Hari Buku Anak Sedunia: Dunia Buku Anak Terus Berkembang

Pameran buku. - JIBI/Solopos/Sunaryo Haryo Bayu
02 April 2019 13:37 WIB Tim Harian Jogja Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Hari Buku Anak Sedunia diperingati tiap 2 April dan dewasa ini dunia perbukuan anak semakin berkembang. Buku anak-anak selalu dinikmati. Sementara, pemerintah menggelontorkan banyak uang untuk menyediakan buku.

Tren penjualan buku anak di DIY saat ini cukup baik.

“Buku anak selalu masuk jadi tiga buku yang memberi kontribusi terbesar di toko ritel sesudah fiksi dan buku agama. Ya unda-undi lah itu,” ucap CEO Bentang Pustaka, Salman Faridi, kepada Harian Jogja, Jumat (29/3/2019).

Dalam berbagai pameran buku, antusiasme terhadap buku anak cukup besar.

“Baik buku impor maupun lokal cukup besar pasarnya.”

Namun, serapan pasar terhadap buku anak masih kalah dibandingkan dengan buku fiksi untuk pembaca dewasa.

“Kalau fiksi itu ada yang satu bulan langsung banyak. Andrea Hirata misalnya bisa sampai 7.000. Kalau buku anak cenderung ajek per bulan di kisaran 400 itu sudah bagus. Oplahnya sekali cetak 3.000 biasanya,” kata Salman.

Saat ini juga sudah ada komunitas penulis bacaan anak, yang mencapai ratusan. Konten buku anak pun relatif masih sama dari waktu ke waktu. Penulis rata-rata ingin menanamkan hal-hal praktis yang ingin dipelajari anak.

Hal senada diungkapkan Kepala Perwakilan Percetakan Mizan Distribusi DIY-Jawa Tengah, Narti Hendrawan. Pangsa pasar untuk penjualan buku anak masih cukup besar di DIY.

“Penjualan buku anak nomor dua setelah novel. Kami masih konsisten untuk cetakan satu judul buku 3.000 buku. Kalau ada cetakan kedua 3.000 lagi. Di Mizan penjualan buku anak menyumbang 30% dari berbagai kategori buku,” ucap Narti.

Penulis buku anak juga sangat banyak.  “Baik penulis di usia anak ataupun penulis dewasa, mencapai ratusan. Penyaringan tulisan lebih ketat.”

Narti mengatakan tantangan menjual buku anak adalah menjangkau wilayah pinggiran. Adanya perpustakaan desa saat ini sedikit banyak cukup membantu.

Pasokan Buku

Pemerintah daerah di DIY cukup memperhatikan ketersediaan buku anak. Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kulonprogo mengandalkan perbaikan kualitas perpustakaan di tiap sekolah guna mendukung literasi anak.

Kepala Disdikpora Kulonprogo Sumarsana mengatakan jawatannya tidak menganggarkan alokasi dana untuk penerbitan buku anak di Kulonprogo. Namun, dalam pengayaan buku di tiap sekolah, Disdikpora mengupayakan minimal anggaran sebanyak 5% tiap tahun untuk literasi anak dan bisa untuk pengayaan buku.

“Wajib bagi tiap sekolah di Kulonprogo 5% tiap tahunnya dialokasikan untuk perbaikan perpustakaan atau pengayaan buku baru,” kata Sumarsana .

Dana bantuan operasional (BOS) per tahun untuk SD sebesar Rp800 juta, sedangkan SMP Rp1 miliar.  Dengan demikian, tiap SD menganggarkan Rp40 juta dan SMP Rp50 juta, khusus untuk literasi anak, seperti untuk penambahan koleksi perpustakaan sekolah dan perbaikan fasilitas perpustakaan.

“Kami adakan lomba perpustakaan. Kami juga sering undang khusus pengelola perpustakaan di tiap sekolah untuk pendampingan.”

Selain itu, di tiap ruang kelas, diupayakan agar selalu mendekatkan anak pada buku. “Anak-anak harus didekatkan dengan buku. Di ruang kelas ada pojok baca. Setiap sepekan sekali anak bisa mudah ganti buku. Sekolah harus menyediakannya,” tutur Sumarsana.

