Perubahan Dapil Pengaruhi Perolehan Kursi di DPRD

Ilustrasi DPRD
05 Mei 2019 09:57 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, WONOSARI – Sejumlah partai politik mulai melakukan analisa terkait dengan hasil dari pelaksanaan Pemilu 2019. Salah satunya menyangkut perubahan daerah pemilihan yang berpengaruh terhadap raihan kursi di DPRD.

Sekretaris DPD Golkar Gunungkidul, Heri Nugroho mengatakan, meski belum ada keketapan dari KPU terkait dengan caleg terpilih, namun pihaknya sudah melakukan kalkukasi terkait dengan torehan kursi hasil Pemilu 2019. Menurut dia, capaian kursi yang diperoleh belum sesuai dengan harapan dan malah cenderung menurun, bila dibandingkan dengan hasil di Pemilu 2014. “Pemilu ini hanya dapat lima kursi, atau turun satu kursi dengan hasil yang diraih pemilu lima tahun lalu,” kata Heri kepada Harian Jogja, Sabtu (4/52019).

Menurut dia, menurunnya jumlah kursi yang diperoleh disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya dipengaruhi adanya perubahan dapil di Gunungkidul. Secara jumlah, memang tidak ada perubahan dibandingkan dengan Pemilu 2014. Namun, dari sisi komposisi kecamatan di dapil mengalami perubahan.

Sebagai contoh, kata Heri, di Pemilu 2014, dapil I terdiri dari tiga kecamatan meliputi Wonosari, Playen dan Semanu. Sedang di Pemilu 2019, dipecah karena dapil I hanya terdiri dari Kecamatan Wonosari dan Playen, sementara Semanu tergabung ke dapil IV bersama dengan Kecamatan Tepus, Girisubo dan Rongkop. “Kondisi ini jelas berpengaruh, seharusnya di dapil I bisa dapat dua kursi, tapi realisasinya hanya satu kursi,” katanya.

Hal tak jauh berbeda diungkapkan oleh Politikus PKS Gunungkidul, Imam Taufik. Menurut dia, perubahan komposisi dapil sangat berpengaruh terhadap raihan kursi partainya. Hal ini terlihat dari raihan kursi, di mana PKS kehilangan kursi di dapil I yang diraih di Pemilu 2014. “Sangat disayangkan karena kursi di dapil I lepas sehingga raihan kursi hanya empat,” kata Imam.

Dia mengungkapkan penyebab kegagalan dikarenakan waktu perubahan dapil yang mepet dengan pemilihan. Hal ini pun berakibat terhadap perubahan pemetaan dan di sisi lain, waktu untuk menjalankan program dan visi misi jadi kurang mendalam. “Kita kehilangan sekitar 3.000 suara karena pindahnya Kecamatan Semanu ke dapil IV sehingga kursi di dapil I terlepas. Jadi, hasil di Pemilu 2019 akan kami jadikan evaluasi untuk menyongsong pelaksanaan Pemilu 2024,” katanya.