Awal Kemarau, BPBD Bantul Sudah Terima Permohonan dari Masayarakat

Sejumlah warga mengantre untuk mendapatkan jatah air bersih. - Harian Jogja/Desi Suryanto
15 Mei 2019 16:17 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul mulai menerima permohonan distribusi air bersih dari masyarakat yang terdampak kekeringan sebagai imbas dari musim kemarau.

"Sudah ada permohonan suplai air bersih dari wilayah Segoroyoso dan sudah kami kirim dua tangki," kata Kepala Pelaksana BPBD Bantul, Dwi Daryanyo, Rabu (14/5/2019).

Dia mengatakan dari dua tangki air yang dikirim masing-masing tangki berkapasitas 5.000 liter. Sejauh ini, kata dia proses pengiriman air bersh tidak ada persoalan.

Bahkan dua unit armada dan petugas yang mengantarkan siap siaga jika sewaktu-waktu warga membutuhkan suplai air bersih. Bahkan jika waktu tempuh terlalu jauh BPBD Bantul akan bekerja sama dengan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) terkait dengan pemanfaatan air sari sumur milik PDAM.

Meski dana distribusi air bersih tahun ini tidak terlalu banyak, namun Dwi optimistis mampu menangani kekeringan di Bantul. Dia mengatakan dana distribusi air bersih tahun ini hanya Rp100 juta. "Selain dari BPBD, pengedropan air bersih biasanya ada sari Dinas Sosial, perusahaan baik BUMN dan BUMD maupun swasta," kata Dwi.

Sejumlah lokasi yang menjadi langganan kekeringan pun ia prediksi tidak beda jauh dengan tahun-tahun sebelumnya. Beberapa wilayah yang mengalami kekeringan ada kemarau tahun lalu di antaranya adalah Imogiri, Piyungan, Dlingo, Pleret, dan Pundong.

Musim Kemarau

Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) DIY, musim kemaraun sudah dimulai untuk sebagian wilayah di DIY. Sementara puncak kemarau akan terjadi asa Juli-Agustus mendatang.

Kepala Kelompok Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi DIY, Etik Setyaningrum mengatakan secara umum iklim di akhir April hingga pertengahan Mei ini untuk wilayah DIY , beberapa tempat sudah ada yg memasuki awal musim kemarau seperti Gunungkidul bagian selatan. Hal tersebut terlihat dari hasil monitoring hari tanpa hujan (HTH).

"Hasil monitoring hari tanpa hujan, di sebagian besar wilayah Gunungkidul bagian selatan sudah tidak ada hujan dalam kurun waktu 20-30 hari ini. Untuk wilayah DIY bagian tengah dan utara diprediksi pada pertengahan hingga akhir Mei ini sudah akan memasuk musim kemarau," kata Etik.

Etik mengayakan awal musim kemarau ini rata-rata curah hujan bulanan di DIY hanya berkisar 50-100 milimeter, termasuk kategori rendah. Sehingga secara keseluruhan kondisi musim kemarau di DIY akan terjadi secara bertahap dimulai dari akhir April hingga akhir Mei ini.

Menurut Etik, kemarau tahun ini secara periodik akan menguat setiap bulannya dan masuk puncaknya musim kemarau Juli-Agustus 2019 dengan rata-rata suku maksimum mencapai 32-33 derajat Celcius.

Untuk itu dia mengimbau masyarakat agar mulai mempersiapkan diri seperti mulai menghemat air, menjaga kesehatan terutama siang hari yang cukup panas, mengurangi aktivitas di luar ruangan. “Selain itu petani juga diminta mulai mempersiapkan pola tanam yg sesuai iklim kemarau agar tidak mengalami gagal panen,” kata dia.