Dinas Pendidikan (Disdik) Sleman mengandalkan Forum Guru Sleman Menulis (FGSM) dan akreditasi perpustakaan untuk mendukung literasi anak.

Kepala Disdik Sleman Sri Wantini mengatakan, melalui FGSM, para guru di Sleman mulai dari TK hingga SMP diberi fasilitas untuk menulis.

“Literasi anak di sekolah kan dibimbing dan didukung oleh guru, kalau guru senang menulis dan membaca, itu modal dan alat menggerakkan siswa untuk gemar membaca dan menulis,” kata Sri Wantini kepada Harian Jogja, Jumat (29/3).

Pengadaan buku di perpustakaan SD bisa berasal dari dana BOS dan Dana Alokasi Khusus (DAK). Pada 2017 lalu, ada 46 SD yang mendapat DAK untuk pengadaan buku, 2018 sebanyak 66 SD, dan 2019 sebanyak 65 SD.

“Itu setiap sekolah mendapatkan masing-masing Rp50 juta, jumlah segitu memang ditentukan oleh pusat, begitu pula sekolah yang mendapatkannya. Satu sekolah itu bisa menerima ribuan judul buku,” ujar dia.

Disdikpora Gunungkidul sudah menggalakkan gerakan sehari baca 15 menit untuk setiap siswa.

“Untuk waktu baca bebas, bisa pagi, siang atau pada saat akan pulang,” kata Kepala Disdikpora Gunungkidul Bahron Rosyid, Jumat.

Program tersebut merupakan langkah awal dan hanya sebagai pengenalan. Setelah para siswa terbiasa, mereka mulai diperkenalkan untuk merangkum apa yang telah selesai dibaca.

“Langkah-langkah ini akan terus kami biasakan kepada siswa sehibgga ada kesadaran untuk membaca. Jadi dengan begini maka literasi di Gunungkidul bisa ditingkatkan,” kata dia.

Tahun lalu, Disdikpora Gunungkidul mendapatkan dana alokasi khusus sebesar Rp800 juta untuk pengadaan buku.

“Buku-buku yang dibeli di luar buku mata pelajaran. Jadi bisa didistribusikan ke sekolah-sekolah selain untuk menambah koleksi buku, juga sebagai upaya meningkatkan minat baca para siswa.”

Layanan Digital

Adapun Perpustakaan Gratama Pustaka merespons perkembangan teknologi informasi dengan menghadirkan layanan digital. Modernisasi layanan perpustakaan ditandai dengan penggunaan teknologi informasi dan komputer sebagai sebuah sarana peningkatan kualitas layanan.

“Sebab kita tidak bisa membendung perkembangan teknologi, termasuk gadget. Mau tidak mau kami lakukan antisipasi, bagaimana anak bisa tetap gemar membaca dan mempunya minat menulis,” kata Kepala Balai Layanan Perpustakaan Nur Satwiko, Jumat.

Di Gratama Pustaka, kata dia, terdapat tiga layanan yang khusus disediakan untuk anak-anak. Ketiga ruangan khusus tersebut terdiri dari ruang koleksi buku khusus anak, ruang bermain anak dan ruang khusus mendongeng.

“Ini kami sediakan karena anak-anak umumnya cepat bosan. Dengan model seperti ini, kami berharap minat anak ke perpustakaan bisa terus meningkat,” ujar dia.

Perpustakaan ini memiliki 8.027 koleksi buku. Koleksi tersebut dipisah dengan koleksi umum sebanyak 67.752 buku, koleksi langka 13.920 buku dan 4.118 buku budaya Nusantara yang dimiliki perpustakaan. Sebagian besar koleksi juga sudah digitalisasi untuk layanan online.

“Setelah masuk di ruang koleksi buku, anak-anak bisa membaca buku-buku ringan, buku cerita bergambar dan lainnya.”

Guna terus mendongkrak jumlah kunjungan anak-anak, pengelola perpustakaan menjalin kerja sama dengan sejumlah pihak. Salah satunya dengan memberikan fasilitas layanan antar jemput melalui program CSR.

“Kami juga akan mengisi banyak program. Salah satunya, akan bekerja sama dengan Anand Krishna Center. Setiap Sabtu akan digelar yoga untuk anak. Sambil berolahraga anak juga bisa membaca. Yoga yang dilakukan juga bentuknya dengan bercerita,” kata Nur.