Investasi di Gunungkidul Tembus Rp488 Miliar dalam Enam Bulan
Investasi di Gunungkidul pada semester pertama 2026 mencapai Rp487,66 miliar atau 56,8% dari target investasi tahun ini.
Dua orang petani di Desa Genjahan, Kecamatan Ponjong, menanam padi, belum lama ini. Banyaknya sumber air membuat petani di wilayah Ponjong bisa menanam padi sebanyak tiga kali dalam setahun. /Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL–Lahan pertanian di Bumi Handayani terancam kekeringan sebagai dampak menghilangnya hujan pada bulan ini. Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul mulai mendata lahan yang berpotensi mengalami kekeringan. Meski demikian, hingga saat ini belum ada laporan terkait dengan lahan terdampak.
Kepala Bidang Tanaman Pangan DPP Gunungkidul, Raharjo Yuwono, mengatakan, intensitas hujan di wilayah Gunungkidul mulai berkurang. Kondisi ini pun dapat berdampak terhadap tanaman pertanian. Oleh karenan itu, DPP bakal mendata lahan pertanian yang rawan kekeringan. “Kami siap menerjunkan petugas di lapangan. Tapi berdasarkan laporan rutin dari koordinator pengamat hama kabupaten, hingga saat ini belum ada laporan,” katanya, Minggu (12/5/2019).
Menurut dia, luas tanam di masa tanam kedua tahun ini berkurang dibandingkan dengan masa tanam pertama. Hal ini terjadi karena kondisi geografis wilayah yang mayoritas lahan kering sehingga di masa tanam kedua banyak petani yang beralih dari sebelumnya menanam padi ke tanaman palawija. “Petani memilih menanam kedelai, kacang, jagung dan tanaman lainnya. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi kurangnya air seiring dengan curah hujan yang terus menurun,” katanya.
Untuk lahan padi di masa tanam kedua ini ada sekitar 8.573 hektare yang merupakan kombinasi padi sawah dan lahan kering. Dia berharap curah hujan tetap ada sehingga petani tidak rugi karena tanaman padi kekurangan air untuk pemeliharaan. “Awal Juni nanti mungkin sudah ada yang panen, yakni lahan padi seluas 20 hektare di Desa Pundungsari, Kecamatan Semin,” kata mantan Kepala Bidang Bina Produksi DPP Gunungkidul ini.
Salah seorang petani di Dusun Genjahan, Kecamatan Ponjong, Suyamto, mengaku baru menanam padi belum lama ini. Meski demikian, ia tidak khwatir terdampak kekeringan karena wilayahnya termasuk murah air sehingga pasokan air irigasi untuk pemeliharaan mencukupi. “Air tidak masalah karena bisa mengambil dari sumber di wilayah Ponjong yang melimpah,” katanya.
Menurut dia, dalam setahun petani di Genjahan bisa menanam padi hingga tiga kali berkat pasokan air yang melimpah. Kondisi ini berbeda dengan wilayah lain di Gunungkidul yang hanya bisa menanam padi maksimal dua kali dalam setahun. “Kami bersyukur karena masa tanam padi di sini bisa tiga kali dalam setahun,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Investasi di Gunungkidul pada semester pertama 2026 mencapai Rp487,66 miliar atau 56,8% dari target investasi tahun ini.
Agustus 2026 menghadirkan hujan meteor Perseid, gerhana matahari total, konjungsi Mars dan Bulan, oposisi Saturnus, hingga supermoon. Simak jadwal lengkapnya.
Benarkah film dan drama Korea dapat memicu bunuh diri? Simak kajian tentang Werther Effect, Papageno Effect, serta pentingnya literasi media.
Bansos beras tahap kedua mulai disalurkan 17 Agustus 2026. Kopdes Merah Putih berpeluang menjadi lokasi penyaluran bagi 33,24 juta penerima.
Longsor tebing di Tanjakan Clongop Gunungkidul belum diperbaiki. Warga berharap penanganan dipercepat sebelum musim hujan tiba.
GIIAS 2026 menghadirkan sejumlah mobil baru di bawah Rp200 juta, didominasi kendaraan listrik dengan harga mulai Rp155 juta.