Fashion Show Inklusi Bikin Anak Berkebutuhan Khusus Percaya Diri

Celebrating Inclusivity with Traditional Clothing di Hotel Ayola Tasnem, Kota Jogja, Sabtu (11/5/2019). - Harian Jogja/Gigih M. Hanafi
13 Mei 2019 03:57 WIB Salsabila Annisa Azmi Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Puluhan anak-anak berkebutuhan khusus unjuk kebolehan dalam fashion show bertajuk Celebrating Inclusivity with Traditional Clothing. Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Salsabila Annisa Azmi.

Melalui pelantang, lagu Semusim ciptaan Chrisye menggema. Kaki dan tangan Myasha Hana Salma Putri Gunawan, 10, langsung bergerak-gerak untuk membuat badannya condong ke depan. Dia seakan-akan membujuk sang ibunda, Dian, 38 untuk mendorong kursi rodanya lebih cepat meluncur memasuki catwalk berwarna merah di kompleks Hotel Ayola Tasnem, Sabtu (11/5/2019).

Diiringi dengan langkah mantap yang seirama dengan alunan lagu, Dian mendampingi Mya bergaya di atas kursi rodanya. Sore itu Mya mengenakan baju tradisional bernuansa Jawa, berbahan batik berpadu kain lurik yang dijahit sendiri dengan tangan ibunya. Rambut setengah ikalnya dikucir dua dengan pengikat rambut berlapis kain batik. Wajahnya tampak berseri-seri karena riasan make up tipis.

Kepala Mya tak bisa bergerak dengan sempurna ketika dia bergaya di catwalk, tetapi sorot matanya mengedar pandang ke arah puluhan penonton yang bertepuk tangan karena penampilannya. Di ujung catwalk, Dian meraih tangan kedua anak semata wayangnya itu sambil menatap kedua mata anaknya dengan tatapan yang hangat. Perlahan-lahan, Dian menuntun tangan Mya untuk membuat pose salam hormat di hadapan para juri.

Seusai penampilan mereka, Dian membawa Mya ke sisi kanan catwalk. Udara sore itu cukup panas, Mya berkeringat cukup banyak. Dian langsung menyeka keringat yang bercucuran di dahi Mya dengan tisu basah. Sesekali, Dian tampak kesulitan untuk membersihkan keringat Mya, sebab Mya terus menggerak-gerakkan badannya ke kanan dan ke kiri.

“Dia begini itu artinya dia sangat senang. Ini adalah pertama kalinya Mya tampil dalam sebuah acara, apalagi ini fashion show. Mya kan sangat senang melihat hal-hal yang girly, terutama kalau rambutnya dikeriting dan dikucir kayak gini,” kata Dian seraya mengelus rambut anaknya.

Sejak berusia sekitar dua bulan, Mya didiagnosis mengalami Cerebral Atrophy di mana neuron dan jaringan sel saraf di dalam otaknya mengalami penyusutan. Kondisi ini membuat kognitif motorik kasar dan halus Mya terhambat. Sehingga fokus Mya terhadap sekitar pun hanya bisa bertahan selama dua hingga tiga menit. Apabila fokusnya dipaksakan, suasana hatinya akan jadi sangat buruk dan Mya bisa bersedih seharian penuh. Namun sore itu berbeda, fashion show memberi kenangan yang cukup baik di benak Mya. Setidaknya itu yang dikatakan oleh batin Dian.

“Bahasa Mya hanya bisa dipahami oleh hati saya. Bahkan sebelum acara mulai, dia sudah senang. Matanya bergerak ke sana ke mari setiap temannya yang cantik-cantik berlarian melewati Mya. Tangan Mya tadi sempat menarik salah satu temannya, artinya Mya ngajak main,” kata Dian.

Sejak didiagnosis Cerebral Atrophy, Mya baru bisa mengenali lingkungan sekitar sejak 1,5 tahun yang lalu. Maka tak mudah untuk membentuk suasana hati Mya agar bisa percaya diri dan bahagia di catwalk. Oleh karena itu, lima hari sebelum acara fashion show dimulai, Dian sudah siap dengan busana rancangannya sendiri.

