Kelompok Perajin Jamu Ini Terkendala Pengurusan Legalitas

Bahan baku jamu tradisional milik Kelompok Jamu Bima Sejahtera, Jumat (29/3/2019). - Harian Jogja/Hafit Yudi Suprobo
29 Maret 2019 19:47 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Aspek legalitas jadi kendala bagi Kelompok Jamu Bima Sejahtera yang ada di Dusun Gesikan, Desa Merdikorejo, Kecamatan Tempel, Kabupaten Sleman.

Ketua Kelompok Jamu Bima Sejahtera, Sarjana, mengaku saat mengundang Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) DIY, dia harus merogoh kocek hampir senilai Rp3 juta untuk membayar apoteker. "Karena harus ada apoteker sedangkan upahnya per bulan sebesar Rp3 juta," kata Sarjana kepada Harian Jogja, Jumat (29/3/2019).

Belum lagi, kata dia, sulitnya mencari bahan baku juga masih jadi masalah lain yang harus dihadapi oleh Kelompok Jamu Bima Sejahtera. "Bahan baku masih kurang, harus mendatangkan dari wilayah Kulonprogo, Gunungkidul, dan Bantul, untuk kunir asem, asemnya dari Bantul untuk beras kencur itu pada saat ini sangat langka bahan bakunya dan juga mahal," ujar dia.

Untuk itu, kata Sarjana, saat ini Pemdes Merdikorejo tengah mencanangkan penanaman tanaman obat keluarga (toga) secara mandiri. Dia mengaku setidaknya lahan seluas setengah hektare sudah disiapkan untuk penanaman itu.

Sebagai sentra pengolahan jamu yang ada di wilayah Kabupaten Sleman, Sarjana mengatakan Kelompok Jamu Bima Sejahtera saat ini beranggotakan 30 orang dan berdiri pada 2004 silam. Kelompoknya, kata dia, memproduksi beragam jenis produk jamu cair seperti kunir asem, cabe puyang, uyup-uyup, beras kencur, paitan, temu lawak. Sedangkan, untuk produk jamu berbentuk kristal (serbuk) seperti secang, sari wortel dan temu lawak.

Selama ini, perajin jamu di kelompoknya biasa memasarkan produksinya ke Sleman dan sejumlah wilayah di sekitar Magelang. "Tiap anggota itu minimal memiliki 50 pelanggan tetap," katanya.

Disinggung soal omzet, masing-masing anggota Kelompok Jamu Bima Sejahtera, rerata mampu meraup laba sekitar 100.000-250.000 per hari.

Ke depan, guna meningkatkan nilai ekonomi dari usaha kelompoknya, Sarjana berencana menjadikan usaha Kelompok Jamu Bima Sejahtera jadi wisata edukasi bagi warga masyarakat dari dalam maupun di luar DIY. “Nanti akan kami siapkan homestay juga, karena di sini notabene letaknya di tengah tengah Borobudur dan Candi Prambanan, dan mumpuni untuk menjadi salah satu objek wisata di Sleman maupun DIY," ujar dia.

Kepala Bidang Perindustrian Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Sleman, Dwi Wulandari, terkait dengan aspek legalitas yang menjadi kendala Kelompok Jamu Bima Sejahtera, ia mengatakan saat ini legalitas produk masih sebatas izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) dari Dinkes Sleman untuk produk jamu instan.

Di sentra jamu saat ini, kata Wulan, ada empat IKM yang mempunyai PIRT. "Sedangkan untuk jamu segar dari Dinkes tidak diwajibkan untuk mempunyai izin PIRT karena masa kedaluwarsa kurang dari tujuh hari," kata Dwi.