Ini Dia Alasan Pentingnya Pemahaman Gender Perlu Disosialisasikan

Muhammad Yazid, anggota DPRD DIY (dua kanan) pada acara sosialisasi pemahaman gender untuk masyarakat DIY 2019, di Balai Desa Sumberarum, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman, Selasa (19/3/2019). - Harian Jogja/Hafit Yudi Suprobo
19 Maret 2019 21:07 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) DIY menggandeng Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DPRD DIY, dan Perkumpulan Ide dan Analitika Indonesia (IDEA) melaksanakan sosialisasi pemahaman gender untuk masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tahun 2019, bertempat di Balai Desa Sumberarum, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman, Selasa (19/3/2019).

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DIY, Muhammad Yazid berharap segenap masyarakat makin paham terhadap isu gender. "Maksud dan tujuan diadakannya isu gender, agar masyarakat tahu tahu persis tentang gender, dan juga isu gender merupakan tanggung jawab bersama antara eksekutif dan legislatif yang selalu didorong memberikan sosialisasi ke masyarakat dan meningkatkan kualitas dan kuantitas terkait dengan isu gender," katanya.

Sri Hidayati dari IDEA mengatakan upaya sosialisasi yang dilakukan oleh DP3AP2 DIY merupakan gagasan bagus dalam mendorong upaya pengenalan tentang pengarusutamaan gender di tingkat desa. "Meskipun UU Desa sudah dengan jelas memastikan perempuan dan kelompok rentan lain dipertimbangkan dalam perencanaan dan alokasi anggaran tetapi pada tataran implementasi tetap kalah dengan usulan pembangunan fisik dan infrastruktur yang mendominasi alokasi anggaran dari rencana pembangunan desa," kata Sri kepada Harian Jogja, Selasa (19/3).

Secara umum, kata Sri, sebenarnya indeks gender di DIY cukup baik. "Namun pada level pelaksanaan dalam pemerintahan cukup beragam. Pengarusutamaan gender di level pemerintah juga berjalan. Namun pada level desa perlu diperkuat," katanya.

Pemahaman gender ke masyarakat masih dibayangi dengan konsep patriarki dalam relasi gender. "Khususnya untuk perempuan di desa, peletakan beban urusan domestik umumnya tetap ditangan perempuan sementara perempuan juga harus memikirkan urusan publik (bekerja)," kata dia.

Untuk itu dia menekankan agar masyarakat penting mengenal gender. "Pertama, agar muncul kesadaran terhadap relasi gender yang tidak adil yang dapat mengakibatkan kasus-kasus ketidakadilan seperti kekerasan terhadap perempuan, nilai-nilai yang menghambat perempuan untuk terlibat dalam kepemimpinan politik, dan kedua, mampu memperjuangkan sendiri dan memanfaatkan organisasi atau kelompoknya untuk mengatasi persoalan tersebut," ujar dia.

Sri Hidayati mengharapkan dengan sosialisasi gender ini dapat memdorong perempuan semangat terlibat dalam proses-proses politik. "Seperti dalam musyawarah pembangunan desa, menggerakkan kelompok-kelompok yang secara sosial masih terpinggirkan dan yang penting menjadi kekuatan pengimbang dalam pengambilan keputusan di desa sehingga alokasi anggaran dan sumber daya desa benar-benar mampu menyejahterakan masyarakat," jelasnya.

Penggerak Swadaya Masyarakat Pertama DP3AP2 DIY, Roossy Budiawan mengatakan latar belakang diadakannya kegiatan sosialisasi pemahaman gender diawali dengan munculnya berbagai permasalahan yang terjadi di masyarakat. "Seperti perceraian, kekerasan dalam rumah tangga, pernikahan usia anak, kemudian klithih yang ketika ditelusuri ke belakang akibat kurangnya pemahaman gender," ujar dia.