Cak Nun : Usai Pemilu Rakyat Baik-baik Saja, yang Konflik Itu Elit

Budayawan Emha Ainun Najib. - Harian Jogja/Sunartono.
25 April 2019 23:17 WIB Sunartono Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Budayawan Emha Ainun Najib yang biasa disapa Cak Nun menyatakan keadaan rakyat Indonesia pascapelaksanaan Pemilu 2019 ini tergolong aman dan kompak. Namun tak dapat dipungkiri bahwa konflik itu terjadi di kalangan elit dan kelompok menengah ke atas melalui medsos.

Kondisi aman dan tidak ada konflik di kalangan akar rumput atau rakyat itu dipastikan Cak Nun berdasarkan hasil kunjungannya bersama Kyai Kanjeng ke belasan kota di Indonesia beberapa hari sebelum dan sesudah hari pencoblosan.

“Selama dua pekan sebelum dan sesudah 17 April [2019]  saya dan kyai kanjeng keliling 15 kota, itu karena masyarakat meminta, mengundang. Setiap panitia mengundang kami memastikan bahwa wilayahnya aman, tidak ada bentrok, kontroversi. Semua, apa itu pesantren, kelurahan termasuk Solo yang katanya rawan setelah kita datangi ke sana ternyata ya nggak rawan semua kompak saja sebagai bangsa Indonesia,” katanya kepada wartawan di kediamannya, Kadipiro, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Kamis (25/4/2019).

Ia menambahkan, memang ada sejumlah orang atau pihak yang mengkhawatirkan adanya potensi untuk bentrok itu besar. Isu tersebut makin hari makin besar. Tetapi ia melihat justru keadaan di rakyat bawah  baik-baik saja.

 “Itu hanya di menengah ke atas dan elit, tetapi secara fisik tak terlalu, ya nggak sampai besar [konflik itu] yo mung mercon sithik-sithik lah. Kalau rakyat nggak ada masalah, rakyat ki dikon sengsoro wae gelem [rakyat disuruh sengsara saja mau], apalagi yang lebih dari itu. Semoga pancasila dijalankan para elit karena lahirnya pancasila itu justru dari rakyat, dan merekalah [rakyat] pelaku pancasila sejak berabad-abad lalu. Yang belum bisa berpancasila kan para pemimpinnya,” katanya

Cak Nun mengatakan konflik itu lebih banyak di medsos. Menurutnya memang seharusnya tidak perlu ditanggapi, karena pengguna medsos tidak berani berhadapan langsung. Ibaratnya, siapa yang berkonflik di medsos, hanya melempar batu dari kejauhan.

“ Konflik politik itu kelas menengah ke atas, kalau di rakyat nggak ada sama sekali, sejauh yang saya pantau. Sementara kelas menengah ke atas dan elit semua sudah lengkap aturannya, undang-undang sudah ada, masing-masing ada pembagian tugas menangani, ada KPU, Bawaslu,” katanya.