Setiap pagi ketika Mya baru saja membuka mata, Dian langsung menatap kedua mata anaknya yang masih berbaring itu dengan penuh semangat. “Saya tunjukkan baju yang saya buat untuk dia, sambil saya bilang ‘adek, besok adek ikut fashion show ya, pakai baju yang mama bikin ini, terus nanti ketemu banyak teman. Besok adek pasti bisa.’ Itu saya lakukan setiap hari sampai hari H, sampai Mya semangat,” kata Dian.

Perjuangan Mya dan anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) lainnya untuk membangun semangat dan menunjukkan potensi mereka di catwalk juga diamati oleh Azka Candra Nurmala, 10. Azka yang mengenakan busana adat Bali dengan model yang disebutnya gaun putri raja itu memberikan apresiasinya kepada rekan-rekannya itu. “Mereka hebat juga ternyata. Meskipun geraknya terbatas, tetap semangat tampil. Lihat meraka aku jadi malu soalnya masih suka males, suka ngeluh, kurang bersyukur. Misalnya cuma buat ambil air minum di depan kamar saja pakai minta tolong Mama,” kata Azka.

Di akhir acara, anak-anak berkebutuhan khusus maupun non berkebutuhan khusus memperebutkan juara satu hingga tiga dan membawa pulang Piala Gubernur DIY. Sore itu acara ditutup dengan binar wajah bangga dan puas para orang tua anak-anak berkebutuhan khusus. Meski tidak menang, sore itu merupakan kesempatan emas bagi para orang tua anak berkebutuhan khusus untuk menumbuhkan rasa percaya diri pada anak mereka masing-masing.

Gelaran acara yang melibatkan anak-anak berkebutuhan khusus bersama anak-anak lainnya dapat menumbuhkan rasa percaya diri bagi orang tua anak-anak berkebutuhan khusus. Mereka juga berkesempatan melihat potensi yang dimiliki anak dan mengembangkannya secara lebih baik.

Ketua Persatuan Orang Tua Anak Dengan Down Syndrom (POTADS), Sri Rejeki Ekasasi, mengatakan apabila kebutuhan tersebut terpenuhi, anak berkebutuhan khusus dan orang tuanya akan lebih kuat menghadapi stigma masyarakat.

“Acara yang melibatkan anak-anak berkebutuhan khusus dengan anak-anak non berkebutuhan khusus ini juga memenuhi kebutuhan kami untuk menunjukkan bahwa slogan Aku Ada dan Aku Bisa itu bukan hanya sekadar kalimat. Buktinya anak-anak ini juga bisa dan eksistensi mereka diakui oleh masyarakat umum. Eksistensi yang diakui ini akan menambah kepercayaan diri anak dan orang tua di mana rasa percaya diri itu adalah kebutuhan dasar manusia,” kata Sri Rejeki.

Rasa percaya diri yang tumbuh di hati orang tua dengan anak berkebutuhan khusus tidak didapat dengan serta merta. Member Sentra Advokasi Perempuan, Difabel dan Anak (Sapda), Siti Khofifah, mengatakan orang tua anak berkebutuhan khusus membutuhkan empat fase sebelum akhirnya menerima keadaan anak mereka. Yaitu fase denial, fase angry, fase depresi dan fase bargaining.

Siti mengatakan fase depresi adalah ketika seorang ibu mendapat banyak tekanan dari keadaan anak maupun dari stigma masyarakat. Oleh karena itu fase ini disebut fase terberat. Acara unjuk bakat seperti fashion show yang melibatkan anak-anak berkebutuhan khusus dan anak-anak non berkebutuhan khusus akan membantu menghantarkan mereka ke fase selanjutnya, yaitu fase bargaining. “Fase bargaining adalah fase di mana ibu bisa menerima anak dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Fase ini harus dilalui secara alamiah, supaya sang ibu dapat mencari solusi untuk anaknya sehingga potensi anak bisa lebih mudah dikenali dan dikembangkan lagi,” kata Siti.