Jadwal SIM Sleman Mei 2026: Satpas, SIM Keliling, dan Layanan Malam
Jadwal SIM Sleman Mei 2026 lengkap dengan Satpas, SIM keliling, dan layanan malam Simeru di Sleman City Hall. Cek lokasi dan syarat terbaru.
Simphony Kerontjong Moeda tampil dalam Road to Keroncong Plesiran #3 di pelataran Museum Sonobudoyo, Jogja, Jumat (3/5) malam./Harian Jogja-Abdul Hamid Razak
Harianjogja.com, JOGJA—Tahun ini, Keroncong Plesiran kembali digelar dengan mengambil lokasi di di Panggung Terbuka Desa Wisata Ngelanggeran, Kecamatan Patuk, Gunungkidul, 14 September mendatang. Gelaran event yang tahun ini masuk tahun ketiga tersebut dikenalkan di pelataran Museum Sonobudoyo, Jogja, Jumat (3/5/2019) malam.
Koordinator Keroncong Plesiran Radyan Sughandi mengatakan sebelum pelaksanaan event di Nglanggeran, panitia sudah menggelar Road to Keroncong Plesiran #3 selama dua kali. Selain di Sonobudoyo, Road to Keroncong Plesiran #3 juga akan digelar di Pasar Ngasem Jogja, 25 Juni mendatang.
Kegiatan tersebut, kata dia, mendapat dukungan penuh dari Dinas Pariwisata (Dispar) DIY. "Ya, ini pemanasan dulu sebelum event digelar September nanti. Kami terus perkenalkan destinasi wisata yang ada di DIY," kata Ghandi, Jumat.
Event bergengsi tersebut digelar oleh Simphony Kerontjong Moeda, sebuah komunitas keroncong yang didominasi oleh musikus muda dengan jumlah anggota yang mencapai 60-an orang. Sebuah konsep pertunjukan orkestra musik keroncong yang berada di kawasan destinasi wisata. "Jadi keroncong diiringi musik orkestra yang disuguhkan oleh kalangan muda," katanya.
Mereka mengonsep event musik tersebut menjadi keroncong piknik (plesiran). Setiap tahun, Simphony Kerontjong Moeda menggemakan musik keroncong di destinasi wisata.
Tahun lalu mereka menggelar event di Tebing Breksi, setelah sebelumnya, pada 2017 mereka menggelar event yang sama Pasar Kakilangit, Hutan Pinus, Mangunan, Kecamatan Dlingo, Bantul. "Sambutannya luar biasa. Saat di Tebing Breksi dan Mangunan. Di Breksi bahkan ada sekitar 25.000 orang yang datang," kata Ghandi
Untuk tahun ini, katanya, panitia bakal menerapkan bea tiket masuk. Biaya dari penjualan tiket tersebut akan dijadikan merchandise bekerja sama dengan warga sekitar. “Misalnya pembeli tiket platinum akan dapat kaos dan cokelat karena di sana [Nglanggeran] terkenal juga dengan cokelatnya. Jadi kami bekerja sama dengan warga sekitar. Artinya pembelian tiket tidak bertujuan untuk kegiatan bisnis. Karena lokasi event dinilai tidak terlalu luas dengan akses yang cukup menantang, pihaknya menargetkan hanya sekitar 3.000 orang," katanya.
Kabid Pengembangan Destinasi Pariwisata, Dispar DIY Aria Nugrahadi, mengatakan pergelaran Keroncong Plesiran di kawasan destinasi wisata tidak hanya mengenalkan objek wisata tetapi juga sebagai sarana melestarikan kesenian musim keroncong di era modern. "Ini termasuk melestarikan musik keroncong karena yang terlibat anak-anak muda,” katanya.
Kegiatan tersebut akan digelar secara rutin dan lokasinya setiap tahun berpindah-pindah di objek wisata alam di DIY. Meski bertempat di alam terbuka, Keroncong Plesiran berhasil menarik minat wisatawan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jadwal SIM Sleman Mei 2026 lengkap dengan Satpas, SIM keliling, dan layanan malam Simeru di Sleman City Hall. Cek lokasi dan syarat terbaru.
Prabowo kunjungi Museum Marsinah Nganjuk, soroti sejarah buruh Indonesia dan perjuangan hak pekerja serta penghormatan pahlawan nasional.
BNNP DIY perkuat pencegahan narkoba dengan kearifan lokal dan sinergi masyarakat untuk wujudkan Yogyakarta bersih narkoba.
Kompetisi 76 Indonesian Downhill 2026 hadir lebih ekstrem di Bantul. Trek baru lebih curam, cepat, dan menantang rider elite.
Wisata Gunungkidul ramai 41.969 pengunjung saat libur panjang. PAD tembus Rp516 juta, pantai masih jadi favorit wisatawan.
Pemkab Bantul memantau harga pangan usai rupiah melemah. Sejumlah komoditas lokal masih aman, warga diminta tidak panic buying.