur dan Ceng See atau menyerbu ke barat.

Wawan mengatakan kisah-kisah yang diceritakan dalam Wacinwa seluruhnya membawakan pesan bela negara dan saling menghargai manusia apapun latar belakangnya. "Selain melalui pameran dan pementasan, ada koleksi buku kisah dan komik Wacinwa yang masih tersimpan dengan baik di Hoo Hap Hwee dan Museum Sonobudoyo. Kebanyakan tahun 1980 an," kata Wawan.